Menjaga Beranda Nusantara: KKN-PPM UGM, KAGAMAHUT, dan KAGAMA Bengkulu Hadirkan Solusi Lingkungan untuk Pulau Enggano

ENGGANO, BENGKULU – Semangat pengabdian untuk negeri kembali bergema dari beranda terluar Indonesia. Kolaborasi KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM), KAGAMAHUT, dan KAGAMA Bengkulu menghadirkan aksi nyata bertajuk “Menuju Enggano Bersih dan Berkelanjutan” yang berlangsung pada 29–30 Juli 2026 di Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu. Kolaborasi lintas generasi ini menjadi bukti bahwa sinergi antara mahasiswa, alumni, pemerintah, dan masyarakat mampu melahirkan solusi nyata bagi pembangunan lingkungan di salah satu pulau terluar dan terdepan Indonesia.

Pulau Enggano merupakan kawasan yang menyimpan kekayaan hayati, keindahan bentang alam, dan ekosistem yang masih terjaga. Namun, di balik pesonanya, pulau ini masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan sampah serta perlunya peningkatan tutupan vegetasi untuk menjaga kualitas lingkungan. Berangkat dari kondisi tersebut, KKN-PPM UGM bersama KAGAMAHUT dan KAGAMA Bengkulu menghadirkan rangkaian kegiatan edukasi pengelolaan sampah dan penghijauan sebagai bagian dari upaya mewujudkan Enggano yang bersih, hijau, dan berkelanjutan.

Kegiatan diawali dengan pelatihan pengelolaan Bank Sampah di Desa Malakoni, Kecamatan Enggano. Pelatihan dipandu oleh Anggun Fitria, Alumni Kehutanan UGM Angkatan 2008, bersama Irma Sri Lestiani, Alumni Fakultas Kehutanan UGM Angkatan 2002, yang tergabung dalam KAGAMAHUT Bengkulu. Sebanyak 15 peserta yang merupakan perwakilan dari seluruh desa di Kecamatan Enggano mengikuti pelatihan tersebut dengan antusias.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pengelolaan sampah dari sumbernya, pembentukan kelembagaan Bank Sampah, hingga peluang peningkatan nilai ekonomi melalui pemanfaatan sampah yang memiliki nilai jual. Materi yang disampaikan diharapkan menjadi bekal bagi masyarakat untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan di wilayahnya masing-masing.

“Pulau Enggano memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Tantangan pengelolaan sampah yang ada bukanlah hambatan, melainkan peluang untuk membangun gerakan bersama. Melalui pelatihan Bank Sampah, kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa sampah memiliki nilai jika dikelola dengan baik. Harapannya, setiap desa di Enggano dapat menjadi pelopor perubahan menuju pulau yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,” ujar Anggun Fitria.

Selain edukasi pengelolaan sampah, komitmen menjaga kelestarian lingkungan diwujudkan melalui kegiatan penanaman pohon di Desa Kaana, Kecamatan Enggano. Sebanyak 1.000 bibit yang terdiri atas alpukat, durian, cemara, dan ketapang ditanam bersama masyarakat sebagai bagian dari upaya meningkatkan tutupan vegetasi, memperkuat fungsi ekologis kawasan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pada masa mendatang.

Kegiatan penanaman difasilitasi oleh Agus Sukamto, Kepala Seksi pada BPDAS Ketahun sekaligus Alumni Fakultas Kehutanan UGM Angkatan 2005. Dukungan BPDAS Ketahun menjadi wujud nyata kolaborasi antara pemerintah, alumni, mahasiswa, dan masyarakat dalam memperkuat rehabilitasi lingkungan berbasis partisipasi masyarakat.

“Penanaman seribu bibit ini merupakan investasi jangka panjang bagi Enggano. Pohon yang kita tanam hari ini bukan hanya untuk menghijaukan kawasan, tetapi juga menjadi warisan bagi generasi mendatang melalui manfaat ekologis, ekonomi, dan sosial yang akan terus dirasakan masyarakat. Rehabilitasi lingkungan tidak akan berhasil tanpa kolaborasi. Karena itu, sinergi antara BPDAS Ketahun, KKN-PPM UGM, KAGAMAHUT, KAGAMA Bengkulu, dan masyarakat menjadi modal besar untuk menjaga Enggano tetap lestari,” ungkap Agus Sukamto.

Pemilihan jenis tanaman produktif seperti alpukat dan durian diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui hasil panen pada masa mendatang, sementara tanaman pelindung seperti cemara dan ketapang berfungsi memperkuat ketahanan lingkungan, menjaga keseimbangan ekosistem, serta mendukung upaya konservasi di kawasan pesisir Pulau Enggano.

Lebih dari sekadar rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat, kolaborasi ini menjadi simbol bahwa pembangunan wilayah terluar Indonesia harus berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan. Semangat gotong royong yang diperlihatkan mahasiswa KKN-PPM UGM, para alumni KAGAMAHUT dan KAGAMA Bengkulu, BPDAS Ketahun, pemerintah daerah, serta masyarakat menjadi kekuatan utama dalam menjawab tantangan lingkungan yang dihadapi Pulau Enggano.

Dari Pulau Enggano, sebuah pesan kuat kembali disuarakan: menjaga lingkungan bukan hanya tentang mengelola sampah atau menanam pohon, tetapi tentang menanam harapan bagi masa depan. Ketika ilmu pengetahuan, pengalaman para alumni, dukungan pemerintah, dan semangat masyarakat dipersatukan, maka Pulau Enggano tidak hanya akan dikenal sebagai pulau terdepan Indonesia, tetapi juga sebagai contoh nyata keberhasilan kolaborasi dalam mewujudkan pembangunan yang bersih, hijau, tangguh, dan berkelanjutan.