DWP Mengajar dan Bina Cinta Lingkungan, Kolaborasi BPDAS Remu Ransiki–KKN PPM UGM Cetak Generasi Peduli Alam

Manokwari, Papua Barat – Semangat pengabdian, pendidikan, dan pelestarian lingkungan berpadu dalam kegiatan DWP Mengajar dan Bina Cinta Lingkungan yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Remu Ransiki bekerja sama dengan mahasiswa KKN PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) Unit Manokwari Menari di SD YPK 18 FJS Rumainum Bakaro, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Kegiatan ini menjadi wujud nyata sinergi antara pemerintah, organisasi perempuan, perguruan tinggi, dan dunia pendidikan dalam menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini sekaligus mendukung upaya rehabilitasi hutan dan lahan yang berkelanjutan.

Sejak pagi, suasana sekolah dipenuhi gelak tawa dan semangat belajar para siswa. Sekitar 40 peserta mengikuti berbagai kegiatan edukatif yang dikemas secara interaktif oleh mahasiswa KKN PPM UGM bersama anggota DWP BPDAS Remu Ransiki. Melalui permainan, kuis, diskusi, hingga praktik sederhana, anak-anak diajak memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, merawat tanaman, menghemat penggunaan air, serta membangun kebiasaan hidup yang ramah lingkungan. Pembelajaran yang menyenangkan tersebut menjadi cara efektif untuk menanamkan nilai-nilai cinta alam sejak dini.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program DWP Mengajar dan Bina Cinta Lingkungan, program unggulan Dharma Wanita Persatuan BPDAS Remu Ransiki yang menyasar sekolah dan lembaga pendidikan di Provinsi Papua Barat. Program tersebut dirancang sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan rehabilitasi hutan dan lahan melalui pendekatan edukasi. BPDAS Remu Ransiki meyakini bahwa keberhasilan penghijauan tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga oleh tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjaga dan merawat lingkungan.

Ketua Dharma Wanita Persatuan BPDAS Remu Ransiki, Alipni Umul Umahat, mengatakan bahwa pendidikan lingkungan merupakan investasi jangka panjang untuk mencetak generasi yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam.

“Melalui program DWP Mengajar dan Bina Cinta Lingkungan, kami ingin menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini. Menanam pohon saja tidak cukup, tetapi kita juga harus menanamkan nilai-nilai cinta alam di hati anak-anak. Mereka adalah generasi yang kelak akan menentukan masa depan hutan dan lingkungan kita,” ujarnya.

Menurut Alipni, kolaborasi dengan mahasiswa KKN PPM Universitas Gadjah Mada menghadirkan energi baru dalam proses pembelajaran. Kreativitas mahasiswa mampu menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus memperkuat pesan-pesan pelestarian lingkungan kepada anak-anak.

“Kami berharap sinergi ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini. Bibit yang kami serahkan kepada sekolah menjadi awal dari gerakan penghijauan yang lebih luas. Selanjutnya, kami akan mendorong pemberian bibit kepada para siswa dan orang tua sebagai stimulus agar penanaman dilakukan di pekarangan rumah maupun lahan milik keluarga. Dengan demikian, gerakan menjaga lingkungan tidak hanya tumbuh di sekolah, tetapi juga berkembang di tengah masyarakat,” tambahnya.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan, DWP BPDAS Remu Ransiki juga membagikan pensil kepada seluruh siswa sebagai simbol semangat belajar dan motivasi untuk terus menggapai cita-cita. Selain itu, susu diberikan untuk mendukung pemenuhan gizi anak-anak agar tumbuh sehat, cerdas, dan siap menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Komitmen terhadap pelestarian lingkungan diwujudkan melalui penyerahan bibit tanaman kepada pihak sekolah. Bibit tersebut akan menjadi awal terciptanya ruang hijau di lingkungan sekolah sekaligus media pembelajaran bagi siswa mengenai pentingnya merawat pohon. Ke depan, bantuan bibit juga akan diperluas kepada para siswa beserta orang tua atau wali murid agar dapat ditanam di pekarangan rumah maupun lahan milik keluarga. Langkah ini diharapkan mampu melahirkan gerakan penghijauan berbasis keluarga yang berkelanjutan.

Kepala BPDAS Remu Ransiki, Zayinul Farhi, menegaskan bahwa kolaborasi dengan mahasiswa KKN PPM Universitas Gadjah Mada merupakan bagian dari upaya memperkuat pembangunan berbasis pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan lingkungan.

“Kami menyambut baik kolaborasi bersama KKN PPM Universitas Gadjah Mada karena mahasiswa hadir membawa semangat pengabdian, inovasi, dan ilmu pengetahuan yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Sinergi seperti ini sangat penting untuk memperkuat upaya rehabilitasi hutan dan lahan yang tidak hanya berorientasi pada penanaman pohon, tetapi juga pada pembangunan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan,” katanya.

Menurut Zayinul, dukungan BPDAS Remu Ransiki terhadap kegiatan KKN PPM UGM diwujudkan melalui penyediaan bibit tanaman yang menjadi stimulus bagi gerakan penghijauan di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

“Bibit yang kami berikan bukan sekadar bantuan fisik, tetapi menjadi awal lahirnya gerakan penghijauan yang berkelanjutan. Harapan kami, bibit ini dapat ditanam tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di pekarangan rumah para siswa bersama orang tua mereka. Dengan demikian, semangat menjaga lingkungan akan tumbuh dari keluarga, berkembang di masyarakat, dan pada akhirnya menjadi budaya yang mengakar,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan rehabilitasi daerah aliran sungai tidak hanya diukur dari luas lahan yang ditanami, tetapi juga dari tumbuhnya rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat terhadap kelestarian sumber daya alam.

“Menjaga hutan dan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Ketika dunia pendidikan, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat bergerak dalam satu langkah, kami optimistis upaya pelestarian lingkungan akan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang,” pungkasnya.

Kolaborasi antara DWP BPDAS Remu Ransiki dan mahasiswa KKN PPM UGM Unit Manokwari Menari menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui pembangunan karakter. Sinergi ini menghadirkan ruang belajar yang inspiratif bagi anak-anak sekaligus memperkuat gerakan penghijauan yang melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Dari ruang-ruang kelas sederhana di SD YPK 18 FJS Rumainum Bakaro, benih-benih kepedulian mulai ditanam. Setiap ilmu yang dibagikan, setiap bibit yang ditanam, dan setiap senyum yang terukir menjadi simbol harapan bahwa generasi muda Papua akan tumbuh sebagai penjaga hutan dan lingkungan. Melalui semangat gotong royong dan kolaborasi, BPDAS Remu Ransiki bersama Dharma Wanita Persatuan dan KKN PPM Universitas Gadjah Mada membuktikan bahwa langkah kecil yang dilakukan bersama hari ini akan menjadi fondasi bagi terwujudnya lingkungan yang lebih hijau, masyarakat yang semakin peduli, serta masa depan Indonesia yang lebih lestari.

Jadilah yang pertama untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*