Arti Berbagi kepada Sesama di Saat Krisis Buat Seorang Ardiati Bima

Apa yang dilakukan oleh Ardiati Bima (Fak. Pertanian ’86) sungguh mulia dan luar biasa. Meskipun idenya tidak orisinil, seperti pengakuannya sendiri, namun tetaplah layak diacungi jempol. Idenya sesungguhnya sangat sederhana & mudah sekali. Semua orang bisa melakukannya, yang dibutuhkan hanyalah niat mulia untuk berbagi kepada sesama di tengah-tengah krisis akibat wabah corona ini.

Ardiati Bima yang tinggal di Rajek Lor, Tirtoadi, Mlati Sleman, Yogyakarta, menggantungkan aneka sayuran, telur, minyak, mie instan di bambu yang melintang di jalan kampung. Di situ tertulis “GRATIS Sumonggo bagi yang membutuhkan”. Di sebelahnya juga ada tulisan yang berisi ajakan, “Dengan senang hati dipersilahkan juga yang mau ikut menambah / memberi di sini”. Lalu disediakan juga sebuah gunting kecil disitu yang diikat tali rafia, dimaksudkan untuk memudahkan siapa saja yang mau mengambil bahan makanan yang ada ada di situ tinggal memotong talinya.

Ardiati melakukan hal tersebut setelah mendapat inspirasi seorang warga Surabaya yang menggantungkan mie instan di depan rumahnya buat diambil mereka yang membutuhkan. Ia kemudian berpikir untuk melakukan hal serupa, apalagi setelah ia mendengar ada tetangganya yang dirumahkan dari tempat kerjanya.

Niat awal Ardiati memang mau berbagi untuk warga sekitarnya yang terkena dampak Covid-19. Ia kemudian mempunyai ide, alangkah baiknya kalau bukan hanya mie instan yang bisa dibagi. Akhirnya digantungnya telur, mie instan, & gula jawa, namun hanya sejumlah 4 kresek. Ia berpikir yang penting mulai dulu saja.

Ardiati sempat ragu awalnya, jangan-jangan yang mengambil bukan orang yang benar-benar membutuhkan. Namun, pikiran itu kemudian dibuang jauh-jauh. Ia percaya orang-orang yang mengambil adalah orang yang memang butuh. Kalaupun tidak, yang penting ia sudah berniat berbagi buat sesama.

Apa yang dilakukan oleh Ardiati ternyata diketahui oleh tetangganya. Hari kedua, ada tetangga yang datang ke rumahnya dengan membawa seikat besar kangkung dan selada, titip sekalian buat digantung. Hal yang membikin Ardiati jadi terharu karena kemudian ada beberapa orang yang nitip.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban dari amanah tetangganya, Ardiati mengambil foto dan menjadikannya status WA atau diposting di FB. Efeknya sungguh luar biasa, karena kemudian banyak yang menitipkan bahan makanan seperti beras, telur, minyak, sayuran, bumbu, kelapa, mie, pepaya dan lain-lain. Bahkan ada yang menitip uang untuk dibelanjakan bahan makanan yang akan digantung.

Ardiati mencatat, selama 15 hari ia melakukan aktifitas yang disebutnya ‘cantelan’ itu ada sekitar 7 orang yang rutin menitipkan bahan makanan. Terdiri dari tetangga, teman kuliah, maupun kenalannya. Ia berharap semakin banyak orang yang bersedia membantu sesamanya di tengah krisis yang tidak jelas kapan berakhirnya ini, tentu saja dengan sumberdaya dan dana sesuai kemampuan masing-masing.

Event Akan Datang

Urban Farming

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*