Menanam Harapan dari Bunga Lilin Nusantara: KAGAMA Tanaman Hias Kenalkan Budidaya Hoya kepada Masyarakat

YOGYAKARTA, KAGAMA — Di tengah maraknya tren tanaman hias yang datang dan pergi mengikuti selera pasar, ada satu kelompok tanaman tropis yang diam-diam menyimpan cerita panjang tentang keindahan, ilmu pengetahuan, konservasi, dan masa depan keanekaragaman hayati Indonesia. Tanaman itu adalah Hoya, yang oleh para penggemarnya kerap dijuluki sebagai bunga lilin (wax plant) karena bentuk bunganya yang tampak mengilap seperti terbuat dari lilin.

Minggu (19/7), puluhan peserta dari berbagai kalangan berkumpul di Gedung B Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Mereka mengikuti pelatihan bertajuk Belajar Menanam dan Merawat Hoya yang diselenggarakan oleh Komunitas KAGAMA Tanaman Hias (KTH).

Bagi sebagian orang, kegiatan ini mungkin tampak sebagai pelatihan berkebun biasa. Namun, di balik pot-pot kecil berisi media tanam dan sulur-sulur hijau Hoya yang menjuntai, tersimpan pesan yang lebih besar: menghubungkan kecintaan masyarakat terhadap tanaman dengan upaya pelestarian kekayaan hayati Indonesia.

Ketua KAGAMA Tanaman Hias Bayu Widhi Nugroho mengatakan, komunitas tersebut lahir dari kesamaan minat para alumni Universitas Gadjah Mada terhadap dunia tanaman hias.

“Kami berharap masyarakat tetap memiliki kegemaran menanam dan merawat tanaman di rumah masing-masing. Selain memberikan suasana yang lebih hijau dan nyaman, kegiatan berkebun juga membawa banyak manfaat, baik bagi kesehatan mental maupun lingkungan,” katanya.

Harapan itu terasa relevan di tengah kehidupan perkotaan yang semakin padat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa interaksi dengan tanaman dapat membantu menurunkan tingkat stres, meningkatkan kualitas hidup, serta memperkuat hubungan manusia dengan alam.

Kekayaan Indonesia yang Belum Banyak Dikenal

Pelatihan menghadirkan Iqmal Tahir, dosen FMIPA UGM sekaligus pelestari tanaman Hoya, sebagai narasumber utama. Di hadapan peserta, ia memperkenalkan berbagai jenis Hoya, teknik budidaya, pemilihan media tanam, repotting, hingga teknik perbanyakan tanaman melalui stek batang.

Menurut Iqmal, Hoya bukan sekadar tanaman hias yang indah. Di balik bentuk bunganya yang unik dan aromanya yang khas, tersimpan kekayaan biodiversitas yang luar biasa.

“Hoya merupakan tanaman tropis yang memiliki keindahan bunga sekaligus relatif mudah dirawat. Indonesia memiliki kekayaan spesies Hoya yang sangat besar sehingga perlu semakin diperkenalkan kepada masyarakat, tidak hanya sebagai tanaman hias, tetapi juga sebagai bagian dari upaya pelestarian keanekaragaman hayati,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sejalan dengan berbagai penelitian botani yang menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu pusat keragaman Hoya dunia. Profesor Riset BRIN Sri Rahayu dalam kajiannya tentang konservasi Hoya menyebutkan bahwa Indonesia memiliki diversitas Hoya tertinggi di dunia dan terus menghasilkan penemuan spesies baru dari berbagai wilayah seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Bahkan, kajian taksonomi terbaru menunjukkan jumlah spesies Hoya di tingkat global terus bertambah seiring penemuan baru. Genus Hoya kini diketahui tersebar luas di kawasan Asia tropis hingga Pasifik dan menjadi salah satu kelompok tumbuhan penting dalam famili Apocynaceae.

Sebagian besar Hoya hidup sebagai epifit, yakni menempel pada batang atau cabang pohon tanpa menjadi parasit. Karakteristik inilah yang membuat tanaman tersebut memiliki kebutuhan tumbuh yang berbeda dibandingkan tanaman hias biasa.

Belajar dari Praktik Langsung

Tidak berhenti pada teori, peserta pelatihan juga diajak memahami kebutuhan biologis Hoya secara langsung. Mereka mempraktikkan penyusunan media tanam dengan aerasi baik, melakukan penggantian pot, serta mencoba teknik propagasi menggunakan stek batang.

Iqmal menjelaskan bahwa salah satu kunci keberhasilan budidaya Hoya adalah menjaga keseimbangan antara kelembapan dan sirkulasi udara.

Tanaman ini menyukai lingkungan yang lembap, tetapi tidak tahan terhadap genangan air yang dapat memicu pembusukan akar. Karena itu, penggunaan media tanam yang porous menjadi faktor penting dalam perawatannya.

Suasana pelatihan berlangsung hangat dan interaktif. Berbagai pertanyaan mengemuka, mulai dari cara merangsang pembungaan, mengatasi busuk akar, hingga strategi perawatan saat musim hujan yang memiliki tingkat kelembapan lebih tinggi.

Antusiasme peserta menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap tanaman hias kini tidak lagi sekadar mengikuti tren sesaat. Banyak penghobi mulai tertarik memahami aspek ilmiah, teknik budidaya, dan nilai konservasi dari tanaman yang mereka pelihara.

Setiap peserta memperoleh kit menanam Hoya untuk praktik sekaligus dibawa pulang sebagai koleksi pribadi. Mereka juga mendapatkan bekal pengetahuan agar tanaman tersebut dapat tumbuh lebih rimbun dan berbunga optimal.

Dari Hobi Menuju Konservasi

Menariknya, kegiatan tidak berakhir di ruang pelatihan. Sebagai penutup, peserta bersama panitia melakukan penanaman sejumlah koleksi Hoya di lingkungan kampus UGM. Bibit yang ditanam berasal dari sumbangan para penghobi Hoya dari berbagai daerah.

Langkah sederhana itu menjadi simbol bahwa konservasi tidak selalu harus dilakukan dalam skala besar. Pelestarian dapat dimulai dari halaman rumah, komunitas, kebun koleksi, hingga ruang publik yang memberi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal tumbuhan asli Indonesia.

Pesan ini menjadi semakin penting mengingat sejumlah spesies Hoya menghadapi ancaman akibat perubahan penggunaan lahan, kerusakan habitat, perubahan iklim, dan pengambilan tanaman dari alam secara tidak terkendali. Peneliti BRIN menegaskan bahwa sebagian kekayaan Hoya Indonesia masih kurang dikenal masyarakat, padahal memiliki nilai ilmiah, ekologis, ekonomi, dan budaya yang tinggi.

Di sisi lain, meningkatnya minat terhadap Hoya dapat membuka peluang ekonomi baru. Budidaya yang dilakukan secara bertanggung jawab memungkinkan tanaman ini menjadi komoditas bernilai tanpa harus mengeksploitasi populasi alaminya.

Karena itulah, pendidikan publik melalui komunitas seperti KAGAMA Tanaman Hias menjadi jembatan penting antara dunia hobi, riset akademik, dan agenda konservasi.

Ketika para peserta meninggalkan lokasi pelatihan sambil membawa pot-pot kecil berisi Hoya, sesungguhnya mereka tidak hanya membawa pulang tanaman. Mereka membawa pengetahuan, kesadaran, dan harapan bahwa kekayaan flora Nusantara dapat terus tumbuh, berbunga, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebab, bagi Indonesia yang dikenal sebagai salah satu negara megabiodiversitas dunia, menjaga satu tanaman sering kali berarti menjaga satu kisah panjang tentang alam, ilmu pengetahuan, dan masa depan.