
Bertepatan dengan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Yayasan Cahaya Cinta Kasih (YCCK) menggelar event untuk mengatasi kesehatan mental bertajuk “Tata Hati Indonesia” di Grha Sabha Pramana UGM, Sabtu (10/10). Acara diikuti oleh 5000 lebih peserta, sekitar 3000 orang hadir langsung memenuhi GSP dan kurang lebih 2000 orang mengikuti secara daring.

Jalannya acara selama sekitar 3 jam lebih dipandu oleh pendiri YCCK sekaligus praktisi meditasi Bunda Arsaningsih, dibantu dr. Rastho Mahotama. Acara digelar dalam dua sesi utama, yakni temu wicara dan meditasi SOUL Reflection. Dalam sesi temu wicara, peserta memperoleh kesempatan berdialog dengan narasumber mengenai persoalan kehidupan, sedangkan sesi meditasi mengajak seluruh peserta melakukan refleksi diri.
Bunda Arsa menyatakan Tata Hati menjadi ruang refleksi bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk berhenti sejenak dari rutinitas, mengenali persoalan batin, dan belajar mengelola pikiran serta perasaan melalui meditasi. Ia menambahkan, meditasi merupakan proses mengenali dan melepaskan energi negatif yang dirasakan dalam diri akibat tekanan aktivitas sehari-hari maupun persoalan kehidupan.

“Kondisi tersebut dapat memengaruhi kestabilan emosi seseorang. Melalui Tata Hati, peserta kita ajak membersihkan batin dengan melibatkan kekuatan Tuhan sesuai keyakinan masing-masing,” ungkapnya.
Tata Hati sejauh ini telah digelar di berbagai kota di Indonesia, bahkan diusung sampai manca negara. Perjalanannya dimulai dari kelas Menata Hati di Denpasar pada 14 Februari 2025. Setelah itu dihelat di Solo, kemudian menyebrang jauh ke Perancis, Italia, Belgia, dan Belanda.

September 2025, Tata Hati hadir di Wellington, Selandia Baru dan Melbourne, Australia. Lalu pada penyelenggaraan yang ke-11 kali ini kembali menyambangi tanah air mengambil tempat di Yogyakarta.
Adapun terpilihnya Yogya sebagai lokasi acara dengan mempertimbangkan sejumlah hal, termasuk dari pengalaman penyelenggaraan kegiatan di banyak lokasi. Tata Hati sudah digelar di berbagai kota, namun begitu mendirikan pusat meditasi di Yogya maka mulai dikenal luas oleh masyarakat.

Dr. Agung Putra saat jumpa pers di Fortune Suite Hotel
Pengawas YCCK yang juga merupakan warga Kagama, Dr. Agung Putra menyambut baik pemilihan Yogya sebagai tempat acara. Alumnus jurusan Hubungan Internasional UGM kelahiran Bali tersebut mengaku senang bisa kembali ke kota yang penuh kenangan selama kuliah dulu.
Karena mengambil tempat di almamaternya, ia tak lupa menggandeng mahasiswa UGM dan alumni untuk mengisi acara. Ia mengajak kolaborasi adik-adik dari UKM Swagayugama sebagai pembuka acara dengan menampilkan karawitan dan tarian “Sekar Pudyastuti”, serta Kagama Orchids yang bertugas mempercantik panggung dengan rangkaian anggrek.

Agung mengatakan selain untuk membikin panggung jadi indah, anggrek yang dipajang juga berfungsi sebagai media meditasi atau terapi ketenangan batin. Ia menyebutkan beberapa nama bunga yang biasa dipakai untuk meditasi, salah satunya anggrek yang bisa membantu meningkatkan gelombang alfa otak untuk relaksasi otot.
Sementara itu ketua Kagama Orchids (KO), Yoppie Khan mengaku sangat antusias ketika diajak kolaborasi. Saat KO diminta menghias panggung, ia langsung menyanggupi. Menurutnya inilah kesempatan memperkenalkan anggrek kepada publik yang bukan komunitas pecinta anggrek.

Saat acara berlangsung, hadirin disuguhi pemandangan indah anggrek bulan yang dirangkai secara cantik di panggung. Warnanya yang indah membuat segar mata yang memandangnya. Serta keberadaannya sangat mendukung inti acara yaitu mediasi.
Yoppie menjelaskan sejak awal tahun 2020 KO mencanangkan tiga misi, yaitu melakukan konservasi untuk melestarikan anggrek-anggrek spesi Indonesia, menjadikan kampus UGM sebagai orchid sanctuary spesie asli Indonesia, dan sebagai rujukan pusat budidaya anggrek di Yogyakarta. “Nah kehadiran kami di acara Tata Hati pada dasarnya adalah mendukung visi kedua,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya sangat terbuka kerja sama dengan pihak manapun. Baik untuk pembudidayaan anggrek ataupun cuma sekedar untuk memamerkannya seperti di acara Tata Hati ini.
“Karena semakin dikenal publik maka akan bagus pengaruhnya buat eksistensi anggrek spesi asli Indonesia. Semakin banyak yang mencintai anggrek pastinya akan semakin mendukung kelestarian anggrek,” pungkasnya.
