Oleh : Galeh Primadani
KONAWE SELATAN – Di setiap sudut negeri tempat mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengabdi, selalu ada satu nilai yang diwariskan lintas generasi dan tidak pernah lekang oleh waktu, yaitu semangat kekeluargaan. Nilai inilah yang menjadikan KKN-PPM UGM bukan sekadar program akademik, melainkan perjalanan pengabdian yang mempertemukan ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan persaudaraan dalam satu ikatan yang utuh. Filosofi “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” bukan hanya ungkapan, tetapi menjadi napas yang terus hidup di tengah keluarga besar UGM.
Semangat tersebut kembali diwujudkan melalui kegiatan monitoring program kerja dan silaturahmi yang dilaksanakan KAGAMAHUT Sulawesi Tenggara, yang juga mengemban amanah sebagai Satgas KKN-PPM UGM, berkolaborasi dengan KAGAMA, dengan mengunjungi adik-adik mahasiswa KKN-PPM UGM Unit PesoNAMU yang tengah melaksanakan pengabdian di Desa Batujaya dan Desa Namu, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan.
Kunjungan ini bukan sekadar memastikan program kerja berjalan sesuai rencana. Lebih dari itu, kehadiran para alumni menjadi wujud nyata solidaritas, kepedulian, dan tanggung jawab moral keluarga besar Universitas Gadjah Mada kepada generasi penerusnya. Para alumni ingin memastikan bahwa setiap mahasiswa dapat menjalankan pengabdian dengan rasa aman, nyaman, dan penuh semangat, karena mereka mengetahui bahwa di mana pun berada, selalu ada keluarga besar UGM yang siap membersamai.

Di tengah hangatnya suasana kekeluargaan, para alumni berdiskusi bersama mahasiswa mengenai perkembangan program kerja, berbagai dinamika yang dihadapi di lapangan, hingga pengalaman hidup bersama masyarakat yang menjadi pelajaran berharga selama KKN. Tidak ada jarak antara alumni dan mahasiswa. Yang hadir adalah rasa saling memiliki, saling menguatkan, dan saling menjaga, sebagaimana sebuah keluarga besar yang percaya bahwa setiap tantangan akan terasa lebih ringan ketika dihadapi bersama.
Ketua KAGAMAHUT Pengurus Daerah Sulawesi Tenggara sekaligus Alumni Fakultas Kehutanan UGM Angkatan 1995, Ilmarsyah Agus Sudoyo Dongge, menegaskan bahwa mendampingi mahasiswa KKN merupakan panggilan hati yang lahir dari nilai-nilai ke-UGM-an yang telah diwariskan sejak lama.
“Adik-adik mahasiswa KKN adalah bagian dari keluarga besar Universitas Gadjah Mada. Karena itu, sudah menjadi tanggung jawab kami untuk memastikan mereka dapat menjalankan pengabdian dengan tenang, aman, dan nyaman. Kami ingin mereka merasakan bahwa sejauh apa pun mereka ditempatkan, mereka tidak pernah sendiri. Filosofi yang kami pegang sederhana, yaitu berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Apa yang menjadi tantangan mahasiswa adalah tanggung jawab kita bersama sebagai keluarga besar UGM,” ujar Ilmarsyah.
Menurutnya, kehadiran alumni di lokasi KKN bukan hanya untuk memantau capaian kegiatan, tetapi juga untuk memberikan dukungan moral agar mahasiswa tetap percaya diri dalam menjalankan setiap proses pengabdian.

Hal senada disampaikan oleh Hillarius Erwin Dwihantoni, Alumni Fakultas Kehutanan UGM Angkatan 2008. Ia mengatakan bahwa para alumni memahami betul bagaimana dinamika kehidupan mahasiswa selama menjalani KKN karena pernah merasakan pengalaman yang sama.
“Kami pernah menjadi mahasiswa KKN, sehingga memahami bagaimana rasanya tinggal jauh dari keluarga, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan menghadapi tantangan di lapangan. Karena itu kami ingin hadir bukan hanya sebagai alumni, tetapi sebagai kakak bagi adik-adik kami. Semoga kehadiran ini menjadi penyemangat agar mereka terus mengabdi dengan hati dan menyelesaikan seluruh rangkaian KKN dengan penuh kebanggaan,” ungkapnya.
Sementara itu, Syahbudin Budi menyampaikan apresiasinya terhadap kekompakan mahasiswa Unit PesoNAMU yang mampu membangun hubungan harmonis dengan masyarakat serta pemerintah desa.
“Kami melihat semangat gotong royong yang luar biasa. Masyarakat menerima mahasiswa sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri. Inilah keberhasilan yang sesungguhnya. Program kerja memang akan selesai, tetapi hubungan baik yang terjalin dengan masyarakat akan menjadi warisan yang nilainya jauh lebih besar daripada angka-angka capaian kegiatan,” tuturnya.

Hal yang sama disampaikan Endro Febrianto, yang berharap ikatan persaudaraan yang terbangun selama KKN terus terpelihara setelah mahasiswa kembali ke kampus.
“KKN akan berakhir, tetapi persaudaraan tidak boleh berakhir. Kami berharap adik-adik tetap menjaga silaturahmi dengan masyarakat, pemerintah desa, dan keluarga besar alumni. Karena keluarga besar UGM akan selalu menjadi rumah yang terbuka, tempat saling belajar, saling menguatkan, dan saling mengingatkan untuk terus mengabdi kepada bangsa dan negara,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, rombongan alumni juga bersilaturahmi dengan perangkat Desa Batujaya dan Desa Namu untuk memperkuat sinergi dalam mendukung pelaksanaan KKN. Pemerintah desa menyampaikan apresiasi atas dedikasi mahasiswa yang mampu beradaptasi dengan masyarakat serta menghadirkan berbagai program yang memberikan manfaat nyata bagi desa.
Sebagai bagian dari komitmen terhadap pelestarian lingkungan, kegiatan ini turut dirangkaikan dengan penyerahan bibit Ketapang Kencana dan Sengon kepada pemerintah desa. Penyerahan bibit tersebut menjadi simbol bahwa pengabdian tidak berhenti pada selesainya masa KKN, tetapi terus bertumbuh melalui pohon-pohon yang kelak memberikan keteduhan, menjaga kelestarian lingkungan, dan menjadi manfaat bagi generasi mendatang.
Hasil monitoring menunjukkan capaian yang sangat membanggakan. Hingga saat ini, seluruh program kerja utama KKN-PPM UGM Unit PesoNAMU telah terealisasi 100 persen. Keberhasilan tersebut merupakan buah dari kerja keras mahasiswa, dukungan masyarakat, pemerintah desa, serta pendampingan keluarga besar alumni yang terus membersamai sejak awal pelaksanaan KKN.

Kini, rangkaian pengabdian hanya menyisakan satu agenda puncak, yakni Festival Budaya yang akan diselenggarakan pada pekan mendatang. Festival ini diharapkan menjadi ruang perayaan kebersamaan, pelestarian budaya lokal, sekaligus ungkapan syukur atas perjalanan pengabdian yang telah dilalui bersama masyarakat.
Kegiatan monitoring ini menjadi pengingat bahwa KKN-PPM UGM bukan hanya tentang menyelesaikan target program, tetapi tentang membangun manusia yang memiliki empati, kepedulian, dan jiwa gotong royong. Ketika alumni hadir untuk mendampingi mahasiswa, ketika masyarakat membuka pintu rumahnya untuk menerima mahasiswa sebagai keluarga, dan ketika pemerintah desa berjalan berdampingan dalam setiap proses pengabdian, saat itulah nilai-nilai Universitas Gadjah Mada menemukan makna yang sesungguhnya.
Karena pada akhirnya, pengabdian terbaik lahir dari kebersamaan. Selama semangat “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” terus menjadi pegangan, adik-adik KKN-PPM UGM Unit PesoNAMU akan selalu melangkah dengan keyakinan bahwa di mana pun mereka mengabdi, mereka tidak pernah sendiri. Selalu ada keluarga besar Universitas Gadjah Mada yang hadir untuk menguatkan langkah, menjaga semangat, dan membersamai setiap jejak pengabdian hingga tuntas.

Jadilah yang pertama untuk berkomentar