Mahasiswa KKN UGM Berpadu dengan Adat di Jayapura, KAGAMA Papua Perkuat Kolaborasi
Jayapura, Kagama.id — Pemerintah Kota Jayapura menekankan pentingnya penghormatan terhadap adat dan penguatan kolaborasi lintas pihak dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) di wilayah perbatasan, tepatnya di Kampung Skouw Yambe dan Skouw Mabo, Distrik Muara Tami.

Pesan tersebut disampaikan Pelaksana tugas Sekretaris Daerah Kota Jayapura Muchlis Karim saat menerima 25 mahasiswa KKN UGM yang akan menjalankan pengabdian selama kurang lebih 50 hari. Ia menegaskan, keberhasilan KKN bukan semata ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi oleh kemampuan mahasiswa membaca konteks sosial dan berinteraksi dengan masyarakat adat.

Menurut Muchlis, mahasiswa perlu mengintegrasikan teori yang diperoleh di kampus dengan realitas di lapangan, tanpa mengabaikan nilai-nilai lokal yang hidup dalam masyarakat adat. Hal ini penting mengingat kampung-kampung di Muara Tami memiliki struktur sosial berbasis hak ulayat yang masih kuat dan diakui secara hukum.
Ruang Belajar Sosial di Wilayah Perbatasan
Penempatan KKN di wilayah perbatasan seperti Muara Tami bukan tanpa alasan. Kawasan ini merupakan salah satu beranda terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini, serta menjadi ruang strategis pembangunan berbasis masyarakat.

Pemerintah Kota Jayapura bahkan telah mendorong Muara Tami sebagai kawasan pertanian dan ketahanan pangan, sekaligus pusat pemberdayaan ekonomi lokal berbasis potensi kampung.
Dalam konteks tersebut, kehadiran mahasiswa KKN menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus menjembatani inovasi akademik dengan kebutuhan riil warga. Program-program pemberdayaan yang dirancang mahasiswa diharapkan selaras dengan prioritas pembangunan kampung, mulai dari sektor ekonomi, kesehatan, hingga lingkungan.
Pengalaman serupa juga terlihat dalam pelaksanaan KKN di Jayapura sebelumnya, di mana mahasiswa UGM menggali potensi lokal melalui pengembangan UMKM, teknologi tepat guna, hingga edukasi kesehatan masyarakat.
Peran KAGAMA Papua: Jembatan Kolaborasi
Pelaksanaan KKN UGM di Papua tidak berjalan sendiri. Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Papua menjadi elemen penting yang memperkuat keberhasilan program di lapangan.
Pengurus Daerah KAGAMA Papua secara aktif terlibat dalam pendampingan mahasiswa, membangun komunikasi dengan pemerintah daerah, serta menjembatani interaksi dengan masyarakat setempat.
Melalui Satgas KKN KAGAMA, jaringan alumni bahkan berfungsi sebagai mitra strategis yang memastikan kesinambungan program, membantu pemetaan kebutuhan masyarakat, hingga memberikan advokasi atas berbagai tantangan yang dihadapi mahasiswa selama pengabdian.

Peran ini menjadi penting karena keberlanjutan program KKN sering kali bergantung pada keberadaan aktor lokal yang tetap berada di lapangan setelah mahasiswa kembali ke kampus. Dalam hal ini, KAGAMA berperan sebagai “penjaga memori” sekaligus fasilitator keberlanjutan program.
Sinergi Perguruan Tinggi, Pemerintah, dan Masyarakat
Secara lebih luas, pelaksanaan KKN-PPM UGM di Papua merupakan bagian dari komitmen institusi pendidikan tinggi dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia dan penguatan wilayah terluar Indonesia.
UGM bersama Pemerintah Provinsi Papua telah membangun kerja sama pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat, dengan menempatkan Papua sebagai salah satu wilayah prioritas karena kompleksitas sosial dan kekayaan budayanya.
Setiap tahun, ratusan mahasiswa UGM diterjunkan ke Papua melalui program KKN, dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal dan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Kolaborasi ini juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, lembaga adat, serta institusi nasional yang mendorong percepatan pembangunan kawasan perbatasan, seperti di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw yang menjadi pusat aktivitas masyarakat lokal.
Menyatukan Pengetahuan dan Kearifan Lokal
Dalam praktiknya, KKN tidak hanya menjadi ruang implementasi ilmu, tetapi juga arena pembelajaran timbal balik antara mahasiswa dan masyarakat.
Mahasiswa dituntut untuk menyelaraskan pendekatan akademik dengan kearifan lokal—baik dalam pengelolaan sumber daya, struktur sosial, maupun tradisi yang hidup di tengah masyarakat adat.
Pendekatan ini diyakini mampu menghadirkan model pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat relasi antara kampus, alumni, dan masyarakat.

Di Jayapura, pertemuan antara mahasiswa, pemerintah, dan KAGAMA Papua menunjukkan bahwa pengabdian tidak lagi bersifat parsial. Ia berkembang menjadi gerakan kolaboratif lintas generasi dan lintas sektor—menyatukan pengetahuan, pengalaman, dan nilai-nilai lokal dalam satu tujuan: membangun kampung dari dalam.