Kagama Pegiat Inklusi Gelar Pelatihan untuk Pemberdayaan Perempuan Rentan di Kutai Kartanegara, Kaltim

Oleh: Humas Kagama Balikpapan

Potensi hayati Kalimantan Timur selama ini menjadi perhatian KAGAMA di wilayah tersebut. Kegiatan pengabdian masyarakat yang didesain integratif mengkolaborasikan beberapa aspek sekaligus, yaitu aspek kemitraan pemerintah daerah atau swasta, mengangkat ekonomi wilayah sebagai destinasi wisata “local wisdom”, peningkatan pendapatan keluarga, dan memberdayakan potensi sumber daya alam lokal.

Sehubungan dengan hal tersebut, selama 7 (tujuh) hari, 11-18 Februari 2025, Komunitas KAGAMA Pegiat Inklusi bersama Pengda KAGAMA Kaltim menggelar pelatihan bertajuk “Pemberdayaan Perempuan Rentan Melalui Kreasi Kain Sasirangan” di aula kantor Kalurahan Salok Api Darat, Kecamatan Samboja Barat, Kabupaten Kutai Kartanegara. Kegiatan diikuti puluhan perempuan setempat yang termasuk rentan secara ekonomi, dalam arti taraf ekonomi keluarga yang lemah, perempuan tidak bekerja atau tidak punya usaha, serta janda atau punya suami namun tergantung sepenuhnya dengan penghasilan suami yang tidak tetap juga.

Kegiatan pelatihan bisa terselenggara dengan baik dan lancar, tidak lepas dari kolaborari dan dukungan beberapa pihak eksternal, yaitu PLN Peduli dan BenihBaik.com. Sementara dari KAGAMA sendiri, Komunitas KAGAMA Pegiat Inklusif disupport sepenuhnya oleh PP KAGAMA Bidang Pengembangan Potensi Daerah, Pengda KAGAMA Kaltim, dan Pengcab KAGAMA Balikpapan.

Selama 7 hari, pelatihan dilaksanakan secara lengkap dan menyeluruh meliputi teori hingga praktik, mulai dari lini kreatif, produksi, branding, promosi, hingga manajemen kewirausahaan. Hadir sebagai pembimbing dan instruktur seluruhnya anggota Kagama, antara lain praktisi shibori ecoprint dan pemilik usaha “Amung Godong”, Retno Setyaningsih (Magelang), Ratna Puspitasari (Wonogiri) pada materi branding, Fauzul Idhi (Balikpapan) untuk materi entrepreneur, dan Anwarini (Jakarta) pada materi manajemen kewirausahaan. Turut serta pula sebagai pendamping, para alumni pelatihan sejenis sebelumnya yaitu warga masyarakat binaan KAGAMA dari Desa Tani Bakti dan Desa Karya Jaya, Kec. Samboja Barat.

Pada acara pembukaan, Selasa (11/2), Camat Samboja Barat, Burhanuddin, S. Ag., M.Si. yang hadir bersama jajarannya, antara lain Sekretaris Kecamatan, Lurah, Bhabinkamtib, dan Babinsa Salok Api Darat, dalam kata sambutannya menyampaikan presiasi setinggi-tingginya kepada KAGAMA yang telah beberapa kali mengadakan kegiatan serupa di wilayahnya. Ia mengaku sangat percaya atas komitmen KAGAMA, karena sudah terbukti sejak 3 tahun lalu menjadikan Desa Karya Jaya dari desa yang tidak diperhitungkan, hingga saat ini menjadi sangat dikenal dengan produk ecoprint dan wisata alam waduk Samboja.

Burhanuddin menyebutkan, di Desa Karya Jaya peran KAGAMA dalam mendampingi kaum perempuan melalui ecoprint sungguh totalitas, mulai dari teknik produksi, aspek kreatif hingga manajemen dan pemasarannya yang lebih modern. Juga memfasilitasi menghadirkan KKN mandiri mahasiswa UGM yang sangat dirasakan ikut membantu promosi wisata alamnya.

Burhanuddin tahu betul peran dan kontribusi KAGAMA di wilayahnya, karena ia mengikuti perkembangannya sejak ia jadi camat Samboja sampai saat ini wilayahnya telah dimekarkan menjadi Samboja Barat. “Kami berharap kelurahan Salok Api Darat ini juga sukses terangkat potensi ekonominya melalui peran KAGAMA, bukan hanya sesaat namun berkelanjutan,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Komunitas KAGAMA Pegiat Inklusi yang juga merupakan Ketua KAGAMA Kaltim, Fauzul Idhi pada pembekalan awal menjelaskan besarnya potensi terpendam yang dimiliki Salok Api Darat. Ia menyebutkan yang akan diajarkan pada pelatihan adalah sesuatu yang unik, belum ada di daerah lainnya.

Menurut pria yang akrab disapa Didiek itu, di daerah lain mungkin ada yang sejenis dan dikenal dengan nama berbeda. Ada yang menyebut sasirangan, jumputan atau shibori, namun pada pelatihan di Salok Api Darat akan dibuat memakai produk kain khusus motif khas Samboja, Kaltim, dengan pewarna khas dari tanaman Ulin dan Mangrove. Sehingga nanti, warga punya brand lokal sendiri untuk diangkat. Maka dari itu, ia menegaskan selain belajar produksi, juga harus mempelajari bersama-sama mengenai aspek bisnisnya, bagaimana branding dan promosinya.

“Pengembangan potensi daerah bisa dikolaborasikan dengan beberapa pihak, baik pemerintah pusat hingga daerah, kementrian, BUMN/BUMD, sektor swasta, dan juga bisa juga dengan menggerakkan peran komunitas,” pungkasnya.