Di sebuah pulau yang selama puluhan tahun dikenal dunia karena keindahan taman lautnya, denyut kehidupan masyarakat tidak selalu berjalan seiring dengan gemerlap industri pariwisata. Akses pelayanan dasar, administrasi kependudukan, hingga ruang ekspresi budaya masih menjadi kebutuhan yang terus diperjuangkan warga kepulauan.
Karena itu, ketika lapangan di Pulau Bunaken dipenuhi warga yang datang untuk menikmati pertunjukan seni, memeriksakan kesehatan, mengurus dokumen kependudukan, hingga menyaksikan karya-karya kreatif generasi muda, suasana yang tercipta bukan sekadar pesta rakyat. Ia menjadi ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan, pelayanan publik, dan harapan masyarakat.
Melalui Pesta Rakyat Bunaken 2026, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada menghadirkan sebuah model pengabdian yang melampaui kegiatan seremonial. Kegiatan yang berlangsung pada 31 Juli hingga 1 Agustus 2026 tersebut memadukan promosi wisata, pemberdayaan masyarakat, layanan kesehatan, dan administrasi kependudukan dalam satu rangkaian kegiatan terpadu.
Bagi masyarakat Bunaken, kehadiran layanan kesehatan gratis dari Dinas Kesehatan Kota Manado dan pelayanan administrasi dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil memiliki arti yang sangat nyata. Warga tidak perlu menempuh perjalanan laut menuju daratan Manado untuk mendapatkan layanan yang mereka butuhkan. Kehadiran pemerintah justru mendatangi warga melalui ruang yang diciptakan para mahasiswa.

Camat Bunaken Kepulauan Imanuel Mandak menilai kegiatan tersebut berhasil memadukan hiburan rakyat dengan pelayanan publik yang langsung dirasakan manfaatnya masyarakat. Menurutnya, kegiatan semacam ini menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa dapat menjadi penghubung efektif antara kebutuhan warga dan layanan pemerintah daerah.
Namun, makna Pesta Rakyat Bunaken tidak berhenti pada layanan publik. Di panggung utama, identitas masyarakat pulau tampil sebagai tokoh utama. Peragaan busana profesi yang menampilkan nelayan, petani, penyelam, dan penjual cendera mata menghadirkan gambaran tentang wajah asli Bunaken. Di tengah arus modernisasi pariwisata, masyarakat memperlihatkan bahwa mereka bukan sekadar pelengkap destinasi wisata, melainkan pelaku utama yang menjaga kehidupan dan keberlanjutan pulau.
Pilihan menghadirkan profesi keseharian warga sebagai tema pertunjukan terasa sangat relevan. Bunaken selama ini lebih sering dipromosikan melalui keindahan bawah lautnya. Padahal, kekuatan destinasi sesungguhnya terletak pada manusia yang hidup dan bekerja di dalamnya. Nelayan yang menjaga laut, petani yang mengelola lahan, penyelam yang mengenalkan ekosistem terumbu karang, serta para pelaku usaha kecil yang melayani wisatawan merupakan bagian penting dari ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.
Di balik penyelenggaraan kegiatan tersebut, terdapat daya dukung yang tidak kalah penting, yakni keterlibatan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA). Pada pembukaan acara, hadir Taufik M. Tumbelaka yang mewakili KAGAMA Sulawesi Utara dan KAGAMA Kota Manado. Kehadiran alumni menjadi simbol bahwa pengabdian UGM kepada masyarakat tidak berhenti ketika mahasiswa menyelesaikan masa studinya. Sebaliknya, pengabdian merupakan mata rantai yang terus tersambung melalui jejaring alumni di berbagai daerah.
Dukungan tersebut sejalan dengan peran Satgas KKN-PPM UGM x KAGAMA yang dalam beberapa tahun terakhir mengembangkan kolaborasi antara mahasiswa KKN, pemerintah daerah, komunitas lokal, dan jaringan alumni. Kehadiran satgas menjadi jembatan yang mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan sumber daya, pengalaman, dan jejaring yang dimiliki para alumni UGM di daerah. Melalui mekanisme ini, program KKN tidak hanya berorientasi pada keberhasilan selama masa penugasan mahasiswa, tetapi juga pada keberlanjutan dampaknya setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Pengalaman di Bunaken memperlihatkan bagaimana kolaborasi tersebut bekerja. Pemerintah Kota Manado menyediakan dukungan kelembagaan dan pelayanan publik, mahasiswa menghadirkan energi, inovasi, dan gagasan segar, sementara KAGAMA memperkuat jejaring serta membangun konektivitas dengan berbagai pemangku kepentingan lokal. Kombinasi ketiganya menghasilkan manfaat yang dirasakan langsung masyarakat.
Sesungguhnya, yang ditunjukkan Pesta Rakyat Bunaken adalah wajah lain dari pembangunan Indonesia. Bukan pembangunan yang diukur semata melalui angka investasi atau statistik kunjungan wisatawan, melainkan pembangunan yang tumbuh dari ruang-ruang perjumpaan. Ruang ketika kampus hadir di tengah masyarakat, ketika pemerintah mendekatkan layanan kepada warga, dan ketika alumni memilih tetap terhubung dengan misi pengabdian almamaternya.
Di pulau kecil yang menghadap Laut Sulawesi itu, pesta rakyat menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia menjelma menjadi pengingat bahwa pembangunan yang paling bermakna adalah pembangunan yang membuat masyarakat merasa dilibatkan, didengarkan, dan memperoleh manfaat nyata.
Dan di situlah arti penting KKN masih tetap relevan hingga hari ini: menghadirkan kampus bukan sebagai menara gading, melainkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Bunaken, untuk dua hari itu, menunjukkan bahwa gotong royong antara mahasiswa, alumni, pemerintah, dan warga masih menjadi resep terbaik untuk merawat harapan dari pulau-pulau terdepan Indonesia.
