Musim tidak lagi datang sebagaimana dikenali petani Indonesia selama puluhan tahun. Hujan yang biasanya turun pada akhir tahun kini sering terlambat. Kemarau yang dahulu memiliki pola relatif teratur kini dapat berlangsung lebih panjang. Di banyak daerah, tanda-tanda alam yang selama ini menjadi pedoman bercocok tanam semakin sulit dibaca.
Perubahan itu mungkin tampak sederhana. Namun bagi Indonesia, negara yang kehidupan jutaan penduduknya bertumpu pada sektor pertanian, perubahan musim sesungguhnya adalah persoalan yang menyentuh kebutuhan paling dasar: pangan.
Karena itu, ketika fenomena El Niño kembali muncul dan memperpanjang musim kering di berbagai wilayah, yang dipertaruhkan bukan sekadar keberhasilan panen satu musim tanam. Yang dipertaruhkan adalah ketahanan pangan nasional.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam webinar“Kesiapsiagaan Dampak El Niño: Memperkuat Ketahanan Kesehatan, Pangan, dan Masyarakat Indonesia” yang diselenggarakan PP KAGAMA bersama Universitas Gadjah Mada. Dalam kesempatan itu, Guru Besar Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. Bayu Dwi Apri Nugroho menyoroti pentingnya adaptasi dan mitigasi sektor pertanian untuk menghadapi perubahan iklim dan dampak El Niño yang semakin nyata.
Ancaman yang Sudah Hadir
Selama bertahun-tahun, perubahan iklim sering dipersepsikan sebagai ancaman masa depan. Sesuatu yang akan terjadi beberapa dekade mendatang dan dapat dipikirkan nanti. Pandangan semacam itu kini tidak lagi relevan.
Menurut Prof. Bayu, perubahan iklim sudah berlangsung dan dampaknya telah dirasakan langsung oleh sektor pertanian. Kenaikan suhu udara, perubahan pola curah hujan, meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, serta perubahan panjang musim menjadi fenomena yang semakin sering terjadi. Akibatnya, produktivitas tanaman menurun, risiko gagal tanam meningkat, dan ketidakpastian dalam kegiatan budidaya semakin besar.

Di tingkat petani, perubahan tersebut tidak selalu dipahami sebagai perubahan iklim. Banyak yang masih menganggap fenomena musim yang tidak menentu sebagai “salah musim” yang nantinya akan kembali normal seperti sebelumnya. Padahal, menurut Prof. Bayu, kondisi saat ini menunjukkan bahwa periode El Niño maupun La Niña semakin sering terjadi dengan siklus yang cenderung lebih pendek dibandingkan masa lalu.
Akibatnya, petani tidak lagi dapat sepenuhnya mengandalkan pengalaman masa lalu sebagai dasar pengambilan keputusan.
Ketika Pengalaman Tidak Lagi Cukup
Selama ratusan tahun, pertanian Indonesia berkembang berdasarkan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Petani membaca arah angin, mengamati posisi bintang, mengenali perilaku hewan, dan memahami karakter musim untuk menentukan waktu tanam.
Pengetahuan tersebut tidak kehilangan nilainya. Namun perubahan iklim menghadirkan situasi baru ketika pola yang dahulu dianggap pasti menjadi semakin sulit diprediksi.
Karena itu, Prof. Bayu menegaskan pentingnya peningkatan literasi iklim bagi petani. Mereka perlu memahami bahwa kalender tanam dapat berubah, kebutuhan air tidak lagi sama, dan jenis komoditas yang ditanam mungkin harus disesuaikan dengan kondisi iklim yang berkembang. Tanpa pemahaman tersebut, risiko gagal tanam dan gagal panen akan semakin besar. ]
Dalam konteks inilah informasi menjadi sama pentingnya dengan pupuk, benih, atau irigasi.
Pertanian Berbasis Data
Salah satu pesan penting yang disampaikan Prof. Bayu adalah perlunya transformasi dari pertanian yang bertumpu pada kebiasaan menuju pertanian yang berbasis data.
Saat ini tersedia berbagai teknologi pemantauan cuaca dan kondisi lahan yang memungkinkan petani memperoleh informasi secara lebih akurat. Data mengenai curah hujan, kebutuhan air tanaman, kondisi tanah, hingga potensi cuaca ekstrem dapat menjadi dasar dalam menentukan jadwal tanam maupun strategi pengelolaan lahan. Informasi tersebut juga dapat digunakan untuk membangun sistem peringatan dini terhadap kekeringan atau hujan ekstrem.

Menariknya, menurut Prof. Bayu, adaptasi tidak selalu harus dilakukan melalui teknologi yang mahal. Pengamatan curah hujan menggunakan alat sederhana, pencatatan kondisi lahan secara rutin, dan diskusi antarpetani dalam kelompok tani juga dapat menghasilkan basis data yang sangat berharga. Ketika data tersebut didigitalisasi, petani memiliki informasi yang benar-benar berasal dari lahannya sendiri, bukan sekadar data umum tingkat kabupaten atau kecamatan.
Pendekatan semacam itu memperlihatkan bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim bukan hanya soal teknologi tinggi, melainkan juga soal membangun budaya belajar dan mengelola informasi.
Adaptasi dari Benih hingga Air
Menghadapi El Niño, sektor pertanian tidak cukup hanya dengan mengandalkan harapan agar hujan segera turun. Dibutuhkan langkah-langkah adaptasi yang konkret.
Prof. Bayu menjelaskan bahwa berbagai varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan sebenarnya telah tersedia. Selain itu, terdapat berbagai pendekatan lain seperti pengelolaan tanah yang lebih baik, penggunaan benih dan bibit adaptif, pemanenan air hujan, pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien, serta sistem prediksi iklim yang mampu menjangkau hingga tingkat desa dan lahan pertanian.

Namun tantangan terbesar sering kali bukan ketersediaan teknologi, melainkan proses adopsinya.
Petani secara alami akan berhati-hati terhadap inovasi baru. Mereka mempertimbangkan risiko ekonomi yang mungkin muncul apabila teknologi yang diperkenalkan tidak memberikan hasil sesuai harapan. Karena itu, peran penyuluh pertanian menjadi sangat penting untuk menjembatani inovasi dengan kebutuhan petani melalui pendampingan dan demonstrasi lapangan.
Kunci Ada pada Kolaborasi
Dalam kesimpulannya, Prof. Bayu menegaskan bahwa El Niño merupakan fenomena alam yang menjadi salah satu indikator perubahan iklim yang sedang berlangsung. Karena siklusnya semakin sering terjadi, diperlukan informasi yang cepat, akurat, dan mampu menjangkau sampai ke tingkat petani agar risiko penurunan produktivitas dapat diminimalkan. Implementasi teknologi, inovasi, serta penguatan kerja sama antara petani dan penyuluh menjadi faktor penentu keberhasilan adaptasi dan mitigasi sektor pertanian.

Pesan ini penting karena ketahanan pangan sesungguhnya tidak dibangun ketika krisis sudah terjadi. Ketahanan pangan dibangun jauh sebelumnya melalui penguatan pengetahuan, pengelolaan risiko, serta kesiapan menghadapi ketidakpastian.
Di tengah iklim yang semakin sulit ditebak, sawah-sawah Indonesia sedang menghadapi tantangan baru. El Niño mungkin tidak dapat dicegah. Perubahan iklim juga tidak dapat dihentikan dalam waktu singkat. Namun dampaknya dapat diperkecil apabila petani memperoleh informasi yang memadai, teknologi yang tepat guna, dan dukungan kebijakan yang konsisten.
Pada akhirnya, menjaga ketahanan pangan bukan semata-mata soal mempertahankan hasil panen. Menjaga ketahanan pangan berarti menjaga stabilitas sosial, kesejahteraan masyarakat, dan masa depan Indonesia. Dan semua itu, sebagaimana diingatkan Prof. Bayu, dimulai dari kemampuan kita membaca perubahan yang sedang terjadi di lahan-lahan pertanian negeri ini.
Sumber utama: Paparan Prof. Dr. Bayu Dwi Apri Nugroho dalam Webinar Nasional Kesiapsiagaan Dampak El Niño PP KAGAMA dan Universitas Gadjah Mada, Juli 2026.
