
Jakarta, 19 Agustus 2026 — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan alumni Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) di panggung internasional. Irfan Bakhtiar, S.Hut., M.Si., MBE, Alumni Fakultas Kehutanan UGM Angkatan 1994, dianugerahi gelar Honorary Member of the Order of the British Empire (MBE) oleh Kerajaan Britania Raya sebagai pengakuan atas dedikasi dan kontribusinya dalam memperkuat hubungan antara Inggris dan Indonesia, khususnya dalam isu kehutanan, iklim, konservasi, perdagangan berkelanjutan, dan pembangunan lingkungan. Penghargaan bergengsi tersebut telah disetujui oleh Yang Mulia Raja Charles III dan diumumkan sebagai bagian dari Honorary Awards Inggris Tahun 2026, dengan kutipan resmi penghargaan “For services to UK/Indonesia relations” atau atas jasa-jasanya dalam memperkuat hubungan Inggris–Indonesia. Penganugerahan ini menjadi pengakuan atas perjalanan panjang Irfan dalam membangun kerja sama lintas negara sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam agenda kehutanan dan pembangunan berkelanjutan di tingkat global.
Selama lebih dari dua dekade, Irfan Bakhtiar berada di garis depan dalam berbagai upaya memperkuat tata kelola kehutanan, konservasi keanekaragaman hayati, serta pengembangan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia. Kiprahnya tidak hanya berlangsung dalam satu institusi atau program, tetapi berkembang melalui berbagai inisiatif strategis yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, akademisi, masyarakat lokal, dan mitra internasional. Salah satu kontribusi pentingnya tercermin melalui keterlibatannya dalam pengembangan dan penguatan sistem penjaminan legalitas kayu Indonesia yang kemudian berkembang menjadi Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK). Di bawah kepemimpinan Pemerintah Indonesia dan melalui kolaborasi berbagai pihak, sistem tersebut berkembang menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat transparansi dan akuntabilitas tata kelola kehutanan, mendorong pengelolaan hutan yang legal dan berkelanjutan, sekaligus mendukung akses produk kayu Indonesia ke pasar internasional, termasuk Inggris dan Uni Eropa. Perkembangan tersebut menjadi salah satu bukti nyata bahwa kemitraan jangka panjang antara Indonesia dan Inggris dapat melahirkan perubahan positif yang berdampak luas bagi sektor kehutanan.
Perjalanan panjang Irfan dalam kemitraan Indonesia–Inggris juga tidak dapat dipisahkan dari keterlibatannya dalam Multi-Stakeholder Forestry Programme (MFP), salah satu program kerja sama bilateral yang telah memainkan peran penting dalam mendukung reformasi tata kelola kehutanan Indonesia. Irfan telah berkontribusi dalam MFP Fase 1, Fase 2, Fase 4, dan saat ini dipercaya sebagai Co-Director MFP Phase 5. Dalam berbagai fase tersebut, ia menjalankan peran teknis maupun kepemimpinan dalam mendukung sejumlah agenda strategis kehutanan, termasuk penguatan legalitas dan kelestarian hasil hutan, peningkatan tata kelola, serta pengembangan pendekatan kolaboratif dalam pengelolaan sumber daya alam. Konsistensi keterlibatannya selama bertahun-tahun menunjukkan kontribusi yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga dalam membangun jembatan kerja sama dan kepercayaan antara berbagai pemangku kepentingan di Indonesia dan Inggris.

Kiprah Irfan juga meluas pada bidang konservasi keanekaragaman hayati dan transformasi rantai pasok komoditas. Sebelum menjalankan perannya saat ini, ia menjabat sebagai Director of Market Transformation di WWF Indonesia, memimpin berbagai inisiatif untuk mendorong produksi komoditas berkelanjutan dan rantai pasok yang bertanggung jawab. Dalam kapasitas tersebut, ia turut mendukung Peusangan Elephant Conservation Project di Aceh yang didanai Pemerintah Inggris. Bentang alam Peusangan merupakan salah satu habitat penting yang tersisa bagi gajah Sumatra yang berstatus sangat terancam punah, sekaligus menjadi kawasan yang memiliki nilai penting bagi keanekaragaman hayati Indonesia. Program tersebut menjadi salah satu contoh kolaborasi konservasi Indonesia–Inggris yang mempertemukan pemerintah, masyarakat lokal, organisasi masyarakat sipil, dan mitra internasional untuk menjaga keanekaragaman hayati sekaligus mendorong penghidupan dan pengelolaan bentang alam yang berkelanjutan.
Di bidang perkebunan berkelanjutan, Irfan pernah dipercaya sebagai Team Leader Strengthening Palm Oil Sustainability in Indonesia (SPOS Indonesia), sebuah program yang didanai Pemerintah Inggris. Melalui peran tersebut, ia bekerja bersama pemerintah, pelaku industri, organisasi masyarakat sipil, dan perwakilan petani kecil untuk memperkuat tata kelola keberlanjutan sektor kelapa sawit. Kontribusinya turut mendukung revisi dan penguatan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) agar mampu merespons perkembangan tuntutan pasar internasional sekaligus meningkatkan kredibilitas dan daya saing produk kelapa sawit Indonesia. Melalui program yang sama, Irfan juga mendorong pendekatan inovatif terhadap persoalan budidaya kelapa sawit tanpa izin di kawasan hutan. Bersama Fakultas Kehutanan UGM, ia turut membantu mengembangkan Strategi Jangka Benah dan implementasinya sebagai salah satu pendekatan untuk mendukung pemulihan fungsi hutan dan penyelesaian persoalan pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.
Atas penganugerahan tersebut, Irfan menyampaikan bahwa penghargaan yang diterimanya bukan semata-mata pencapaian pribadi, melainkan merupakan bentuk apresiasi terhadap kerja bersama berbagai pihak yang selama ini berkontribusi dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Inggris. “Saya merasa sangat terhormat menerima penghargaan ini. Pencapaian yang diakui hari ini tidak akan mungkin terwujud tanpa dedikasi dan kolaborasi dari begitu banyak rekan, mitra, lembaga pemerintah, organisasi masyarakat sipil, pelaku usaha, dan masyarakat lokal di Indonesia maupun Inggris,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sepanjang perjalanan kariernya, dirinya merasa mendapat kehormatan untuk terlibat dalam berbagai inisiatif yang memperkuat kehutanan berkelanjutan, konservasi, dan pembangunan ekonomi yang bertanggung jawab. Menurutnya, perkembangan tata kelola kehutanan Indonesia, termasuk SVLK, merupakan cerminan dari komitmen bersama berbagai pemangku kepentingan untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan. “Saya menerima penghargaan ini atas nama semua pihak yang telah bekerja tanpa lelah untuk memperkuat kerja sama antara Indonesia dan Inggris serta memastikan bahwa hutan dan sumber daya alam terus memberikan manfaat bagi generasi mendatang,” lanjutnya.

Kedutaan Besar Inggris di Jakarta turut menyampaikan selamat kepada Irfan Bakhtiar atas penganugerahan tersebut dan berharap kerja sama dengan para mitra di Indonesia dapat terus berkembang dalam mendorong pembangunan berkelanjutan, aksi iklim, konservasi keanekaragaman hayati, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Penganugerahan MBE kepada Irfan tidak hanya menjadi pengakuan atas dedikasi seorang profesional kehutanan dalam membangun kerja sama Indonesia–Inggris, tetapi juga menjadi cerminan bagaimana keahlian, konsistensi, dan komitmen dalam bidang kehutanan Indonesia dapat memberikan pengaruh hingga tingkat internasional.
Sebagai Alumni Fakultas Kehutanan UGM Angkatan 1994, Irfan Bakhtiar telah menorehkan perjalanan profesional yang panjang dalam bidang kehutanan, lingkungan, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan. Saat ini sebagai Co-Director Multi-Stakeholder Forestry Programme Phase 5, ia melanjutkan kiprah yang telah dibangun melalui MFP Fase 1, Fase 2, dan Fase 4. Sebelumnya, ia dipercaya memimpin SPOS Indonesia serta menjabat sebagai Director of Market Transformation di WWF Indonesia. Berbagai pengalaman tersebut mempertemukan dirinya dengan beragam agenda strategis, mulai dari penguatan SVLK dan tata kelola hutan, pengembangan ISPO, keberlanjutan komoditas, konservasi gajah Sumatra, hingga pemulihan fungsi hutan melalui Strategi Jangka Benah. Konsistensi tersebut menjadikan penghargaan MBE sebagai capaian yang tidak hanya membanggakan bagi Irfan secara pribadi, tetapi juga bagi Fakultas Kehutanan UGM, keluarga besar KAGAMAHUT, serta dunia kehutanan Indonesia.
Penganugerahan Honorary MBE oleh Kerajaan Inggris menjadi momentum penting yang menunjukkan bahwa kiprah alumni kehutanan UGM mampu melampaui batas geografis dan memberikan kontribusi nyata dalam membangun kerja sama internasional. Dari kerja-kerja pengelolaan hutan, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia hingga pengakuan dari Kerajaan Inggris, perjalanan Irfan Bakhtiar menjadi inspirasi bahwa dedikasi yang konsisten, kolaborasi lintas sektor, dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan dapat membawa nama kehutanan Indonesia ke panggung dunia.


Jadilah yang pertama untuk berkomentar