Pagi itu matahari baru naik di ufuk timur Kepulauan Kei. Di sebuah desa kecil di Kei Kecil Timur Selatan, Maluku Tenggara, sekelompok nelayan, ibu rumah tangga, perangkat desa, dan mahasiswa duduk melingkar di bawah teduh pohon kelapa. Di hadapan mereka terbentang peta desa yang dipenuhi warna dan tanda. Ada garis sempadan pantai yang mulai tergerus abrasi. Ada lokasi sumber air yang mulai berkurang debitnya saat kemarau. Ada jalur evakuasi bencana yang baru disepakati warga. Di sisi lain terdapat titik-titik penanaman mangrove yang diharapkan menjadi benteng alami menghadapi kenaikan muka laut.
Peta itu bukan dibuat oleh konsultan dari kota besar atau lembaga internasional. Ia lahir dari percakapan panjang warga desa dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada. Sebuah praktik sederhana yang sesungguhnya menggambarkan bagaimana masyarakat di wilayah terdepan Indonesia sedang membangun ketahanan menghadapi perubahan iklim.

Di tempat-tempat seperti Kei Kecil, Kepulauan Sangihe, dan puluhan kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) lainnya, perubahan iklim bukan lagi sekadar statistik dalam laporan ilmiah. Ia hadir sebagai kenyataan sehari-hari. Nelayan semakin sulit memprediksi musim tangkap. Petani menghadapi pola hujan yang berubah. Warga pesisir menyaksikan garis pantai mundur sedikit demi sedikit. Di beberapa lokasi, sumber air tawar yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan masyarakat mulai terancam intrusi air laut. ,
Fenomena global yang selama ini dibicarakan dalam forum-forum internasional ternyata paling keras dirasakan oleh mereka yang hidup di garis depan geografis Indonesia.
Dalam webinar bertajuk“Kesiapsiagaan Dampak El Niño: Memperkuat Ketahanan Kesehatan, Pangan, dan Masyarakat Indonesia” yang diselenggarakan PP KAGAMA bersama Universitas Gadjah Mada pada Juli 2026, Prof. Ir. Leni Sophia Heliani, S.T., M.Sc., D.Sc., IPU., mengingatkan bahwa krisis iklim harus dipahami bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, melainkan juga persoalan sosial, ekonomi, kesehatan, serta ketahanan nasional. ,
Pengalaman mendampingi KKN-PPM UGM di berbagai wilayah 3T selama bertahun-tahun membawa Prof. Leni pada satu kesimpulan penting. Adaptasi iklim tidak dapat dibangun hanya melalui kebijakan dari atas. Ketangguhan harus tumbuh bersama masyarakat, berangkat dari kebutuhan nyata, menggunakan potensi lokal, dan dijalankan secara berkelanjutan. ,
Beranda Negara yang Rentan
Wilayah 3T memiliki makna strategis bagi Indonesia. Kawasan-kawasan ini merupakan beranda negara yang berbatasan langsung dengan negara lain, sekaligus menyimpan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Laut yang kaya ikan, kawasan pesisir yang indah, hutan tropis, pertanian lahan kering, hingga keragaman budaya menjadi aset yang tidak ternilai. ,
Namun posisi strategis tersebut diikuti oleh kerentanan yang tidak kecil.

Banyak wilayah 3T masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar, akses pendidikan dan kesehatan, konektivitas transportasi, layanan energi, serta kapasitas kelembagaan lokal. Ketika perubahan iklim datang membawa ancaman baru berupa kenaikan muka laut, cuaca ekstrem, kekeringan, abrasi, banjir rob, dan gangguan pangan, kerentanan tersebut menjadi berlipat ganda. ,
Fenomena El Niño memperlihatkan bagaimana dampak iklim dapat merembet ke berbagai aspek kehidupan. Berkurangnya curah hujan menyebabkan sumber air semakin terbatas. Produksi pertanian menurun. Risiko kebakaran lahan meningkat. Ketika kondisi itu berlangsung dalam waktu panjang, yang terdampak bukan hanya lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan stabilitas sosial. ,
Karena itu, pendekatan pembangunan tidak lagi cukup berfokus pada peningkatan infrastruktur semata. Yang dibutuhkan adalah pembangunan kapasitas adaptasi masyarakat.
Desa sebagai Laboratorium Hidup
Berangkat dari kesadaran tersebut, UGM mengembangkan pendekatan yang disebut sebagai living laboratory atau laboratorium hidup adaptasi iklim. Dalam pendekatan ini, desa tidak ditempatkan sebagai objek penerima program, melainkan sebagai ruang belajar bersama. ,
Mahasiswa, dosen, pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat, KAGAMA, dan berbagai mitra pembangunan hadir dalam satu ekosistem kolaborasi. Mereka bersama-sama mengidentifikasi permasalahan, memetakan risiko, merancang solusi, mengimplementasikan program, melakukan evaluasi, serta menyusun strategi keberlanjutan. ,
Yang menarik, dalam proses tersebut ilmu pengetahuan modern tidak datang untuk menggantikan pengetahuan lokal. Sebaliknya, keduanya dipertemukan.
Pengalaman nelayan membaca arah angin, pengetahuan masyarakat mengenai musim, praktik tradisional menjaga sumber air, hingga kearifan lokal dalam pengelolaan lahan menjadi bagian dari solusi. Teknologi dan pendekatan ilmiah kemudian berfungsi memperkuat dan mengembangkan pengetahuan tersebut agar lebih adaptif menghadapi tantangan baru. ,
Menurut Prof. Leni, inilah esensi dari pembangunan berbasis masyarakat. Ketika warga menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan, mereka tidak hanya menerima program, tetapi ikut memiliki dan menjaga keberlanjutannya. ,
Membangun Ketangguhan dari Empat Pilar
Pengalaman KKN-PPM UGM menunjukkan bahwa ketangguhan masyarakat terhadap perubahan iklim tidak dapat dibangun secara parsial. Resiliensi harus dikembangkan melalui sedikitnya empat dimensi utama: ketahanan ekologis, ketahanan sosial, ketahanan ekonomi, dan ketahanan tata kelola.
Ketahanan ekologis diwujudkan melalui upaya menjaga fungsi lingkungan. Penanaman mangrove, rehabilitasi vegetasi pantai, pengelolaan sampah, pemetaan sumber air, hingga perlindungan kawasan pesisir menjadi bagian dari strategi ini.

Ketahanan sosial dibangun melalui pendidikan iklim, peningkatan literasi masyarakat, penguatan budaya lokal, revitalisasi ruang belajar, serta pengembangan kader-kader lokal yang mampu menjadi agen perubahan. ,
Ketahanan ekonomi diwujudkan melalui diversifikasi sumber penghidupan masyarakat. Warga didorong mengembangkan usaha berbasis potensi lokal, mulai dari pengolahan hasil laut, produk pangan lokal, tanaman herbal, UMKM, hingga wisata edukatif. Ketika satu sektor terdampak perubahan iklim, masyarakat masih memiliki alternatif penghidupan lain yang dapat menopang ekonomi keluarga. ,
Adapun ketahanan tata kelola dibangun melalui penguatan kelembagaan desa, penyusunan basis data pembangunan, peta risiko, rencana aksi desa, hingga pembentukan kelompok kerja yang dapat memastikan keberlanjutan program. ,
Pelajaran dari Kei Kecil
Kei Kecil Timur Selatan menjadi contoh bagaimana pendekatan lintas disiplin diterapkan secara nyata.
Wilayah ini menghadapi berbagai ancaman iklim, mulai dari abrasi, kenaikan muka laut, hujan yang semakin tidak menentu, kekeringan, hingga potensi banjir rob. Untuk menjawab tantangan tersebut, mahasiswa dari berbagai klaster ilmu terlibat dalam serangkaian program yang saling terhubung.
Klaster saintek mengembangkan pemetaan risiko berbasis spasial dan teknologi tepat guna. Klaster agro mendorong diversifikasi pangan lokal serta pembibitan tanaman. Klaster kesehatan memperkuat perilaku hidup bersih dan sehat. Klaster humaniora mendukung pendidikan masyarakat, revitalisasi perpustakaan, serta penguatan budaya lokal.

Mahasiswa juga mengembangkan pemanfaatan limbah batok kelapa menjadi arang briket. Selain mengurangi limbah, inovasi tersebut membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat. Penanaman mangrove dilakukan untuk mengurangi dampak abrasi sekaligus menjaga ekosistem pesisir. Sementara edukasi perubahan iklim diberikan kepada berbagai kelompok masyarakat dengan pendekatan yang sederhana dan kontekstual. ,
Semua kegiatan tersebut diarahkan pada satu tujuan yang sama: menciptakan masyarakat pesisir yang lebih tangguh, sehat, produktif, dan mampu beradaptasi menghadapi perubahan iklim. ,
Pendidikan Iklim yang Membumi
Salah satu temuan penting dari pengalaman panjang KKN-PPM adalah bahwa masyarakat sebenarnya merasakan dampak perubahan iklim, tetapi tidak selalu memahami penyebabnya. Banyak warga menyadari musim berubah atau cuaca semakin sulit diprediksi, namun belum menghubungkannya dengan fenomena perubahan iklim global.
Karena itu, pendidikan iklim menjadi fondasi utama.

Di Sangihe maupun Kei Kecil, materi perubahan iklim diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dipahami. Isu global diterjemahkan menjadi persoalan sehari-hari: mengapa sumber air berkurang, mengapa gelombang semakin tinggi, mengapa hasil tangkapan ikan berubah, atau mengapa suhu terasa semakin panas. ,
Pendidikan dilakukan melalui sekolah lapangan, diskusi warga, permainan edukatif, modul pembelajaran, poster, video pendek, pelatihan kelompok PKK, pendampingan pemuda, hingga pembelajaran untuk siswa SD dan SMP. Tujuannya bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan mengubah perilaku. ,
Adaptasi iklim pada akhirnya dimulai dari hal-hal sederhana: menghemat air, menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah secara bijak, menjaga ekosistem, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana. ,
Merajut Masa Depan dari Tapal Batas
Keberhasilan KKN-PPM tidak diukur dari jumlah spanduk yang terpasang atau banyaknya kegiatan seremonial yang terlaksana. Ukuran keberhasilannya adalah apa yang tertinggal setelah mahasiswa pulang. Apakah masyarakat memiliki data yang lebih baik? Apakah muncul kader-kader lokal? Apakah kelompok masyarakat tetap aktif? Apakah praktik-praktik adaptasi terus berlangsung? ,
Jika jawabannya ya, maka benih resiliensi telah tumbuh.
Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, pengalaman KKN-PPM UGM menunjukkan bahwa ketahanan bangsa sesungguhnya sedang dibangun dari desa-desa kecil di tapal batas negeri. Dari Sangihe di utara hingga Kei Kecil di timur, masyarakat membuktikan bahwa adaptasi bukan sekadar konsep akademik. Ia adalah praktik kehidupan sehari-hari yang dirajut melalui pengetahuan, gotong royong, inovasi, dan kolaborasi.
Benteng pertahanan Indonesia terhadap krisis iklim tidak hanya berada di pusat-pusat pemerintahan atau ruang rapat pengambil kebijakan. Benteng itu tumbuh di desa-desa pesisir, di pulau-pulau terluar, dan di komunitas yang setiap hari belajar menghadapi perubahan.
Seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman KKN-PPM UGM, resiliensi bukanlah sesuatu yang dibangun dalam semalam. Ia dirajut perlahan, dari partisipasi, kearifan lokal, ilmu pengetahuan, dan kepedulian bersama. Dan dari tempat-tempat yang paling jauh dari pusat kekuasaan itulah, masa depan ketangguhan Indonesia sedang disusun.
