YOGYAKARTA, KAGAMA — Bencana tidak selalu datang dalam bentuk gempa bumi, tsunami, atau banjir besar yang menghancurkan dalam sekejap. Ada bencana yang hadir perlahan, nyaris tanpa suara, tetapi dampaknya mampu menjalar ke mana-mana: sawah mengering, harga pangan naik, hutan terbakar, udara tercemar, dan kesehatan masyarakat terancam. Bencana itu bernama kemarau ekstrem.
Indonesia kini menghadapi peringatan dini atas kemungkinan terjadinya El Niño pada 2026. Para ilmuwan iklim mengingatkan bahwa fenomena tersebut berpotensi menjadi salah satu episode El Niño yang kuat, bahkan disebut sebagian kalangan sebagai Godzilla El Niño. Jika skenario itu terjadi bersamaan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif, sebagian wilayah Indonesia berisiko mengalami kemarau yang lebih panjang, lebih panas, dan lebih kering daripada biasanya.
Ancaman tersebut menjadi perhatian utama dalam webinar “Kesiapsiagaan Dampak El Niño: Memperkuat Ketahanan Kesehatan, Pangan, dan Masyarakat Indonesia” yang diselenggarakan Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (PP KAGAMA) bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada pada 18 Juli 2026. Dalam kesempatan itu, Guru Besar UGM sekaligus pakar kebencanaan, Prof. Dwikorita Karnawati, mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh memandang El Niño sekadar fenomena meteorologi, melainkan ancaman multidimensi yang dapat memengaruhi seluruh sendi kehidupan masyarakat. ,
Ketika Awan Menjauh dari Nusantara
Secara ilmiah, El Niño terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menghangat di atas kondisi normal. Pemanasan tersebut menggeser pusat pembentukan awan hujan menjauh dari wilayah Indonesia ke arah Pasifik. Akibatnya, curah hujan di Nusantara berkurang secara signifikan.

Proses terjadinya fenomena El Nino Sumber: BMKG (2026)
Dalam kondisi normal, hujan menjadi penyangga utama berbagai sektor kehidupan Indonesia. Dari sekitar 270 juta penduduk, sebagian besar kebutuhan air untuk pertanian, rumah tangga, hingga industri masih sangat bergantung pada siklus hujan. Ketika siklus itu terganggu, dampaknya tidak berhenti pada persoalan cuaca semata.
Prediksi BMKG yang dipaparkan dalam webinar menunjukkan sekitar 61,4 persen zona musim Indonesia diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Agustus 2026. Selama periode Juni hingga Oktober, curah hujan di sejumlah wilayah diproyeksikan berada pada kategori rendah hingga sangat rendah.
Bagi sebagian masyarakat kota, berkurangnya hujan mungkin hanya berarti langit yang lebih cerah. Namun, bagi petani, nelayan, peternak, serta masyarakat pedesaan, perubahan itu bisa menjadi soal hidup dan mati.
Pangan yang Menjadi Taruhan
Ancaman pertama dan paling nyata adalah sektor pangan.
Kemarau panjang berarti pasokan air irigasi berkurang. Sawah yang biasanya memperoleh cukup air mulai kekurangan pasokan. Kalender tanam menjadi berantakan. Risiko gagal panen meningkat. Produksi pangan menurun.
Pengalaman Indonesia pada berbagai episode El Niño sebelumnya menunjukkan bahwa kekeringan hampir selalu berujung pada terganggunya produksi beras, jagung, dan sejumlah komoditas pangan strategis lainnya. Ketika produksi berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga pangan terdorong naik.
Kenaikan harga pangan tidak hanya membebani rumah tangga miskin. Dampaknya dapat merembet menjadi tekanan inflasi yang memengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Dengan kata lain, kekeringan yang berawal dari dinamika samudra ribuan kilometer dari Indonesia pada akhirnya dapat terasa hingga ke meja makan masyarakat.
Karena itu, penyesuaian pola tanam menjadi langkah krusial. Pemerintah daerah, dinas pertanian, dan kelompok tani didorong untuk menggunakan informasi iklim secara lebih akurat agar jenis tanaman, waktu tanam, dan kebutuhan air dapat disesuaikan dengan kondisi yang berkembang. ,
Krisis Air yang Mengintai
Selain pangan, ketersediaan air bersih menjadi persoalan yang tidak kalah serius.
Ketika hujan berkurang, debit sungai menurun. Waduk menyusut. Mata air melemah. Sumur masyarakat menjadi lebih dangkal. Di sejumlah daerah yang rentan kekeringan, masyarakat bahkan harus membeli air bersih atau mengandalkan distribusi tangki air.
Dalam paparannya, Dwikorita menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya air sejak sebelum kemarau mencapai puncaknya. Air perlu diperlakukan sebagai tabungan yang harus disimpan ketika masih tersedia. Bendungan, embung, waduk, serta berbagai sarana penampungan air harus dioptimalkan. Pemanenan air hujan juga perlu digencarkan selama hujan masih turun. ,

Pesan tersebut sesungguhnya mencerminkan perubahan paradigma yang penting. Selama ini, banyak wilayah baru menyadari pentingnya konservasi air ketika kekeringan telah terjadi. Padahal, ketahanan air dibangun jauh sebelum krisis muncul.
Api di Atas Gambut
Di Indonesia, kemarau panjang hampir selalu membawa satu ancaman lain yang tak kalah menakutkan: kebakaran hutan dan lahan.
Ketika lahan gambut mengering, bahaya meningkat berkali-kali lipat. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga menjalar ke lapisan gambut di bawah tanah yang sulit dipadamkan. Kebakaran semacam ini dapat berlangsung berbulan-bulan dan menghasilkan asap lintas wilayah.

Dwikorita menyebut sejumlah daerah dengan tingkat kerawanan tinggi, antara lain Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Nusa Tenggara Timur. Wilayah-wilayah itu memiliki kombinasi faktor yang membuat risiko kebakaran meningkat, mulai dari kondisi lahan, panjangnya musim kemarau, hingga aktivitas manusia.
Bagi masyarakat Riau, ancaman tersebut bukan cerita baru. Ingatan tentang kabut asap yang menutup langit, melumpuhkan transportasi, mengganggu sekolah, hingga meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut masih tersimpan kuat.
Karena itu, pencegahan menjadi kunci. Pengelolaan tata air gambut, patroli terpadu, pemantauan titik panas secara real time, serta larangan pembukaan lahan dengan cara membakar harus diperkuat sejak dini. Seperti diingatkan Dwikorita, biaya pencegahan jauh lebih murah dibandingkan biaya pemadaman ketika kebakaran telah meluas. ,
Pentingnya Peringatan Dini
Salah satu pesan paling kuat dalam webinar tersebut adalah pentingnya memanfaatkan informasi iklim.
BMKG saat ini menyediakan berbagai layanan prakiraan musim, peta kekeringan meteorologis, hingga peringatan dini yang diperbarui secara berkala. Informasi tersebut bahkan tersedia hingga tingkat kabupaten dan kecamatan. Namun, informasi yang baik hanya akan berguna ketika digunakan untuk mengambil keputusan.
Karena itu, pemerintah daerah didorong untuk aktif berkoordinasi dengan stasiun klimatologi BMKG di masing-masing wilayah. Penetapan status siaga darurat kekeringan maupun kebakaran hutan perlu dilakukan berdasarkan data dan perkembangan kondisi lapangan sehingga bantuan dapat disalurkan lebih cepat dan tepat sasaran.
Di sinilah peringatan dini menemukan makna sesungguhnya. Tujuannya bukan sekadar memberi tahu bahwa kemarau akan datang, melainkan memungkinkan masyarakat melakukan tindakan sebelum dampak terburuk terjadi.
Ketahanan yang Dibangun Sebelum Krisis
Pada akhirnya, tidak ada negara yang mampu menghentikan El Niño. Tidak ada teknologi yang bisa mengendalikan pergerakan samudra dan atmosfer bumi.
Yang dapat dilakukan adalah memperkuat ketahanan.
Ketahanan pangan dibangun melalui penyesuaian pola tanam dan perlindungan produksi pertanian. Ketahanan air dibangun melalui konservasi dan penyimpanan air. Ketahanan kesehatan diperkuat melalui antisipasi krisis air bersih, polusi asap, dan cuaca panas ekstrem. Ketahanan sosial dibangun melalui kolaborasi pemerintah, ilmuwan, masyarakat, dan dunia usaha. ,
Indonesia telah berkali-kali menghadapi kemarau panjang. Namun, di tengah perubahan iklim global yang membuat cuaca semakin sulit diprediksi, pengalaman masa lalu saja tidak lagi cukup.
Kemarau 2026 mungkin menjadi ujian besar. Namun, ujian itu juga dapat menjadi kesempatan untuk membangun budaya antisipasi yang selama ini kerap terlambat tumbuh.
Seperti diingatkan Prof. Dwikorita Karnawati, bencana bukanlah ketika hujan berhenti turun. Bencana terjadi ketika manusia gagal mempersiapkan diri menghadapi kenyataan bahwa kemarau panjang telah datang.
