KKN UGM dan KAGAMA di Garis Depan Adaptasi Iklim: Dari Desa Menata Ketahanan Bangsa Menghadapi El Niño
YOGYAKARTA. Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan. Ia telah hadir sebagai kenyataan yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari: musim hujan yang bergeser, kemarau yang semakin panjang, krisis air bersih, ancaman gagal panen, hingga kebakaran hutan dan lahan yang berulang. Dalam konteks itulah, Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) menempatkan Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) sebagai salah satu garda terdepan dalam memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim.
Pesan tersebut mengemuka dalam Webinar Nasional bertajuk “Kesiapsiagaan Dampak El Niño terhadap Ketahanan Kesehatan, Pangan, dan Masyarakat Indonesia”, yang diselenggarakan oleh KAGAMA dan UGM sebagai bagian dari pembekalan ribuan mahasiswa KKN yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Webinar menghadirkan sejumlah pakar lintas disiplin, mulai dari mantan Kepala BMKG Prof. Dwikorita Karnawati, Guru Besar Agroklimatologi UGM Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, Guru Besar Teknik Geodesi UGM Prof. Leni Sofia Heliani, hingga dokter spesialis paru dr. Kristian Febriandri.
KKN sebagai Jembatan Ilmu dan Kebutuhan Masyarakat
Dalam sambutannya, perwakilan Pengurus Pusat KAGAMA Sulastama Raharja menegaskan bahwa KKN UGM memiliki posisi strategis dalam menjawab tantangan perubahan iklim. Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta pembelajaran, tetapi juga sebagai agen transformasi sosial yang menghubungkan pengetahuan kampus dengan kebutuhan riil masyarakat.
Menurutnya, melalui kehadiran mahasiswa di desa-desa, masyarakat dapat memperoleh pendampingan terkait konservasi air, pengelolaan lingkungan, diversifikasi pangan lokal, pertanian cerdas iklim, hingga edukasi kesehatan di tengah musim kemarau yang semakin ekstrem. KKN menjadi medium agar hasil riset kampus tidak berhenti di laboratorium atau ruang akademik, melainkan hadir sebagai solusi yang dirasakan langsung masyarakat.
Karena itu, KAGAMA mendorong kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, alumni, pemerintah, dunia usaha, media, dan masyarakat dalam membangun desa-desa yang tangguh menghadapi risiko kekeringan, krisis air, serta berbagai dampak perubahan iklim lainnya.
Senada dengan itu, Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni Dr. Ari Sujito menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk terlibat dalam mitigasi kerusakan lingkungan melalui ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, dan jejaring sosial yang dimiliki.
Menurut Ari, perubahan iklim merupakan akumulasi berbagai bentuk eksploitasi alam yang dilakukan selama bertahun-tahun. Karena itu, upaya membangun kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan harus menjadi gerakan jangka panjang yang dimulai dari langkah-langkah sederhana namun konsisten. KKN, kata dia, merupakan arena strategis untuk membumikan nilai-nilai kepedulian lingkungan di tengah masyarakat.
El Niño Sudah Datang, Saatnya Bersiaga
Pada sesi utama, Prof. Dwikorita Karnawati mengingatkan bahwa Indonesia tidak lagi berada pada tahap mengantisipasi El Niño. Menurutnya, fenomena tersebut telah berlangsung dan saat ini masyarakat harus memasuki tahap kesiapsiagaan.
Dwikorita menjelaskan bahwa El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang menyebabkan pusat pertumbuhan awan hujan bergeser menjauhi wilayah Indonesia. Akibatnya, pasokan uap air yang biasanya membentuk hujan di wilayah Nusantara berkurang secara signifikan.
Kondisi menjadi lebih berat karena pada saat yang sama terjadi fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia yang turut “merebut” uap air dari wilayah Indonesia. Kombinasi kedua fenomena tersebut menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Berdasarkan proyeksi BMKG yang dipaparkan Dwikorita, puncak dampak kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga September, dengan tingkat probabilitas El Niño kuat mencapai sekitar 80 persen. Dampaknya antara lain berupa kekeringan, berkurangnya cadangan air, risiko gagal panen, peningkatan kebakaran hutan dan lahan, gangguan kesehatan, hingga tekanan terhadap ketahanan pangan.
Karena itu, ia menilai mahasiswa KKN memiliki peran penting sebagai pendamping masyarakat. Mahasiswa diharapkan aktif memantau informasi iklim dari BMKG, membantu sosialisasi langkah-langkah antisipasi kekeringan, mengedukasi masyarakat untuk memanen air hujan, memeriksa kesiapan sarana irigasi dan pompa air, serta mengingatkan aparat setempat terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
“KKN bukan pelaku utama, tetapi advisor, motivator, dan penghubung informasi yang sangat penting bagi masyarakat,” tegas Dwikorita.
Ancaman Kesehatan Mengintai
Dari sektor kesehatan, dr. Kristian Febriandri mengingatkan bahwa El Niño sering kali diikuti peningkatan kebakaran hutan dan lahan yang berdampak langsung pada kualitas udara. Polusi akibat asap kebakaran dapat meningkatkan angka penyakit saluran pernapasan akut (ISPA), asma, penyakit paru obstruktif kronik, hingga infeksi paru lainnya.
Menurutnya, partikel halus PM2,5 yang banyak dihasilkan dari kebakaran hutan merupakan ancaman serius karena mampu masuk hingga bagian terdalam paru-paru. Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta mereka yang memiliki penyakit pernapasan kronis.

Karena itu, masyarakat diminta memantau kualitas udara secara berkala, mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker yang sesuai, menjaga pola hidup sehat, serta melakukan vaksinasi bagi kelompok rentan. [KKN
Pertanian Memerlukan Adaptasi Baru
Sementara itu, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho menekankan bahwa sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang paling terdampak oleh perubahan iklim. Pergeseran awal musim hujan dan kemarau membuat pola tanam tradisional yang selama ini digunakan petani semakin sulit diprediksi.
Ia menjelaskan bahwa iklim memiliki karakter yang dinamis, fluktuatif, dan spesifik lokasi. Karena itu, pendekatan pertanian masa depan harus berbasis data iklim yang lebih presisi hingga tingkat desa dan lahan pertanian.

Menurut Bayu, adaptasi dapat dilakukan melalui pemanfaatan teknologi pemantauan cuaca, penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan, pengelolaan air yang efisien, pemanenan air hujan, serta penguatan sistem peringatan dini di tingkat lokal.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan literasi iklim bagi petani. Selama ini banyak petani menganggap perubahan musim sebagai “salah mongso” atau sekadar penyimpangan sementara, padahal perubahan yang terjadi sudah menunjukkan pola yang lebih permanen akibat perubahan iklim global.
Desa 3T sebagai Laboratorium Hidup Adaptasi Iklim
Perspektif menarik disampaikan Prof. Leni Sofia Heliani berdasarkan pengalamannya membimbing program KKN UGM di berbagai wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), seperti Kepulauan Sangihe dan Maluku Tenggara.
Menurut Leni, wilayah 3T merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, mulai dari kenaikan muka laut, cuaca ekstrem, kekeringan, abrasi pantai, hingga gangguan ketahanan pangan. Di sisi lain, kawasan tersebut juga menyimpan kekayaan sumber daya alam dan kearifan lokal yang sangat besar.

Karena itu, KKN diposisikan sebagai “laboratorium hidup” yang mempertemukan ilmu pengetahuan, teknologi, pemerintah, masyarakat, alumni, dan dunia usaha untuk bersama-sama mengembangkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
Leni menekankan bahwa keberhasilan adaptasi iklim tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh peningkatan literasi masyarakat, penguatan kelembagaan lokal, diversifikasi ekonomi, perlindungan lingkungan, serta keberlanjutan program setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Tantangan Bersama
Menutup diskusi, para narasumber sepakat bahwa perubahan iklim tidak lagi dapat dipandang sebagai isu lingkungan semata. Dampaknya telah menjangkau kesehatan, pangan, ekonomi, pendidikan, hingga tata kelola pembangunan wilayah.
Karena itu, masyarakat memerlukan pendekatan kolaboratif yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Dalam konteks tersebut, KKN UGM dipandang memiliki posisi unik sebagai ruang belajar sekaligus ruang aksi nyata untuk memperkuat ketahanan masyarakat dari tingkat desa.
Di tengah ketidakpastian iklim yang semakin meningkat, pesan utama dari webinar tersebut sederhana namun penting: ilmu pengetahuan harus hadir di tengah masyarakat. Sebab ketahanan bangsa menghadapi perubahan iklim tidak dibangun oleh satu kebijakan atau satu lembaga saja, melainkan dirajut melalui pengetahuan, partisipasi, gotong royong, dan keberlanjutan aksi bersama.
Video webinar bisa dilihat di:
