Dari Lereng Lawu, Bibit-Bibit Harapan Itu Ditanam
Oleh Rahayu Hariyati
Pagi di Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Rabu (29/7/2026), masih diselimuti udara sejuk lereng Lawu. Di halaman rumah Sido Raharjo, Ketua Kelompok Tani Kopi setempat, puluhan bibit kopi tersusun rapi menunggu ditanam. Bagi warga, bibit-bibit itu bukan sekadar tanaman baru, melainkan harapan yang kelak tumbuh bersama masa depan desa.
Hari itu, mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama warga dan pemerintah desa melaksanakan penanaman bibit kopi di dua desa, yakni Wonorejo dan Beruk. Sebanyak 165 bibit kopi disalurkan, terdiri atas 50 bibit varietas Yellow Catura untuk Wonorejo dan 115 bibit Arabika untuk Beruk.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Desa Wonorejo Sularno, Kepala Dusun Eko, Carik Desa Basuki, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Pertanian Purwoto, serta Sido Raharjo selaku tuan rumah. Dari UGM hadir Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-PPM UGM Jatiyoso, Wahyu Dwi Saputra. Sementara dari KAGAMA hadir Rahayu Hariyati sebagai PIC KKN KAGAMA Karanganyar.

Sebanyak 27 mahasiswa KKN-PPM UGM tahun 2026 ditempatkan di Kecamatan Jatiyoso dan terbagi di Desa Wonorejo serta Desa Beruk.
Dalam sambutannya, para kepala desa menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan UGM dan KAGAMA. Namun lebih dari itu, mereka berharap program semacam ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
“Terima kasih atas hibah bibit kopi yang diberikan. Kami berharap ada keberlanjutan program sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar salah satu kepala desa.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Jatiyoso merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi pengembangan kopi rakyat. Di Wonorejo, misalnya, kelompok tani yang tergabung dalam komunitas Wonosari 6 telah lama mengembangkan berbagai jenis kopi dan metode pascapanen, mulai dari Arabika, Robusta, natural process, full wash, semi wash hingga kopi asalan.

Menurut Sido Raharjo, varietas Ateng Super telah menjadi andalan petani sejak 1991. Kini para petani mulai mencoba mengembangkan Yellow Catura sebagai varietas baru yang diharapkan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Kalau dirawat dengan baik, dua sampai tiga tahun lagi sudah mulai berbuah,” katanya.
Sambil menikmati seduhan kopi Yellow Catura yang memiliki karakter rasa asam yang khas, para tamu juga disuguhi singkong Jalak Towo, komoditas pertanian yang menjadi kebanggaan warga setempat. Perbincangan tentang kopi pun mengalir hangat, mulai dari teknik budidaya hingga peluang pasar yang terus berkembang.

Dari Wonorejo, rombongan bergerak menuju Desa Beruk. Kegiatan penanaman dilanjutkan di kawasan Tubing Muslim yang dikelola warga. Hadir Kepala Desa Beruk Suparto, Carik Desa Rahmat, serta Janto selaku pengelola kawasan wisata tersebut.
Beruk memiliki cerita yang sedikit berbeda. Di desa ini, kopi Arabika menjadi salah satu komoditas unggulan yang mulai berkembang. Sebagai sajian penyambut tamu, warga menyuguhkan kopi Arabika bersama gemblong cotot, penganan tradisional berbahan singkong yang diisi gula dan digoreng.

Bagi mahasiswa KKN, kegiatan penanaman bibit bukan hanya tentang bercocok tanam. Mereka belajar membaca potensi desa sekaligus memahami bahwa pembangunan masyarakat membutuhkan proses panjang dan kolaborasi berbagai pihak.
Koordinator Mahasiswa Unit (Kormanit) Jatiyoso, Hafiz, bersama para Koordinator Mahasiswa Desa (Kormasit) Ceri, Iqbal, Haqi, dan Nurul, menjadi bagian dari upaya tersebut. Seluruh kegiatan KKN di wilayah ini berada dalam koordinasi Prof. Dr. H. Suratman, M.Sc. sebagai Koordinator Wilayah.

Dalam kesempatan itu, Wahyu Dwi Saputra mengingatkan bahwa kesuksesan program tidak diukur dari jumlah bibit yang ditanam, melainkan dari seberapa banyak yang berhasil tumbuh dan menghasilkan.
“Bibit yang sudah ditanam ini harus dipelihara bersama agar benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Semangat serupa juga menjadi dasar keterlibatan KAGAMA melalui Satgas KKN UGM x KAGAMA. Kolaborasi ini dibangun untuk memperkuat hubungan antara kampus, alumni, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menyukseskan program pengabdian mahasiswa.
Melalui jaringan alumninya, KAGAMA membantu menjembatani komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, serta mendorong keberlanjutan program setelah masa KKN berakhir. Kehadiran alumni diharapkan menjadi penghubung antara gagasan yang dibawa mahasiswa dengan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan.
“Semoga dari bibit yang sedikit ini lahir manfaat yang besar, tumbuh keberkahan, dan menjadi amal baik yang terus mengalir bagi semua pihak yang terlibat,” kata Rahayu Hariyati.

Di lereng Lawu, bibit-bibit kopi itu kini tertanam di tanah yang subur. Namun sesungguhnya, yang sedang ditanam bukan hanya kopi. Ada harapan tentang masa depan pertanian, tentang kolaborasi kampus dan alumni, serta tentang keyakinan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil yang dilakukan bersama.
(Rahayu Hariyati, PIC KKN Satgas KKN UGM x KAGAMA dan Sekretaris KAGAMA Karanganyar)
