Merawat Asa di Sahraja: Sekolah Darurat dan Jejak Solidaritas KAGAMA
ACEH, KAGAMA.ID– Tujuh bulan lamanya, senyap menyelimuti Gampong Sahraja. Pasca-bencana yang meluluhlantakkan infrastruktur dasar di wilayah tersebut, anak-anak di sana sempat kehilangan “rumah kedua” mereka: sekolah. Namun, di balik awan kelabu pascabencana, secercah harapan akhirnya bersemi. Sebuah sekolah darurat kini berdiri, menjadi simbol ketangguhan dan bukti nyata kolaborasi antara alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam KAGAMA dengan masyarakat lokal.

Pembangunan sekolah darurat ini bukan sekadar urusan mendirikan dinding kayu atau atap seng. Bagi anak-anak di Sahraja, sekolah ini adalah ruang untuk kembali merajut mimpi yang sempat terputus oleh deru air bah.
Sentuhan Alumni
Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) melalui pengurus daerah KAGAMA Aceh, merespons situasi ini dengan semangat “guyub rukun”. Keterlibatan KAGAMA dalam pemulihan pascabencana di Sahraja merefleksikan nilai-nilai pengabdian yang melekat pada jati diri civitas akademika UGM.

Dalam perspektif PP KAGAMA, aksi ini adalah manifestasi dari peran alumni sebagai katalisator dalam masyarakat. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya memberikan bantuan fisik berupa bangunan sekolah, tetapi juga memastikan keberlanjutan proses pendidikan agar trauma bencana tidak menghambat tumbuh kembang anak secara jangka panjang.
”Pendidikan adalah fondasi utama pemulihan komunitas. Tanpa sekolah yang fungsional, anak-anak akan terjebak dalam disrupsi belajar yang berkepanjangan,” ujar perwakilan KAGAMA Aceh, Lestari Suci Dhian Savitri di sela-sela peresmian sekolah tersebut.

Pentingnya Intervensi Psikososial
Berdasarkan berbagai kajian akademis pascabencana di Aceh, pemulihan pendidikan tidak bisa dipisahkan dari aspek psikososial. Anak-anak penyintas bencana sering kali mengalami kecemasan (anxiety) dan penurunan motivasi belajar.
Sejumlah literatur, seperti yang dimuat dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat, menekankan bahwa sekolah darurat pascabencana idealnya juga berfungsi sebagai ruang trauma healing. Program-program yang dijalankan di wilayah terdampak bencana di Aceh, mulai dari Aceh Tamiang hingga Pidie Jaya, menunjukkan bahwa media pembelajaran kreatif dan pendekatan partisipatif sangat krusial. Sekolah bukan hanya tempat menerima materi akademis, melainkan ruang aman untuk mengekspresikan trauma dan membangun kembali rasa percaya diri.

KAGAMA Aceh menyadari urgensi ini. Sekolah darurat di Sahraja didesain bukan hanya sebagai tempat berlindung dari hujan dan panas, tetapi sebagai lingkungan yang ramah anak, di mana pendampingan guru dan relawan menjadi kunci untuk menormalkan kembali kehidupan sosial mereka.
Tantangan dan Harapan
Meski sekolah darurat telah berdiri, tantangan ke depan tetap besar. Pemulihan infrastruktur pendidikan di Aceh—yang secara geografis rentan terhadap bencana hidrometeorologi—memerlukan sinergi berkelanjutan antara pemerintah, akademisi, dan komunitas.

Kehadiran sekolah ini di Sahraja diharapkan menjadi model rapid intervention (intervensi cepat) yang bisa direplikasi. Mengutip pola keberhasilan pemulihan pascabencana di berbagai wilayah di Aceh, kunci utamanya adalah kolaborasi berbasis komunitas. Ketika alumni, pemerintah desa, dan pendidik lokal bergerak bersama, sekolah bukan lagi sekadar bangunan kayu, melainkan mercusuar yang menjaga masa depan anak-anak agar tetap berpijar di tengah keterbatasan.
Tujuh bulan mungkin waktu yang panjang untuk menunggu. Namun, bagi anak-anak Sahraja, hari ini adalah penanda bahwa mereka tidak sendirian. Jejak solidaritas yang ditinggalkan KAGAMA adalah pengingat bahwa di setiap puing bencana, selalu ada ruang untuk