Kata “Cukup” dan Pintu Sekolah yang Dibuka Lebar: Belajar Parenting Disabilitas dari Kisah Dr. Ryan Sugiarto

YOGYAKARTA – Banyak orang tua yang memiliki anak dengan disabilitas masih bergulat dengan rasa sulit menerima, bingung harus berbuat apa, hingga menghadapi stigma di lingkungan dan sekolah. Berangkat dari kegelisahan itu, Kagama Parenting menggelar diskusi online bertajuk “Parenting Disabilitas: Dari Penerimaan Menuju Keberdayaan” pada Sabtu (10/10/2026) malam melalui Zoom Meeting.

Diskusi menghadirkan Dr. Ryan Sugiarto, dosen Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta sekaligus anggota Dewan Pendidikan DIY, yang belum lama ini meraih gelar doktor dengan predikat cum laude dari UGM. Diskusi dipandu oleh Noor Aini Prasetyawati, S.Si.

Dalam sambutannya, Sari Oktafiana dari Kagama Parenting menyampaikan bahwa diskusi yang digelar rutin sekitar dua bulan sekali ini sengaja dibuat santai. Tema kali ini diangkat karena masih banyak orang tua yang enggan terbuka tentang kondisi anaknya, sementara di sekolah anak-anak berkebutuhan khusus kerap menghadapi penolakan dan stigma. “Kita ingin membuat diskusi tentang parenting yang lebih inklusif, sehingga kita semua saling belajar satu sama lain,” ujarnya.

Moderator Noor Aini menambahkan, ia lebih nyaman menggunakan istilah different ability atau difabel. Menurutnya, teman-teman difabel sejatinya hanya memiliki kemampuan yang berbeda, bukan tidak mampu.

Sampai pada Kata “Cukup”

Ryan, yang lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, membuka ceritanya dengan jujur. Ia lahir sehat, tetapi pada usia empat atau lima tahun mengalami demam tinggi pada akhir 1980-an. Setelah itu, kaki kanannya tidak lagi dapat berfungsi optimal.

Seperti orang tua pada umumnya, ayah dan ibunya sempat diliputi kesedihan dan sulit menerima. Berbagai upaya pengobatan ditempuh, baik medis maupun tradisional. Hingga pada satu titik, orang tuanya merasa cukup.

“Kata cukup itu adalah fase untuk bergerak ke pola berikutnya,” tutur Ryan. Sejak itu, orang tuanya membekalinya dengan kruk dan tongkat, lalu mengantarkannya bersekolah.

Yang paling membekas bagi Ryan, kedua orang tuanya tidak pernah membedakan dirinya dengan dua kakak perempuannya, baik dalam pengasuhan maupun perlakuan sehari-hari. Di kampung, ia tetap bermain kelereng, sepak bola, dan bepergian bersama teman-teman sebayanya. Saat pelajaran olahraga yang tidak bisa diikutinya, gurunya memberi tugas pengganti berupa membuat kliping berita olahraga. Kedua kakaknya yang kuliah di Yogyakarta rutin membawakan setumpuk koran untuk bahan klipingnya.

Ryan juga dilibatkan dalam kegiatan kampung. Saat acara halalbihalal, misalnya, ia kerap diminta membaca qiraah. Dalam kerja bakti, ia mengambil peran yang tidak membutuhkan tenaga fisik berat.

Membuka Akses Pendidikan Seluas-luasnya

Ryan menempuh seluruh jenjang pendidikan di sekolah reguler, dari SD hingga S3. Hampir di setiap jenjang, ia menjadi satu-satunya siswa dengan disabilitas di angkatannya.

Menurutnya, kunci dari semua itu adalah keputusan orang tuanya untuk membuka akses pendidikan selebar-lebarnya. Padahal, ayah dan ibunya bukan orang berpendidikan tinggi. Mereka lahir di desa dan menjalani hidup sebagai petani, pedagang, dan perantau. Ketika ada yang bertanya mengapa Ryan tidak dimasukkan ke sekolah luar biasa, orang tuanya menjawab bahwa selama anaknya bisa mengikuti sekolah reguler, tidak ada alasan untuk membedakannya.

Kemandirian juga tumbuh dari keadaan. Ketika orang tua merantau dan kedua kakaknya kuliah di Yogyakarta, Ryan praktis tinggal sendirian di rumah selama masa SMP. Ia mencuci, memasak, dan berangkat sekolah sendiri. Ia kemudian melanjutkan SMA di MAN 1 Yogyakarta.

Salah satu kisah yang paling menyentuh adalah jawaban sang ibu kepada tetangga yang bertanya bagaimana kelak Ryan bisa bekerja, berkeluarga, dan menjalani hidup. “Tidak usah mengkhawatirkan bagaimana Ryan hidup. Itu akan menjadi urusan saya sebagai ibu dan orang tuanya,” tutur Ryan menirukan ibunya.

Bagi Ryan, cara berpikir terbuka itu adalah sesuatu yang mewah. Sikap yang sama ia bawa hingga dewasa. Soal prasangka dan stigma, ia memilih menarik batas. “Prasangka atau stigma itu ada pada orang lain. Itu bukan urusan saya,” katanya.

Ia mengingatkan bahaya ketika stigma dari luar diinternalisasi. Jika stigma itu sudah melekat dalam diri, cara berpikir, merasa, dan bertindak seseorang akan terkurung oleh penilaian orang lain.

Memahami Rasa Anak

Sesi diskusi berlangsung hangat. Seorang peserta, orang tua dari remaja dengan autisme, berbagi pengalaman yang justru berkebalikan. Anaknya bersekolah di sekolah umum sejak TK hingga SMP, lalu dipindahkan ke SLB saat memasuki SMA. Awalnya ia sempat menolak gagasan itu, tetapi kemudian merasakan manfaatnya: kelas kecil, guru yang fokus, dan pembelajaran keterampilan. Ia juga mengungkapkan kekhawatiran yang dirasakan banyak orang tua, yakni bagaimana masa depan anak ketika orang tua sudah tiada.

Menanggapi hal itu, Ryan menegaskan bahwa kekhawatiran orang tua adalah hal yang wajar. Namun, pada titik tertentu orang tua juga perlu memberi kepercayaan kepada anak dan berusaha memahami perasaannya, dengan takaran yang sesuai kondisi masing-masing anak.

Ia lalu mengutip pemikiran Ki Ageng Suryomentaram tentang dua kecenderungan orang tua: menjadikan anak sebagai bahan unggul-unggulan untuk dibanggakan, dan menjadikan anak sebagai tabungan hari tua. Keduanya membuat anak dibentuk sesuai keinginan orang tua tanpa memahami rasa sebagai anak. “Rasa sebagai anak dan rasa sebagai orang tua itu pasti berbeda,” jelasnya.

Dari Belas Kasihan ke Pemberdayaan

Peserta juga menyoroti peran pemerintah, terutama ketika dukungan dana terapi bagi anak berkebutuhan khusus di sejumlah daerah dikurangi. Ryan menilai advokasi tetap harus dilakukan, sebab hak penyandang disabilitas telah dimandatkan undang-undang dan negara wajib memenuhinya.

Ia juga mengkritik banyak program, termasuk dari lembaga swadaya masyarakat, yang masih berhenti pada pelatihan keterampilan teknis seperti menjahit atau bengkel. Menurutnya, pendekatan berbasis belas kasihan (charity) perlu diimbangi pemberdayaan sosial dan intelektual. “Teman-teman disabilitas punya ruang strategis untuk memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan,” katanya.

Ryan melihat peluang besar untuk memperkuat komunitas sesama orang tua anak dengan disabilitas sebagai wadah belajar dan saling menguatkan, sebagaimana sudah berjalan di beberapa komunitas orang tua.

Menjahit Kembali Tripusat Pendidikan

Ketika ditanya tentang sumber ketangguhannya, Ryan menyebut pola asuh keluarga dan lingkungan terdekat sebagai fondasi. Tumbuh di tengah teman-teman nondisabilitas membuatnya tidak pernah memandang dirinya terutama sebagai penyandang disabilitas. Ketangguhan keluarga, katanya, membantu anak tetap tangguh meski menghadapi diskriminasi di luar rumah.

Mengenai peran institusi seperti UGM, Ryan merujuk konsep Tripusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam praktik pendidikan modern, ketiganya kerap berjalan sendiri-sendiri. Orang tua menyerahkan pendidikan sepenuhnya ke sekolah, sementara sekolah tercerabut dari masyarakatnya. “Menjahit ketiganya menjadi bagian penting untuk menguatkan pendidikan anak, termasuk teman-teman dengan disabilitas,” ujarnya.

Ia mengapresiasi mahasiswa disabilitas di UGM yang telah mengorganisasi diri dalam komunitas dan suaranya didengar pimpinan kampus. Namun, menurutnya inklusivitas kampus harus melampaui urusan akreditasi dan fasilitas fisik. Kampus perlu sungguh-sungguh memfasilitasi kemampuan dan gagasan mahasiswa disabilitas.

Keluar dari Cara Berpikir Dikotomis

Menutup diskusi, Ryan mengingatkan bahwa keberadaan disabilitas adalah fakta yang tidak bisa dimungkiri. Pekerjaan rumahnya adalah memastikan fakta itu tidak diinternalisasi sebagai kekurangan yang terus ditonjolkan. “Penting untuk keluar dari cara berpikir dikotomis, disabilitas dan nondisabilitas,” pesannya.

Noor Aini menutup dengan harapan agar obrolan malam itu menguatkan para orang tua dan keluarga. Ketika anak-anak dengan kemampuan berbeda diberi keleluasaan untuk berpartisipasi secara optimal, mereka dapat tumbuh menjadi manusia seutuhnya dan berperan dalam kehidupan bersama.