Semangat pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat kembali bergema dari Kampung Bakaro, Distrik Manokwari Timur, Kabupaten Manokwari. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Remu Ransiki bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar pelatihan teknik menyambung bibit tanaman yang dirangkaikan dengan pembagian ratusan bibit buah unggul kepada masyarakat. Kegiatan ini menjadi wujud nyata sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam mendorong peningkatan kapasitas masyarakat sekaligus menumbuhkan budaya menanam sebagai fondasi pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.
Sejak pagi, suasana Kampung Bakaro dipenuhi antusiasme warga yang datang untuk mengikuti pelatihan. Sebanyak 20 orang masyarakat berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang dirancang tidak hanya sebagai forum berbagi pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang belajar bersama. Peserta memperoleh pemahaman mengenai teknik menyambung bibit, mulai dari pemilihan batang bawah dan entres yang berkualitas, proses penyambungan yang benar, hingga perawatan bibit agar mampu tumbuh sehat dan menghasilkan tanaman yang unggul.
Teknik sambung bibit merupakan salah satu metode perbanyakan vegetatif yang memiliki banyak keunggulan karena mampu menghasilkan tanaman yang lebih cepat berbuah, memiliki kualitas produksi yang lebih baik, serta lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan. Melalui pelatihan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu menanam, tetapi juga memiliki keterampilan untuk memproduksi bibit unggul secara mandiri sehingga dapat menjadi peluang usaha sekaligus mendukung penghijauan di lingkungan sekitar.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap gerakan penghijauan, BPDAS Remu Ransiki membagikan 200 batang bibit tanaman buah unggul yang terdiri atas mangga, jambu kristal, matoa, rambutan, dan durian. Bibit-bibit tersebut diserahkan kepada masyarakat untuk ditanam di pekarangan rumah maupun lahan produktif yang dimiliki warga. Lebih dari sekadar bantuan tanaman, bibit-bibit tersebut diharapkan menjadi awal tumbuhnya ruang-ruang hijau baru yang mampu memberikan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat Kampung Bakaro.

Kehangatan kegiatan semakin terasa dengan hadirnya Kepala BPDAS Remu Ransiki, Zayinul Farhi, alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1997, yang turun langsung mendampingi masyarakat. Bersama Danang Jatmiko Wahyu Wijaya, alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 2002, keduanya membaur tanpa sekat di tengah warga. Mereka tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga ikut mempraktikkan teknik penyambungan bibit, berdialog dengan masyarakat, serta mendengarkan berbagai aspirasi terkait pengembangan tanaman buah dan upaya pelestarian lingkungan di Kampung Bakaro.
Kebersamaan tersebut mencerminkan semangat pengabdian yang menjadi ruh kolaborasi antara BPDAS Remu Ransiki dan KKN-PPM UGM. Tidak ada jarak antara pemimpin, mahasiswa, dan masyarakat. Semua bekerja berdampingan, saling belajar, saling berbagi pengalaman, dan bersama-sama menanam harapan bagi masa depan lingkungan yang lebih baik.
Dalam sambutannya, Zayinul Farhi menegaskan bahwa keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga oleh keterlibatan aktif masyarakat dalam merawat dan mengembangkan tanaman tersebut hingga memberikan manfaat nyata.
“Pelestarian lingkungan harus dimulai dari masyarakat. Oleh karena itu, kami tidak hanya membagikan bibit, tetapi juga menghadirkan pelatihan agar masyarakat memiliki keterampilan untuk menghasilkan bibit unggul secara mandiri. Harapan kami, ilmu yang diperoleh hari ini akan terus berkembang dan menjadi bekal untuk membangun lingkungan yang lebih hijau sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ujar Zayinul Farhi.
Ia menambahkan bahwa pendekatan pemberdayaan masyarakat merupakan kunci keberhasilan dalam menjaga keberlanjutan fungsi daerah aliran sungai dan kelestarian lingkungan. Menurutnya, ketika masyarakat memiliki pengetahuan, keterampilan, dan rasa memiliki terhadap tanaman yang mereka tanam, maka keberhasilan rehabilitasi tidak berhenti pada seremoni penanaman, tetapi benar-benar berlanjut hingga pohon-pohon tersebut tumbuh dan memberikan manfaat.
Sementara itu, Danang Jatmiko Wahyu Wijaya menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa KKN-PPM UGM dalam kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat tidak hanya menjadi sarana berbagi ilmu, tetapi juga kesempatan untuk belajar dari pengalaman dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Papua.
“KKN merupakan ruang kolaborasi yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa dapat belajar langsung dari kehidupan masyarakat, sementara masyarakat memperoleh tambahan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kolaborasi inilah yang akan melahirkan perubahan yang berkelanjutan,” tutur Danang.

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa KKN-PPM UGM juga aktif mendampingi peserta dalam setiap tahapan praktik, mulai dari proses penyambungan bibit hingga teknik perawatan setelah penyambungan. Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian masyarakat dalam mengembangkan tanaman buah unggul sekaligus mendorong pemanfaatan lahan pekarangan sebagai ruang produktif yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.
Lebih dari sekadar membagikan 200 batang bibit, kegiatan ini sesungguhnya sedang menanam harapan bagi masa depan Kampung Bakaro. Setiap bibit mangga, jambu kristal, matoa, rambutan, dan durian yang kini berada di tangan masyarakat membawa harapan akan tumbuhnya pohon-pohon yang kelak memberikan keteduhan, menghasilkan buah yang melimpah, memperkuat ketahanan pangan keluarga, menambah pendapatan masyarakat, serta menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah Manokwari.
Kolaborasi antara BPDAS Remu Ransiki dan KKN-PPM UGM membuktikan bahwa menjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan menanam pohon. Yang jauh lebih penting adalah menanam pengetahuan, membangun kesadaran, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama terhadap alam. Ketika pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat berjalan dalam satu langkah, maka upaya pelestarian lingkungan akan melahirkan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.
Dari Kampung Bakaro, sebuah pesan kuat kembali ditegaskan bahwa setiap benih yang ditanam hari ini adalah investasi bagi masa depan. Semoga 200 bibit yang telah dibagikan dapat tumbuh subur dan berakar kuat di tanah Papua, memberikan manfaat bagi masyarakat, menghadirkan kesejukan bagi lingkungan, serta menjadi simbol bahwa kolaborasi, ilmu pengetahuan, dan semangat gotong royong akan selalu menjadi fondasi utama dalam mewujudkan Indonesia yang hijau dan lestari.
