Menimba Harapan dari Sumur Solidaritas

Menimba Harapan dari Sumur Solidaritas

Di tengah derasnya arus informasi dan cepatnya pergantian isu publik, bencana selalu menyisakan satu kenyataan yang tak pernah berubah: masyarakat terdampak membutuhkan bantuan yang nyata, cepat, dan berkelanjutan. Ketika negara bekerja melalui berbagai instrumen penanggulangan bencana, kekuatan masyarakat sipil hadir melengkapi, memperkuat, sekaligus menjaga denyut kemanusiaan agar tetap hidup.

Semangat itulah yang terlihat ketika Keluarga Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (FISIPOL UGM) menyalurkan bantuan kemanusiaan sebesar Rp50 juta melalui Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi DKI Jakarta untuk mendukung penanganan masyarakat terdampak bencana di Aceh. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Ketua Keluarga Alumni FISIPOL UGM, Pulung Agustanto, kepada Ketua PMI Provinsi DKI Jakarta Beky Mardani di Markas PMI Provinsi DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Kamis (30/7/2026).

Bagi sebagian orang, angka Rp50 juta mungkin tidak terlalu besar dibandingkan kebutuhan pemulihan pascabencana yang mencapai miliaran rupiah. Namun, dalam kerja-kerja kemanusiaan, nilai sebuah bantuan tidak semata diukur dari besarnya nominal. Yang lebih penting adalah makna sosial yang dikandungnya: kepedulian, empati, serta kesediaan untuk ikut memikul beban sesama warga bangsa yang sedang menghadapi kesulitan.

Dalam sambutannya, Pulung Agustanto menegaskan bahwa donasi tersebut merupakan wujud kepedulian seluruh keluarga alumni FISIPOL UGM terhadap masyarakat yang terdampak bencana. Ia berharap bantuan dapat segera disalurkan kepada warga yang masih membutuhkan dukungan, khususnya untuk pemenuhan kebutuhan air bersih.

Pernyataan tersebut menyentuh salah satu persoalan paling mendasar dalam situasi pascabencana. Ketika banjir surut, longsor berhenti, atau masa tanggap darurat dinyatakan selesai, tidak serta-merta persoalan masyarakat berakhir. Justru pada fase pemulihan, berbagai kebutuhan dasar sering kali menjadi tantangan yang lebih berat. Salah satunya adalah akses terhadap air bersih.

Air bersih merupakan kebutuhan yang kerap luput dari perhatian publik. Padahal, dalam banyak kasus bencana, kerusakan infrastruktur menyebabkan distribusi air terganggu selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Sungai dan sumur dapat tercemar, jaringan perpipaan rusak, sementara masyarakat tetap membutuhkan air untuk minum, memasak, mandi, mencuci, hingga menjaga sanitasi lingkungan.

Ketua PMI Provinsi DKI Jakarta Beky Mardani mengungkapkan bahwa sejak masa tanggap darurat bencana di Sumatera, PMI se-DKI Jakarta terus memberikan layanan kemanusiaan, tidak hanya di Aceh tetapi juga di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Bantuan yang disalurkan mencakup paket sembako, layanan kesehatan, dukungan psikososial, promosi kesehatan, hingga distribusi air bersih.

Menurut Beky, berdasarkan informasi PMI Aceh, khususnya di Kabupaten Bener Meriah, kebutuhan air bersih masih menjadi prioritas utama. Karena itu, PMI Provinsi DKI Jakarta berencana kembali mengirimkan tim kemanusiaan pada akhir Agustus 2026 untuk memperkuat dukungan kepada masyarakat terdampak.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan bencana bukanlah peristiwa sesaat. Ia merupakan proses panjang yang membutuhkan kesinambungan dukungan. Dalam banyak keadaan, kebutuhan terbesar justru muncul ketika sorotan media dan perhatian publik mulai bergeser ke isu lain.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia. Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2024 yang diterbitkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa berbagai wilayah di Indonesia masih menghadapi ancaman multi-bahaya, mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, kekeringan, hingga cuaca ekstrem. Risiko tersebut tidak hanya ditentukan oleh kondisi geografis, tetapi juga oleh tingkat kerentanan masyarakat dan kapasitas pemulihan yang dimiliki.

Data BNPB menunjukkan bahwa jutaan warga Indonesia hidup di wilayah dengan tingkat paparan bencana yang tinggi. Di tengah realitas tersebut, kemampuan masyarakat untuk membangun solidaritas menjadi bagian penting dari ketahanan nasional. Negara memang memiliki kewajiban utama dalam penanggulangan bencana, tetapi pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa kekuatan masyarakat sipil sering menjadi faktor yang menentukan cepat atau lambatnya proses pemulihan.

Dalam konteks itulah, akses terhadap air bersih memiliki arti yang jauh melampaui kebutuhan sehari-hari. UNICEF Indonesia menegaskan bahwa air, sanitasi, dan kebersihan merupakan faktor mendasar dalam menjaga kesehatan masyarakat. Gangguan terhadap akses air bersih dapat meningkatkan risiko penyakit menular, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.

Karena itu, dalam standar respons kemanusiaan modern, penyediaan air bersih tidak lagi dipandang sebagai bantuan pelengkap. Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang berkaitan langsung dengan martabat manusia dan keberlangsungan kehidupan. Tanpa akses air bersih, proses pemulihan kesehatan, pendidikan, maupun kegiatan ekonomi masyarakat akan berjalan jauh lebih lambat.

PMI telah lama menjadikan penyediaan air bersih sebagai salah satu layanan utama dalam operasi kebencanaannya. Melalui pendekatan Water, Sanitation and Hygiene Promotion (WASH), PMI tidak hanya mendistribusikan air bersih, tetapi juga mengembangkan layanan sanitasi dan edukasi kesehatan masyarakat. Berbagai operasi kebencanaan PMI menunjukkan bahwa distribusi air bersih hampir selalu menjadi kebutuhan prioritas di wilayah terdampak.

Karena itu, keputusan Keluarga Alumni FISIPOL UGM menyalurkan bantuan melalui PMI memiliki makna strategis. Bantuan tidak sekadar disalurkan, tetapi dikelola melalui jaringan kemanusiaan yang memiliki pengalaman, kapasitas, dan sistem distribusi yang memadai. Dengan cara itu, bantuan dapat menjangkau kelompok yang paling membutuhkan dan digunakan sesuai prioritas di lapangan.

Lebih jauh lagi, aksi tersebut mencerminkan transformasi positif organisasi alumni di Indonesia. Selama ini, komunitas alumni sering dipandang hanya sebagai ruang silaturahmi atau jejaring profesional. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak organisasi alumni yang tampil sebagai kekuatan sosial yang berkontribusi dalam pendidikan, kesehatan, lingkungan, pemberdayaan masyarakat, hingga kebencanaan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa modal sosial yang dimiliki para alumni merupakan aset bangsa yang sangat berharga. Jaringan yang tersebar di berbagai sektor memungkinkan mobilisasi sumber daya dilakukan secara cepat ketika masyarakat membutuhkan bantuan. Dalam situasi darurat, modal sosial semacam itu sering kali menjadi jembatan yang menghubungkan kepedulian dengan tindakan nyata.

Bagi alumni FISIPOL UGM, keterlibatan dalam aksi kemanusiaan tersebut juga merefleksikan nilai-nilai yang telah lama menjadi fondasi pendidikan ilmu sosial dan politik: kepekaan terhadap persoalan publik, keberpihakan kepada kelompok rentan, serta kesadaran bahwa ilmu pengetahuan semestinya membawa manfaat bagi masyarakat luas.

Pada akhirnya, donasi Rp50 juta yang disalurkan melalui PMI mungkin hanya satu titik kecil dalam peta besar pemulihan pascabencana di Aceh. Namun, dari titik kecil itu terpancar pesan yang sangat penting. Bahwa di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, solidaritas masih hidup. Bahwa kepedulian tidak mengenal batas geografis. Dan bahwa gotong royong tetap menjadi kekuatan yang mampu menjembatani jarak antara mereka yang membutuhkan dan mereka yang tergerak untuk membantu.

Bencana memang dapat merobohkan rumah, merusak infrastruktur, dan menghentikan aktivitas masyarakat untuk sementara waktu. Namun, selama semangat saling membantu tetap mengalir di tengah kehidupan bersama, selalu ada harapan yang dapat ditimba dari sumur solidaritas. Sebab pada akhirnya, yang mengalir kepada para penyintas bukan hanya bantuan, melainkan juga keyakinan bahwa mereka tidak pernah menghadapi masa sulit itu sendirian.