Harmoni Mahakam, Menyusuri Jejak Akulturasi di Jantung Kota Lama Samarinda

SAMARINDA, KAGAMA.id – Sungai Mahakam bukan sekadar urat nadi ekonomi Kalimantan Timur. Di sepanjang alirannya, sungai ini menyimpan riwayat panjang perjumpaan berbagai etnis, budaya, dan tradisi yang membentuk wajah Samarinda hingga hari ini. Semangat merawat warisan keberagaman itulah yang diwujudkan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Samarinda melalui kegiatan napak tilas sejarah bertajuk “Harmoni Mahakam”, Minggu (26/7/2026).

Sejak pagi, kawasan Citra Niaga yang menjadi titik awal kegiatan telah dipadati peserta. Sedikitnya 500 orang yang terdiri atas anggota Kagama, Perhimpunan Persahabatan Indonesia Tiongkok (PPIT), komunitas budaya, dan masyarakat umum mengikuti jalan santai menyusuri jejak sejarah Kota Tepian.

Bukan sekadar olahraga pagi, kegiatan ini mengajak peserta membaca ulang sejarah kota melalui ruang-ruang yang kerap luput dari perhatian. Dari kawasan perdagangan Citra Niaga, rombongan bergerak memasuki lorong-lorong kota lama hingga berakhir di Klenteng Thian Gie Khong, salah satu penanda penting sejarah komunitas Tionghoa di Samarinda.

Rute sepanjang sekitar satu kilometer tersebut membawa peserta melintasi kawasan Pecinan yang selama ratusan tahun menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan Samarinda sebagai kota sungai. Di sepanjang perjalanan, peserta disuguhi panorama bangunan-bangunan lama yang masih bertahan di tengah modernisasi kota.

Lorong-lorong sempit, rumah toko berarsitektur khas, serta jejak aktivitas perdagangan masa lampau menghadirkan gambaran mengenai bagaimana interaksi antarkelompok masyarakat telah terjalin sejak lama di tepian Mahakam. Bagi banyak peserta, perjalanan itu menjadi kesempatan untuk mengenali kembali identitas sejarah kota yang selama ini hanya dikenal sepintas.

Kegiatan tersebut mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Samarinda. Wali Kota Samarinda yang hadir langsung dalam acara itu menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif masyarakat sipil yang berupaya menghidupkan kembali memori kolektif kota melalui pendekatan sejarah dan budaya.

Menurutnya, kawasan Pecinan merupakan salah satu aset penting yang dapat memperkuat identitas Samarinda sebagai kota yang tumbuh dari keberagaman. Pemerintah Kota Samarinda, kata dia, pada prinsipnya telah memiliki gagasan untuk menata dan mengembangkan kawasan tersebut secara lebih representatif sebagai bagian dari penguatan karakter kota, dengan tetap mempertimbangkan kesiapan anggaran dan tahapan pembangunan.

Dukungan serupa datang dari Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur. Kepala Dinas Pariwisata Kaltim menilai langkah Kagama mengangkat sejarah lokal sebagai ruang pembelajaran publik merupakan terobosan yang menarik.

Di tengah persaingan destinasi wisata modern, kekuatan sejarah dan budaya justru menjadi nilai pembeda yang dapat memperkaya pengalaman wisatawan. Karena itu, kawasan Pecinan Samarinda dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya yang terintegrasi dengan kawasan Sungai Mahakam.

Kepala Dinas Pariwisata Kaltim bahkan mendorong Kagama untuk ikut terlibat dalam penyusunan gagasan dan narasi pengembangan kawasan tersebut. Menurut dia, kontribusi kalangan akademisi dan alumni perguruan tinggi akan memperkuat landasan historis sekaligus arah pengembangannya.

Ketua Pengurus Daerah Kagama Kalimantan Timur menegaskan bahwa organisasi alumni tidak hanya berfungsi sebagai wadah silaturahmi, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah.

Sebagai organisasi yang beranggotakan alumni dari berbagai disiplin ilmu, Kagama memiliki sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk membantu merumuskan narasi sejarah, melakukan kajian, hingga memberikan rekomendasi pengembangan kawasan berbasis budaya.

Menurutnya, keberadaan komunitas Tionghoa di sepanjang Sungai Mahakam memiliki kontribusi penting dalam perkembangan ekonomi dan sosial Samarinda. Oleh karena itu, rekam jejak sejarah tersebut perlu didokumentasikan secara lebih sistematis agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sementara itu, Ketua PPIT Kalimantan Timur memandang kegiatan “Harmoni Mahakam” sebagai simbol kuat hubungan antarkelompok masyarakat yang telah terbangun selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Akulturasi, menurut dia, bukan hanya soal percampuran budaya, melainkan proses saling menghargai dan saling memperkaya yang berlangsung secara alamiah dalam kehidupan sehari-hari. Semangat itulah yang tercermin dalam kehidupan masyarakat Samarinda, kota yang sejak awal tumbuh dari perjumpaan berbagai etnis dan tradisi.

Kehadiran sejumlah anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur, DPRD Kota Samarinda, tokoh masyarakat, serta pengurus cabang Kagama dari Samarinda dan Balikpapan semakin memperlihatkan besarnya perhatian terhadap upaya pelestarian sejarah lokal.

Di tengah derasnya perubahan perkotaan, kesadaran untuk menjaga memori kolektif menjadi semakin penting. Bangunan tua, kawasan bersejarah, dan tradisi masyarakat bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber identitas yang memberikan makna bagi perkembangan kota pada masa depan.

Rangkaian kegiatan berakhir sekitar pukul 08.30 Wita di halaman Klenteng Thian Gie Khong. Suasana keakraban terasa ketika para peserta menikmati hidangan kuliner khas Tionghoa yang telah lama menjadi bagian dari kekayaan cita rasa Samarinda.

Namun lebih dari sekadar menikmati sajian kuliner dan berolahraga pagi, kegiatan tersebut meninggalkan pesan yang lebih mendalam. Melalui langkah-langkah sederhana menyusuri lorong kota lama, peserta diajak memahami bahwa keberagaman bukanlah sesuatu yang hadir tiba-tiba, melainkan hasil perjalanan panjang sejarah yang perlu terus dirawat.

Di tepi Mahakam, di antara jejak perdagangan, rumah-rumah tua, dan rumah ibadah yang masih berdiri kokoh, “Harmoni Mahakam” menghadirkan pengingat bahwa Samarinda dibangun di atas fondasi kebersamaan. Fondasi itulah yang menjadi modal sosial penting untuk menghadapi masa depan kota yang semakin dinamis dan multikultural.