Kemarau tidak selalu identik dengan langit biru yang menenangkan.
Di Indonesia, kemarau yang diperpanjang oleh fenomena El Niño sering menghadirkan cerita lain. Rumput mengering. Gambut kehilangan kelembapannya. Hutan menjadi lebih mudah terbakar. Dan ketika api mulai menjalar, ancaman terbesar justru tidak selalu terlihat. Ia hadir dalam bentuk partikel-partikel mikroskopis yang melayang di udara, memasuki paru-paru tanpa izin, lalu perlahan menggerogoti kesehatan jutaan orang.
Berulang kali Indonesia belajar dari pengalaman yang sama. Kebakaran hutan besar 1997. Kabut asap lintas negara pada 2015. Berbagai episode kemarau ekstrem yang meninggalkan jejak kerugian ekonomi, sosial, dan kesehatan masyarakat.
Namun di tengah meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, pertanyaannya kini bukan lagi apakah peristiwa serupa akan terjadi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa siap bangsa ini menghadapinya?
Pertanyaan tersebut mengemuka dalam Webinar Nasional“Kesiapsiagaan Dampak El Niño: Memperkuat Ketahanan Kesehatan, Pangan, dan Masyarakat Indonesia” yang diselenggarakan oleh PP KAGAMA bersama Universitas Gadjah Mada pada Juli 2026. Salah satu sorotan utama datang dari dokter spesialis paru dr. Christian Febriandri, Sp.P, yang mengingatkan bahwa ancaman El Niño tidak berhenti pada kekeringan dan krisis air, tetapi merembet hingga persoalan paling dasar dalam kehidupan manusia: kemampuan untuk bernapas dengan aman. ,
Dari Krisis Iklim Menuju Krisis Kesehatan
Dalam diskursus publik, El Niño sering dibicarakan dalam konteks gagal panen, kekurangan air bersih, atau penurunan produksi pangan. Padahal, dampak yang tak kalah serius terjadi pada sektor kesehatan.
Fenomena El Niño merupakan bagian dari siklus iklim global El Niño-Southern Oscillation (ENSO) yang menyebabkan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. Di Indonesia, dampaknya biasanya berupa musim kemarau yang lebih panjang dan curah hujan yang menurun drastis.

Ketika tanah semakin kering, risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat. Api yang membakar vegetasi menghasilkan campuran gas beracun dan partikel halus yang menyebar hingga ratusan bahkan ribuan kilometer.
Bagi masyarakat, asap sering kali hanya terlihat sebagai kabut yang mengganggu pandangan. Namun bagi dunia kesehatan, asap adalah paket lengkap berbagai zat berbahaya yang dapat menyerang hampir seluruh sistem organ tubuh.
Menurut dr. Christian, polusi udara mengandung berbagai komponen seperti karbon monoksida, karbon dioksida, sulfur oksida, nitrogen oksida, ozon, serta material partikulat yang menjadi ancaman utama bagi sistem pernapasan manusia. ,
Musuh Tak Kasatmata Bernama PM2.5
Di antara berbagai jenis polutan, ada satu yang paling dikhawatirkan para ahli kesehatan: PM2.5.
Ini adalah partikel berukuran sangat kecil, sekitar 30 kali lebih kecil dibandingkan diameter rambut manusia. Karena ukurannya yang mikro, PM2.5 mampu menembus pertahanan alami saluran napas dan mencapai bagian terdalam paru-paru. Bahkan sebagian dapat masuk ke dalam aliran darah. ,
Banyak orang menganggap polusi udara hanya menyebabkan batuk atau mata perih. Anggapan tersebut sebenarnya terlalu sederhana.

dersen ZJ, et al. Climate change and respiratory disease: clinical guidance for healthcare professionals. Breathe 2023
Paparan jangka pendek terhadap PM2.5 dapat memicu iritasi mata, hidung, tenggorokan, batuk, sesak napas, hingga peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sementara dalam jangka panjang, paparan berulang dapat mempercepat penurunan fungsi paru, meningkatkan risiko asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), penyakit kardiovaskular, hingga kanker paru. ,
Yang lebih mengkhawatirkan, anak-anak menjadi kelompok yang sangat rentan. Pada masa pertumbuhan, paru-paru mereka masih berkembang sehingga dampak pajanan polusi dapat meninggalkan konsekuensi hingga usia dewasa.
Riau dan Ingatan yang Belum Usai
Bagi masyarakat Riau, ancaman asap bukan sekadar teori akademik.
Bencana kabut asap selama bertahun-tahun telah menjadi pengalaman hidup yang membekas dalam memori kolektif warga. Sekolah diliburkan. Aktivitas ekonomi melambat. Bandara ditutup. Rumah sakit dipenuhi pasien dengan keluhan pernapasan.
Data yang dipaparkan dalam webinar menunjukkan bahwa saat kebakaran besar tahun 2015 terjadi, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan atas di wilayah terdampak mencapai sekitar 75.000 kasus. Penelitian Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) di Riau dan Palembang juga menemukan gejala gangguan pernapasan pada lebih dari dua pertiga responden yang terpapar asap kebakaran. ,
Angka tersebut menggambarkan satu fakta penting: ketika kualitas udara memburuk, dampaknya tidak bersifat abstrak. Ia hadir dalam bentuk anak yang mengalami sesak napas, lansia yang harus dirawat inap, atau pekerja yang kehilangan produktivitas karena penyakit.
Polusi udara pada akhirnya bukan semata isu lingkungan. Ia adalah isu keadilan sosial.
Mereka yang paling rentan sering kali adalah kelompok yang paling sedikit memiliki kemampuan untuk melindungi diri.
Ketika Ketahanan Kesehatan Menjadi Kata Kunci
Perubahan iklim telah mengubah cara dunia memandang bencana.
Jika sebelumnya respons lebih banyak berfokus pada penanganan darurat setelah krisis terjadi, kini perhatian bergeser pada pembangunan ketahanan atau resilience sebelum bencana datang.

Dalam konteks El Niño, ketahanan tersebut mencakup sistem peringatan dini yang efektif, kesiapan fasilitas kesehatan, ketersediaan tenaga medis terlatih, serta komunikasi risiko yang mampu menjangkau masyarakat hingga tingkat paling bawah. ,
Kesiapsiagaan tidak harus selalu dimulai dari teknologi canggih.
Sering kali ia berawal dari tindakan sederhana: memeriksa indeks kualitas udara sebelum beraktivitas, menggunakan masker dengan filtrasi tinggi seperti N95 atau KN95 ketika kualitas udara memburuk, mengurangi aktivitas luar ruang, serta menjaga kualitas udara di dalam rumah. ,
Di era digital, informasi semacam itu seharusnya dapat diakses lebih cepat dibandingkan penyebaran asap itu sendiri.
Namun informasi hanya akan berguna apabila masyarakat memahami risiko yang menyertainya.
Ancaman Masa Depan yang Sudah Datang
Laporan-laporan ilmiah global menunjukkan bahwa perubahan iklim meningkatkan kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem di banyak kawasan dunia. Kemarau panjang, gelombang panas, kebakaran hutan, dan penurunan kualitas udara bukan lagi peristiwa yang jarang terjadi.
Indonesia, dengan bentang hutan tropis yang luas dan kawasan gambut yang rentan terbakar, berada pada posisi yang tidak mudah.
Karena itu, pembelajaran dari setiap episode El Niño harus diterjemahkan menjadi kebijakan jangka panjang, bukan sekadar respons sementara. Investasi pada sistem kesehatan yang tangguh, pengelolaan lahan yang berkelanjutan, pengendalian kebakaran hutan, serta edukasi kesehatan masyarakat harus menjadi satu kesatuan strategi nasional.
Sebab pada akhirnya, ancaman terbesar dari El Niño bukan hanya pada sawah yang gagal panen atau waduk yang mengering.
Ancaman terbesar adalah ketika masyarakat perlahan terbiasa hidup dalam udara yang tidak sehat, menganggap sesak napas sebagai hal biasa, dan memandang kabut asap sebagai rutinitas musiman yang tak terhindarkan.
Padahal setiap partikel yang terhirup menyimpan biaya kesehatan yang harus dibayar kemudian.
Ketika langit mengering dan hujan tak kunjung datang, pertarungan sesungguhnya bukan sekadar menjaga ketersediaan air atau pangan. Pertarungan itu adalah memastikan setiap warga Indonesia tetap memiliki hak paling mendasar: menghirup udara bersih dan bernapas dengan aman.
Dan di era krisis iklim, kemampuan sebuah bangsa melindungi napas warganya mungkin akan menjadi ukuran paling nyata dari ketahanannya.
Sumber utama: Paparan dr. Christian Febriandri, Sp.P dalam Webinar Nasional Kesiapsiagaan Dampak El Niño PP KAGAMA dan Universitas Gadjah Mada, Juli 2026.
