Menanam Mangrove, Menitipkan Masa Depan Bunaken

Menanam Mangrove, Menitipkan Masa Depan Bunaken

Dari Pulau Kecil di Utara Sulawesi, KAGAMA Sulut Merajut Kolaborasi Konservasi untuk Generasi Mendatang

Pagi itu, laut Bunaken tampak tenang. Air surut membuka hamparan pesisir yang menjadi ruang hidup bagi akar-akar mangrove. Di sela lumpur dan pasir pantai, puluhan orang berjalan perlahan sambil membawa bibit mangrove. Sebagian lainnya berkumpul di garis pantai, mengamati tukik-tukik yang sesaat lagi akan memulai perjalanan panjang menuju lautan lepas.

Di Pulau Bunaken, Sabtu, 18 Juli 2026, penanaman mangrove dan pelepasan tukik memang hanya berlangsung beberapa jam. Namun maknanya jauh melampaui sebuah kegiatan seremonial. Ia menjadi pengingat bahwa menjaga laut tidak pernah cukup dilakukan dengan kekaguman terhadap keindahannya. Laut hanya akan tetap lestari jika ada tindakan nyata untuk merawat ekosistem yang menopangnya.

Kegiatan yang digelar dalam rangkaian Road to Hari Konservasi Alam Nasional itu mempertemukan berbagai pihak dalam satu tujuan yang sama. Mahasiswa KKN-PPM UGM Seri Bunaken Kepulauan 2026, Pengurus Daerah Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Sulawesi Utara, Balai Taman Nasional Bunaken, pemerintah setempat, serta masyarakat Pulau Bunaken bersama-sama menanam mangrove dan melepaskan tukik ke habitat alaminya.

Bagi KAGAMA Sulawesi Utara, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda lingkungan. Ia merupakan manifestasi dari nilai pengabdian yang selama ini menjadi bagian dari tradisi Universitas Gadjah Mada: ilmu pengetahuan harus hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat serta lingkungan.

Bunaken dan Tantangan di Balik Keindahannya

Nama Bunaken selama ini identik dengan surga bawah laut Indonesia. Kawasan Taman Nasional Bunaken dikenal dunia sebagai salah satu destinasi penyelaman terbaik dengan keanekaragaman hayati laut yang luar biasa. Terumbu karang, padang lamun, ikan-ikan tropis, hingga berbagai spesies penyu hidup dalam satu sistem ekologi yang saling menopang.

Namun seperti banyak ekosistem pesisir lainnya, Bunaken tidak luput dari ancaman.

Perubahan iklim, kenaikan muka laut, abrasi pantai, tekanan aktivitas manusia, serta berkurangnya tutupan mangrove menjadi tantangan yang harus dihadapi secara serius. Mangrove yang selama ini menjadi benteng alami pesisir memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar kumpulan pohon yang tumbuh di tepi pantai. Hutan mangrove berperan melindungi garis pantai dari abrasi, menjadi tempat pembesaran berbagai biota laut, menjaga kualitas perairan, sekaligus menyerap karbon dalam jumlah besar.

Dalam berbagai kajian konservasi pesisir, mangrove bahkan disebut sebagai salah satu ekosistem dengan kapasitas penyimpanan karbon tertinggi di dunia. Karena itu, kerusakan mangrove bukan hanya persoalan lokal, melainkan juga terkait dengan upaya global menghadapi perubahan iklim.

Kondisi serupa terjadi pada populasi penyu laut yang menjadi salah satu ikon keanekaragaman hayati Bunaken. Sejak lama, Balai Taman Nasional Bunaken menjalankan program patroli sarang penyu dan penetasan semi-alami untuk meningkatkan peluang hidup tukik sebelum dilepas kembali ke laut. Ancaman predator alami, perubahan habitat, dan gangguan lingkungan membuat tingkat kelangsungan hidup penyu di alam relatif rendah.

Karena itulah pelepasan tukik bukan sekadar atraksi wisata konservasi. Ia merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan populasi satwa laut yang memiliki peran penting dalam keseimbangan ekosistem.

KAGAMA dan Etos Pengabdian

Dalam perspektif KAGAMA Sulawesi Utara, aksi konservasi di Bunaken memiliki makna yang lebih luas daripada penghijauan atau pelepasan satwa.

Kehadiran alumni bersama mahasiswa membentuk jembatan antargenerasi dalam gerakan pelestarian lingkungan. Apa yang ditanam oleh mahasiswa hari ini akan dilanjutkan oleh masyarakat, pemerintah, pengelola kawasan konservasi, dan jaringan alumni pada masa mendatang.

Anggota DPRD Kota Manado sekaligus Pengurus Daerah KAGAMA Sulawesi Utara, Monica Tambajong, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menjaga kawasan konservasi Bunaken. Menurutnya, kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, pengelola kawasan konservasi, dan masyarakat merupakan langkah nyata untuk memastikan kelestarian ekosistem pesisir dan laut tetap terjaga bagi generasi berikutnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan semangat yang selama ini dikembangkan dalam berbagai program KKN-PPM UGM. Mahasiswa tidak hanya hadir untuk melakukan pengabdian masyarakat dalam jangka pendek, melainkan membangun proses pembelajaran bersama masyarakat dan para pemangku kepentingan lokal. Dengan demikian, konservasi tidak berhenti menjadi proyek sesaat, tetapi berkembang menjadi budaya kolektif.

Bagi KAGAMA Sulut, pendampingan terhadap kegiatan mahasiswa juga merupakan bentuk tanggung jawab moral alumni terhadap keberlanjutan pembangunan daerah. Sulawesi Utara memiliki kekayaan pesisir dan laut yang menjadi modal utama ekonomi sekaligus identitas budaya masyarakatnya. Menjaga Bunaken berarti menjaga masa depan Sulawesi Utara.

Menanam untuk Generasi yang Belum Lahir

Ada alasan mengapa penanaman mangrove selalu memiliki makna simbolik yang kuat.

Berbeda dengan menanam tanaman musiman, menanam mangrove merupakan investasi jangka panjang. Bibit yang ditancapkan hari ini mungkin baru mencapai fungsi ekologis optimal beberapa tahun mendatang. Orang yang menanam belum tentu menjadi pihak yang menikmati manfaat terbesar dari pohon tersebut.

Namun justru di situlah nilai konservasi berada.

Masyarakat pesisir yang akan hidup beberapa dekade mendatang akan merasakan perlindungan dari abrasi yang dicegah oleh akar mangrove yang ditanam hari ini. Nelayan masa depan akan memperoleh manfaat dari habitat pembesaran ikan yang dipertahankan. Generasi mendatang juga akan menikmati kualitas lingkungan yang lebih baik karena kemampuan mangrove menyerap karbon dan menjaga keseimbangan pesisir.

Pelepasan tukik pun menyimpan pesan serupa. Dari ratusan tukik yang dilepas ke laut, hanya sebagian kecil yang diperkirakan mampu bertahan hingga dewasa. Namun setiap individu yang berhasil tumbuh menjadi penyu dewasa akan kembali menjaga keseimbangan rantai kehidupan laut dan melanjutkan siklus reproduksinya.

Konservasi pada akhirnya selalu berbicara tentang harapan. Tentang keberanian melakukan tindakan hari ini meskipun hasilnya mungkin baru dinikmati generasi berikutnya.

Merawat Surga Bawah Laut

Bunaken selama ini dikenal karena apa yang terlihat di bawah permukaan laut. Namun keberlanjutan surga bawah laut itu sesungguhnya ditentukan oleh apa yang terjadi di kawasan pesisirnya.

Mangrove, padang lamun, terumbu karang, penyu, ikan, dan masyarakat pesisir merupakan bagian dari satu ekosistem yang tidak bisa dipisahkan. Kerusakan pada salah satu komponen akan memengaruhi keseluruhan sistem.

Karena itu, aksi penanaman mangrove dan pelepasan tukik yang dilakukan mahasiswa KKN-PPM UGM bersama KAGAMA Sulut dan Balai Taman Nasional Bunaken sesungguhnya lebih dari sekadar kegiatan konservasi. Ia merupakan pernyataan bahwa pembangunan dan pelestarian lingkungan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Ia juga menunjukkan bahwa menjaga alam memerlukan kolaborasi, keberlanjutan, dan kepedulian lintas generasi. [

Di tengah berbagai tantangan lingkungan global yang semakin kompleks, harapan sering kali lahir dari tindakan-tindakan sederhana seperti menanam satu bibit mangrove dan melepaskan seekor tukik ke laut.

Dari Pulau Bunaken, harapan itu kembali diteguhkan: bahwa laut yang diwariskan kepada anak cucu kelak akan sangat ditentukan oleh keputusan yang kita ambil hari ini. Dan pada pagi di bulan Juli itu, KAGAMA Sulawesi Utara memilih untuk berdiri di sisi masa depan