Ecoprint di IKN, Ketika Mahasiswa UGM Menenun Kesadaran Slow Fashion dan Pemberdayaan Desa

Di tengah derasnya arus industri fesyen global yang ditandai produksi massal dan pergantian tren yang semakin cepat, sekelompok ibu rumah tangga di Desa Bukit Raya, Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, justru belajar menciptakan selembar kain dengan cara yang jauh lebih lambat. Mereka menyusun dedaunan di atas kain, menggulungnya dengan hati-hati, lalu mengukusnya hingga motif alami tercetak secara permanen. Tidak ada pewarna sintetis, tidak ada mesin industri, dan tidak ada proses instan.

Yang lahir adalah selembar kain ecoprint. Namun lebih dari itu, yang tengah tumbuh adalah kesadaran baru mengenai hubungan antara lingkungan, ekonomi lokal, dan masa depan fesyen yang lebih berkelanjutan.

Inisiatif tersebut diperkenalkan oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam Tim KKN-PPM UGM Pelita Nusantara melalui pelatihan ecoprint bagi kader PKK Desa Bukit Raya di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Kegiatan yang berlangsung pada awal Juli 2026 itu menjadi bagian dari kampanye slow fashion, sebuah konsep yang mendorong penggunaan material ramah lingkungan, produksi berkelanjutan, serta konsumsi fesyen yang lebih bertanggung jawab.

Pada pandangan pertama, kegiatan tersebut mungkin tampak sederhana. Hanya pelatihan kerajinan berbasis daun dan kain. Namun jika ditarik lebih jauh, langkah kecil itu sesungguhnya berada dalam simpul pertemuan berbagai isu besar abad ke-21: perubahan iklim, limbah tekstil, ekonomi kreatif berbasis masyarakat, pemberdayaan perempuan, dan pembangunan kota masa depan yang berkelanjutan. [

Industri Fesyen dan Jejak Lingkungan

Dalam beberapa dekade terakhir, industri fesyen berkembang menjadi salah satu sektor ekonomi terbesar di dunia. Namun di balik pertumbuhan tersebut tersimpan persoalan lingkungan yang tidak kecil.

Data United Nations Environment Programme (UNEP) yang dikutip dalam program KKN-PPM UGM menunjukkan bahwa dunia menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil setiap tahun. Sebagian besar berasal dari produk fesyen cepat (fast fashion) yang didesain untuk diproduksi dalam jumlah besar, berumur pendek, dan cepat digantikan oleh tren baru. Lebih dari separuh bahan baku tekstil global menggunakan poliester atau serat sintetis yang sulit terurai secara alami.

Akibatnya, industri fesyen kini menjadi salah satu penyumbang tekanan lingkungan melalui konsumsi energi, penggunaan air, pencemaran bahan kimia, dan penumpukan sampah tekstil.

Di tengah situasi tersebut, konsep slow fashion muncul sebagai alternatif. Berbeda dengan fast fashion yang mengejar kecepatan dan volume produksi, slow fashion menempatkan keberlanjutan sebagai nilai utama. Material yang digunakan lebih ramah lingkungan, proses produksi dilakukan secara etis, dan produk dirancang memiliki umur pakai lebih panjang.

Di Indonesia, konsep ini mulai menemukan ruang melalui berbagai inisiatif komunitas dan pelaku ekonomi kreatif. Salah satunya melalui teknik ecoprint yang memanfaatkan daun, bunga, dan material alami sebagai pembentuk motif kain.

Belajar dari Alam

Di Desa Bukit Raya, mahasiswa KKN-PPM UGM memperkenalkan teknik tersebut kepada 16 kader PKK. Peserta diajak mengenali berbagai jenis daun yang dapat meninggalkan motif unik pada kain berbahan serat alam, kemudian mempraktikkan langsung seluruh proses pembuatannya mulai dari penataan daun hingga pengukusan.

Selain menghasilkan motif yang khas dan tidak dapat disalin secara identik, teknik ecoprint memiliki keunggulan karena minim bahan kimia sintetis. Setiap lembar kain menjadi karya yang unik karena dipengaruhi bentuk daun, kandungan pigmen alami, suhu, hingga proses pengolahannya.

Bagi sebagian peserta, pelatihan ini menjadi pengalaman pertama berkenalan dengan ecoprint.

Namun yang lebih penting, kegiatan tersebut membuka perspektif baru bahwa sumber daya yang selama ini dianggap biasa ternyata memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan. Daun-daun yang bertebaran di sekitar rumah bisa berubah menjadi produk kreatif berkelas yang memiliki pasar tersendiri.

Penggagas kegiatan, Annisa Attaya Zahra dari Program Studi Sosiologi UGM, berharap pelatihan tersebut dapat membantu masyarakat melihat potensi sumber daya lokal secara lebih kreatif dan berkelanjutan. Menurutnya, alam sekitar menyimpan peluang untuk diolah menjadi produk yang unik, ramah lingkungan, sekaligus bernilai ekonomi.

Dari Keterampilan menjadi Ekonomi Kreatif

Bagi masyarakat desa, ecoprint tidak berhenti sebagai aktivitas edukatif.

Lebih jauh, keterampilan tersebut berpotensi berkembang menjadi unit usaha baru berbasis ekonomi kreatif. Kain ecoprint dapat diolah menjadi tas, syal, pakaian, taplak meja, aksesori, hingga suvenir khas daerah.

Potensi ini menjadi penting, terutama di kawasan sekitar IKN yang sedang mengalami transformasi sosial dan ekonomi secara cepat. Kehadiran IKN membuka peluang pasar baru bagi produk-produk kreatif lokal yang memiliki identitas kuat dan nilai keberlanjutan.

Salah seorang kader PKK Desa Bukit Raya, Judwariyati, menilai sebagian besar peserta sebelumnya belum pernah mengenal ecoprint. Karena itu, pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru sekaligus peluang usaha yang bisa dikembangkan menjadi produk UMKM desa.

Di sinilah letak makna penting program tersebut. Ecoprint bukan hanya tentang menghasilkan kain yang indah. Ia menjadi sarana menghubungkan pelestarian lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

KKN sebagai Jembatan Pengetahuan

Dalam konteks yang lebih luas, kegiatan ini menunjukkan peran strategis KKN-PPM UGM sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.

Melalui pendekatan pemberdayaan, mahasiswa tidak sekadar datang membawa program, melainkan mengembangkan potensi yang telah dimiliki masyarakat. Kegiatan berbasis sumber daya lokal seperti ecoprint memungkinkan transfer pengetahuan yang relatif mudah diterapkan dan berpeluang berlanjut setelah mahasiswa kembali ke kampus.

Peran tersebut semakin kuat dengan keterlibatan Satgas KKN-PPM UGM dan KAGAMA yang selama ini mendukung koordinasi, pembinaan, penguatan jejaring, serta keberlanjutan program-program pengabdian di berbagai wilayah Indonesia. Dalam berbagai pelaksanaan KKN-PPM, KAGAMA tidak hanya hadir sebagai jaringan alumni, tetapi juga menjadi penghubung antara kampus, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat sehingga berbagai program pemberdayaan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang setelah masa KKN berakhir. Berdasarkan model kolaborasi yang dikembangkan UGM, KAGAMA menjadi salah satu aktor penting dalam mendukung persiapan, pelaksanaan, monitoring, hingga keberlanjutan program di masyarakat.

Pendekatan semacam ini menjadi semakin relevan ketika Indonesia menghadapi tantangan pembangunan berkelanjutan. Program yang berhasil bukanlah program yang berhenti pada seremonial atau pelatihan sesaat, melainkan program yang mampu menumbuhkan kapasitas masyarakat dan menciptakan aktivitas ekonomi yang terus bergerak setelah pendampingan selesai.

Menenun Masa Depan yang Berkelanjutan

Pembangunan Ibu Kota Nusantara sering kali dipahami melalui narasi gedung pemerintahan, jalan raya, teknologi digital, atau konsep kota pintar. Padahal keberhasilan sebuah kota masa depan tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur modernnya.

Kota yang berkelanjutan juga membutuhkan masyarakat yang berdaya, ekonomi lokal yang tumbuh, serta budaya produksi dan konsumsi yang ramah lingkungan.

Dalam kerangka itulah pelatihan ecoprint di Desa Bukit Raya menemukan relevansinya. Dari selembar kain yang dicetak menggunakan dedaunan, masyarakat diajak melihat bahwa pembangunan dapat berjalan seiring dengan pelestarian alam. Bahwa inovasi tidak selalu lahir dari teknologi canggih, tetapi bisa muncul dari pemanfaatan sumber daya lokal secara kreatif.

Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, ecoprint mengajarkan sesuatu yang sederhana: terkadang solusi bagi masa depan justru lahir ketika manusia kembali belajar dari alam.

Dan di Desa Bukit Raya, di kawasan yang kelak menjadi pusat pemerintahan Indonesia, pelajaran itu sedang ditenun perlahan oleh tangan-tangan masyarakat bersama mahasiswa KKN-PPM UGM, Satgas KKN-PPM UGM, dan KAGAMA. Sebuah tenunan kecil yang menghubungkan lingkungan, ekonomi, dan harapan akan masa depan yang lebih berkelanjutan.