Di ujung timur Indonesia, semangat pengabdian Universitas Gadjah Mada terus menyala. Di tengah aktivitas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) UGM Unit Manokwari Menari yang tengah menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat, kehangatan keluarga besar UGM kembali hadir melalui kunjungan alumni KAGAMA Manokwari yang bertugas di Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Remu Ransiki. Kunjungan tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan penegasan bahwa setiap langkah pengabdian mahasiswa selalu mendapat dukungan dari jejaring alumni yang tersebar di seluruh penjuru negeri.
Rombongan dipimpin oleh Kepala BPDAS Remu Ransiki yang juga merupakan alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1997. Kehadiran para alumni disambut hangat oleh mahasiswa KKN-PPM UGM. Dalam suasana penuh keakraban, mereka berdiskusi mengenai dinamika pelaksanaan program kerja, pengalaman hidup bersama masyarakat, hingga berbagai tantangan yang dihadapi selama mengabdi di Kabupaten Manokwari. Pertemuan tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman yang tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga menumbuhkan optimisme bahwa semangat pengabdian UGM terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sebagai wujud kepedulian, alumni KAGAMA Manokwari turut menyerahkan bantuan berupa paket sembako kepada mahasiswa. Bantuan tersebut menjadi bentuk perhatian agar para mahasiswa dapat menjalankan pengabdian dengan lebih tenang dan optimal. Lebih dari sekadar bantuan logistik, kehadiran para alumni menjadi simbol bahwa pengabdian kepada masyarakat adalah perjalanan yang ditempuh bersama, dilandasi semangat gotong royong, solidaritas, dan rasa kekeluargaan yang menjadi ciri khas Universitas Gadjah Mada.

Mantan Ketua KAGAMAHUT Papua Barat, Zayinul Farhi, yang turut hadir dalam kunjungan tersebut menyampaikan bahwa mendampingi mahasiswa KKN merupakan panggilan moral bagi setiap alumni UGM. Baginya, Papua Barat memiliki makna yang sangat mendalam karena menjadi bagian penting dari perjalanan hidup dan pengabdiannya. Setelah pernah mengabdi di Papua Barat pada masa lalu, kini ia kembali dipercaya bertugas di tanah yang sama, sebuah kesempatan yang menurutnya merupakan amanah sekaligus kehormatan.
“Rasanya seperti pulang ke rumah. Saya pernah mengabdi di Papua Barat, dan hari ini kembali diberi kesempatan untuk melanjutkan pengabdian di tanah yang luar biasa ini. Karena itu, saya memahami bahwa mengabdi di Papua bukan hanya tentang menjalankan tugas, tetapi tentang membangun hubungan, menumbuhkan kepercayaan, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Melihat adik-adik mahasiswa KKN-PPM UGM hadir dengan semangat yang sama membuat saya optimistis bahwa nilai-nilai pengabdian UGM akan terus hidup dan berkembang. Kami di KAGAMA ingin memastikan mereka tidak pernah merasa sendiri. Di mana ada mahasiswa UGM mengabdi, di situlah keluarga besar KAGAMA akan selalu hadir untuk menguatkan, membersamai, dan menjadi rumah bagi mereka,” ungkap Zayinul.

Kunjungan ini kembali menegaskan bahwa KAGAMA bukan sekadar wadah alumni, melainkan keluarga besar yang terus menjaga nyala semangat pengabdian Universitas Gadjah Mada. Dari Bulaksumur hingga Bumi Cenderawasih, nilai-nilai Guyub, Rukun, Migunani terus diwujudkan melalui aksi nyata yang menghubungkan mahasiswa, alumni, pemerintah, dan masyarakat. Sinergi tersebut menjadi modal berharga dalam menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi Papua Barat, sekaligus membuktikan bahwa pengabdian adalah identitas yang selalu menyatukan keluarga besar UGM, melampaui ruang, waktu, dan generasi.