Saat Banjir Merenggut Buku-Buku Mereka, KAGAMA Datang Membawa Harapan

Saat Banjir Merenggut Buku-Buku Mereka, KAGAMA Datang Membawa Harapan

ACEH TAMIANG, KAGAMA — Pagi itu, wajah-wajah berbinar berkumpul di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang. Di antara deretan hunian sementara yang baru berdiri, sejumlah anak menenteng tas sekolah baru. Sebagian membukanya berulang kali, memastikan buku tulis, pensil, dan perlengkapan belajar di dalamnya benar-benar milik mereka.

Bagi banyak orang, tas sekolah mungkin benda biasa. Namun bagi anak-anak Sekumur, benda sederhana itu menyimpan cerita panjang tentang kehilangan, ketakutan, dan harapan yang perlahan ingin mereka rangkai kembali.

Beberapa bulan sebelumnya, banjir bandang yang menerjang kawasan pedalaman Aceh Tamiang menyapu hampir seluruh sendi kehidupan warga. Rumah-rumah rusak, kebun tertimbun lumpur, fasilitas umum terdampak, dan berbagai barang berharga hilang terbawa arus. Banyak anak kehilangan seragam, buku pelajaran, perlengkapan sekolah, bahkan ruang aman untuk belajar. Kampung yang biasanya riuh oleh aktivitas warga mendadak berubah menjadi kawasan yang sibuk berjuang untuk bertahan hidup.

Dalam situasi seperti itu, pendidikan sering kali menjadi kebutuhan yang terabaikan. Ketika keluarga kehilangan rumah dan sumber penghasilan, perhatian utama tertuju pada makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya. Akan tetapi, di balik kebutuhan fisik yang mendesak, terdapat kebutuhan lain yang tidak kalah penting: menjaga agar anak-anak tetap memiliki masa depan.

Kesadaran itulah yang mendorong Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) tidak hanya membangun 26 unit hunian sementara bagi warga terdampak banjir, tetapi juga menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah bagi anak-anak di wilayah terdampak. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan yang memandang bencana bukan hanya sebagai persoalan infrastruktur, melainkan juga persoalan keberlanjutan pendidikan generasi muda.

Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat KAGAMA, Nezar Patria, menyebutkan bahwa selain pembangunan huntara, jaringan alumni UGM juga membantu perbaikan sekolah dan penyediaan perlengkapan pendidikan di sejumlah titik di Aceh Tamiang dan Aceh Timur. Langkah itu dilakukan agar anak-anak yang terdampak bencana dapat kembali belajar dengan lebih baik setelah berbulan-bulan berada dalam situasi darurat.

Di atas kertas, bantuan tas, buku, alat tulis, dan perlengkapan belajar lainnya mungkin terlihat kecil dibanding kerusakan yang ditimbulkan bencana. Namun bagi anak-anak, bantuan itu mengirimkan pesan penting bahwa masa depan mereka tidak ikut hanyut bersama banjir.

Anak-anak selalu menjadi kelompok yang paling rentan ketika bencana datang. Mereka sering kali tidak sepenuhnya memahami apa yang terjadi, tetapi merasakan seluruh dampaknya. Mereka kehilangan ruang bermain, teman belajar, rutinitas sekolah, serta rasa aman yang selama ini dianggap biasa. Ketika perlengkapan sekolah kembali mereka genggam, yang pulih tidak hanya sarana belajar, melainkan juga kepercayaan diri untuk kembali menjalani kehidupan sehari-hari.

Di Kampung Sekumur, upaya menjaga keberlanjutan pendidikan juga memperoleh dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital bahkan berencana memperkuat layanan internet di kawasan hunian sementara. Tujuannya agar anak-anak yang tinggal di huntara tetap memiliki akses terhadap sumber belajar digital selama proses pemulihan berlangsung. Menurut Nezar Patria, konektivitas yang bermakna harus mampu mendukung pendidikan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat terdampak bencana.

Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan pascabencana tidak lagi dipandang sebatas membangun kembali bangunan fisik. Pemulihan juga harus mencakup pembangunan modal manusia. Sekolah yang kembali berjalan, anak-anak yang kembali belajar, serta tersedianya akses informasi merupakan fondasi penting bagi kebangkitan sebuah komunitas.

Rektor UGM Ova Emilia menegaskan bahwa pendampingan terhadap masyarakat Aceh Tamiang akan terus dilakukan. Kampus berencana melibatkan mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik untuk membantu masyarakat menyusun berbagai solusi pemulihan jangka panjang. Langkah tersebut menunjukkan bahwa bantuan kemanusiaan tidak berhenti pada satu kunjungan, melainkan menjadi bagian dari proses pendampingan yang berkelanjutan.

Bagi anak-anak Sekumur, semua upaya itu mungkin tidak dipahami dalam bahasa kebijakan atau program pembangunan. Mereka hanya tahu bahwa hari ini mereka kembali memiliki tas sekolah. Mereka kembali bisa menulis, membaca, dan bercita-cita.

Di tengah deretan huntara yang berdiri di bekas kawasan yang dilanda banjir bandang, suara anak-anak kembali terdengar. Sebagian bercanda memperlihatkan buku baru kepada temannya. Sebagian lain mencoba menuliskan nama mereka di halaman pertama buku tulis yang masih bersih.

Barangkali di situlah makna sesungguhnya dari bantuan pendidikan pascabencana. Yang dibangun bukan sekadar ruang belajar. Yang dipulihkan bukan hanya perlengkapan sekolah. Yang sesungguhnya sedang dijaga adalah mimpi-mimpi anak-anak agar tetap hidup.

Sebab ketika sebuah bencana merenggut rumah dan harta benda, pendidikan sering menjadi satu-satunya warisan masa depan yang masih bisa dipertahankan. Dan di Kampung Sekumur, KAGAMA memilih untuk merawat harapan itu melalui benda-benda sederhana yang setiap hari dibawa anak-anak ke sekolah: tas, buku, dan keyakinan bahwa hidup mereka masih memiliki hari esok.