Ekspedisi Togean: Mahasiswa UGM Dorong Inovasi dan Penguatan Ekonomi Kepulauan Tojo Una-Una
Tojo Una-Una, Kompas.id — Pulau-pulau di gugusan Togean, Sulawesi Tengah, menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium sosial bagi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebanyak 28 mahasiswa diterjunkan dalam program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Periode II 2026 bertajuk Ekspedisi Togean, dengan fokus pada penguatan pembangunan berkelanjutan di wilayah kepulauan.
Program ini tidak sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi menjadi bagian dari upaya kolaboratif antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk menjawab tantangan pembangunan di kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Fokus pada Desa dan Pembangunan Berkelanjutan
Para mahasiswa akan mengabdi selama sekitar 50 hari, terhitung sejak 20 Juni hingga 10 Agustus 2026, dengan penempatan di tiga desa, yaitu Desa Lebiti, Desa Bungayo, dan Desa Pulau Enam di Kecamatan Togean.
Koordinator mahasiswa KKN, Shafira Rahmatia Putri, menjelaskan bahwa wilayah Togean dipilih karena memiliki tantangan pembangunan yang kompleks, mulai dari keterbatasan infrastruktur, kapasitas sumber daya manusia, hingga pengelolaan sumber daya alam yang belum optimal dan cenderung sektoral.
“Program yang dijalankan tidak hanya berfokus pada penyelesaian masalah, tetapi juga pada penguatan aset dan potensi yang telah dimiliki masyarakat,” ujarnya.
Sebanyak 140 program kerja disiapkan, yang dirangkum dalam delapan program utama. Fokusnya meliputi penguatan sektor pariwisata, kesehatan masyarakat, pendidikan, konservasi lingkungan, hingga transformasi digital desa.
Beberapa program unggulan di antaranya Festival Wonderful Togean, Smart Village, digitalisasi promosi wisata, hingga pengembangan ekonomi berbasis mangrove melalui pelatihan pengolahan produk bernilai tambah.
Harapan Pemerintah Daerah
Kehadiran mahasiswa UGM disambut langsung oleh Bupati Tojo Una-Una, Ilham Lawidu, pada 22 Juni 2026 di Desa Lebiti.Menurut Ilham, kehadiran mahasiswa bukan sekadar kegiatan rutin pengabdian, tetapi bagian penting dari strategi pembangunan berbasis pengetahuan (knowledge-based development).

Ia berharap mahasiswa mampu menghasilkan data, rekomendasi, dan inovasi yang aplikatif, terutama untuk memperkuat sektor pariwisata bahari, perikanan, dan ekonomi kreatif di Kepulauan Togean.
“Kami berharap hasil KKN ini tidak berhenti pada laporan akademik, tetapi menjadi masukan konkret bagi kebijakan pembangunan daerah,” kata Ilham.
Pemerintah daerah juga melihat pentingnya peran mahasiswa dalam membantu pemetaan potensi desa serta memperkaya basis data pembangunan yang selama ini masih terbatas.
Kolaborasi dan Dukungan KAGAMA
Sinergi lintas aktor terlihat kuat dalam pelaksanaan KKN ini, termasuk dukungan dari Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) di daerah. Dalam proses penyambutan, KAGAMA Tojo Una-Una turut hadir mendampingi pemerintah daerah, mempertegas peran alumni sebagai jembatan kolaborasi antara kampus dan masyarakat.

Peran KAGAMA tidak hanya seremonial, tetapi juga strategis dalam membangun jejaring, memfasilitasi komunikasi, serta memastikan keberlanjutan program setelah mahasiswa kembali ke kampus. Kehadiran alumni diharapkan dapat menjaga kesinambungan dampak program dan memperkuat implementasi rekomendasi di tingkat lokal.
Tantangan dan Potensi Togean
Kepulauan Togean dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan Indonesia dengan kekayaan biodiversitas laut dan potensi wisata kelas dunia. Namun, pengembangan wilayah ini masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan akses transportasi, rendahnya diversifikasi ekonomi, serta minimnya inovasi dalam pengelolaan sumber daya.
Mahasiswa KKN UGM mencoba menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan multidisipliner. Mereka tidak hanya melakukan intervensi program, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi, pelatihan, dan pendampingan.
Konsep pembangunan berbasis masyarakat menjadi kunci, dengan menempatkan warga sebagai subjek utama, bukan sekadar penerima manfaat. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan model pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Membangun dari Pinggiran
Program Ekspedisi Togean mencerminkan peran perguruan tinggi dalam mendukung agenda pembangunan nasional, khususnya pembangunan dari pinggiran. Kehadiran mahasiswa di wilayah kepulauan yang relatif terpencil menjadi simbol komitmen untuk menjangkau daerah yang selama ini kurang tersentuh.
Bagi masyarakat Togean, kehadiran mahasiswa membawa harapan baru. Di sisi lain, bagi mahasiswa, pengalaman ini menjadi pembelajaran nyata tentang kompleksitas pembangunan Indonesia.
Dengan kolaborasi yang terbangun antara UGM, pemerintah daerah, masyarakat, dan KAGAMA, program ini diharapkan tidak hanya meninggalkan jejak program, tetapi juga membuka jalan bagi model pembangunan berkelanjutan di kawasan kepulauan Indonesia.