Rilis Tukik Merdeka, Menanam Kepedulian Lingkungan dari Pesisir Bantul

BANTUL, KAGAMA – Senja perlahan turun di Pantai Goa Cemara, Sanden, Bantul, Minggu (16/8/2026). Di hamparan pasir pesisir selatan Yogyakarta itu, ratusan pasang mata anak-anak mengikuti langkah-langkah kecil tukik yang bergerak menuju debur ombak Samudra Hindia.

Sebanyak 150 ekor tukik dilepas ke habitat alaminya dalam kegiatan Rilis Tukik Merdeka 2026 yang diselenggarakan Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (PP KAGAMA) bersama KAGAMA Bantul. Kegiatan yang berlangsung pukul 15.30 hingga 17.30 WIB itu diikuti sekitar 100 anak usia 5-15 tahun beserta orang tua pendamping, pengurus KAGAMA DIY, KAGAMA Bantul, serta tamu undangan dari Pemerintah Kabupaten Bantul.

Hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul, Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bantul, perwakilan Bappeda Bantul, serta Direktur Direktorat Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni (DKIA) Universitas Gadjah Mada yang mewakili Rektor UGM.

Ketua KAGAMA Bantul dalam sambutannya mengatakan bahwa konservasi lingkungan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda. Menurut dia, kegiatan pelepasan tukik menjadi sarana efektif untuk mengenalkan nilai kepedulian lingkungan kepada anak-anak melalui pengalaman langsung di lapangan.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal penyu dari buku atau layar gawai, tetapi melihat langsung bagaimana kehidupan satwa ini harus dijaga bersama. Kesadaran lingkungan harus ditanamkan sejak dini,” ujarnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul mengapresiasi kolaborasi yang dibangun KAGAMA bersama masyarakat pesisir dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan. Menurut dia, konservasi tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga memperkuat daya tarik wisata berbasis lingkungan yang berkembang di kawasan pesisir Bantul.

Pantai Goa Cemara selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan ekowisata di Bantul yang mengembangkan program konservasi penyu, pelestarian vegetasi pesisir, dan edukasi lingkungan bagi masyarakat. Kelompok Konservasi Penyu Mino Raharjo bersama masyarakat setempat telah mengembangkan berbagai program penyelamatan telur penyu, penetasan hingga pelepasliaran tukik secara berkelanjutan di kawasan tersebut.

Sementara itu, Direktur DKIA UGM yang mewakili Rektor UGM menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, komunitas, masyarakat, dan pemerintah dalam menjawab tantangan pelestarian lingkungan.

Menurut dia, penguatan karakter generasi muda tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang membangun kepedulian sosial dan ekologis.

“Kegiatan seperti ini menghadirkan pembelajaran yang utuh. Anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman dan empati terhadap lingkungan hidup,” katanya.

Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan simbolis bibit pandan laut kepada perwakilan Kelompok Konservasi Penyu Mino Raharjo sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian ekosistem pesisir dan habitat penyu di Pantai Goa Cemara. Tanaman pandan laut memiliki fungsi penting dalam menjaga kestabilan kawasan pantai, membantu mengurangi abrasi, mengikat pasir, serta mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir. Program konservasi pandan laut juga telah menjadi bagian dari model ekowisata dan pendidikan lingkungan yang dikembangkan di Pantai Goa Cemara.

Momentum edukatif semakin terasa ketika peserta mengikuti sesi konservasi yang disampaikan Dr. Agung Budiantoro, S.Si., M.Si., alumni Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada sekaligus pegiat konservasi penyu. Dalam suasana santai namun interaktif, ia mengajak anak-anak memahami siklus hidup penyu, mulai dari proses bertelur, menetas menjadi tukik, hingga perjalanan panjang kembali ke lautan.

Agung menjelaskan bahwa penyu merupakan satwa yang menghadapi berbagai ancaman, mulai dari pencemaran laut akibat sampah plastik, perburuan telur, kerusakan habitat pantai, hingga dampak perubahan iklim. Karena itu, upaya konservasi harus dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan masyarakat luas.

Menurut dia, kegiatan pelepasan tukik bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan media pendidikan lingkungan yang efektif bagi generasi muda.

“Hari ini anak-anak tidak hanya melepas tukik, tetapi juga melepas harapan agar laut Indonesia tetap sehat dan lestari pada masa depan,” ujar Agung.

Ia juga mengajak peserta membiasakan perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menjaga kebersihan pantai, dan melestarikan vegetasi pesisir. Sejumlah peserta tampak antusias mengajukan pertanyaan mengenai kemampuan penyu bermigrasi jarak jauh, proses penetasan telur, hingga peluang tukik bertahan hidup setelah kembali ke laut.

Setelah sesi edukasi, anak-anak bersama orang tua pendamping, pengurus KAGAMA, perwakilan Pemerintah Kabupaten Bantul, dan anggota Kelompok Konservasi Penyu Mino Raharjo melakukan penanaman pandan laut di kawasan pesisir. Kegiatan ini menegaskan bahwa pelestarian penyu tidak dapat dipisahkan dari perlindungan habitatnya. Menjaga vegetasi pantai berarti menjaga ruang hidup yang menopang keberlangsungan berbagai spesies pesisir.

Menurut Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat dan Pelestarian Lingkungan PP KAGAMA, Sulastama Raharja, yang juga menjadi penanggung jawab kegiatan, Rilis Tukik Merdeka dirancang bukan sekadar sebagai bagian dari peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, melainkan sebagai gerakan edukasi dan aksi nyata konservasi yang melibatkan keluarga, komunitas, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat pesisir.

Ia menjelaskan bahwa pelestarian lingkungan membutuhkan pendekatan jangka panjang yang dimulai dari pembentukan karakter generasi muda. Karena itu, keterlibatan anak-anak dalam kegiatan konservasi dinilai sangat strategis untuk menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini.

“Kami ingin anak-anak mengalami sendiri proses belajar di alam. Ketika mereka menanam pandan laut, memahami pentingnya menjaga habitat pesisir, lalu melepas tukik ke laut, mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan lingkungan yang kelak akan mereka jaga,” kata Sulastama.

Menurut dia, kawasan pesisir selatan Yogyakarta menghadapi berbagai tantangan, mulai dari abrasi pantai, pencemaran sampah, tekanan aktivitas manusia, hingga dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Oleh karena itu, upaya pelestarian habitat pesisir tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah, masyarakat, komunitas konservasi, dunia pendidikan, dan sektor swasta.

Sulastama menilai kehadiran KAGAMA dalam kegiatan tersebut merupakan wujud pengabdian alumni UGM kepada masyarakat sekaligus kontribusi nyata terhadap agenda pembangunan berkelanjutan. Sebagai organisasi alumni yang memiliki jejaring luas di berbagai sektor, KAGAMA memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mendorong lahirnya gerakan-gerakan sosial yang memberikan manfaat langsung bagi lingkungan dan masyarakat.

“KAGAMA tidak hanya ingin hadir dalam diskusi atau wacana mengenai lingkungan hidup, tetapi juga terlibat langsung dalam aksi nyata di lapangan. Rilis Tukik Merdeka merupakan salah satu bentuk sumbangsih kami untuk mendukung konservasi penyu, menjaga ekosistem pesisir, dan membangun budaya peduli lingkungan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap Rilis Tukik Merdeka dapat menjadi agenda tahunan yang terus berkembang dengan melibatkan lebih banyak peserta, sekolah, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya. Melalui kegiatan yang berkesinambungan, upaya konservasi di Pantai Goa Cemara diharapkan tidak hanya berdampak pada kelestarian penyu dan habitat pesisir, tetapi juga menciptakan generasi muda yang memiliki kesadaran lingkungan yang kuat.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi tradisi baik yang terus tumbuh setiap tahun. Semangat kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai mengenang perjuangan para pendiri bangsa, tetapi juga sebagai tanggung jawab bersama untuk menjaga warisan alam Indonesia agar tetap lestari bagi generasi mendatang,” kata Sulastama.

Menjelang matahari tenggelam, puncak acara pun dimulai. Sebanyak 150 tukik ditempatkan di garis pantai. Dengan penuh kehati-hatian, anak-anak melepaskan tukik-tukik itu menuju ombak. Sesekali terdengar sorak gembira ketika tukik berhasil melewati hamparan pasir dan mencapai bibir laut.

Pemandangan sederhana itu mengandung pesan besar tentang keberlanjutan. Di tengah tantangan perubahan iklim, pencemaran laut, dan kerusakan ekosistem pesisir, pelepasan tukik menjadi simbol harapan sekaligus pengingat bahwa kelestarian lingkungan hanya dapat terjaga melalui kepedulian kolektif.

Rilis Tukik Merdeka 2026 pada akhirnya bukan sekadar peristiwa pelepasliaran 150 anak penyu ke habitat alaminya. Dari pesisir selatan Bantul, kegiatan itu menanam benih kesadaran pada generasi muda bahwa kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan mengenang masa lalu, tetapi juga diwujudkan melalui tanggung jawab menjaga warisan alam Indonesia untuk masa depan. Melalui langkah-langkah kecil tukik yang bergerak menuju laut senja itu, terselip harapan besar tentang masa depan pesisir yang lebih lestari dan generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan.