Sinergi Kampus dan Daerah, Mahasiswa UGM Dorong Solusi Lingkungan hingga Pendidikan di Banyuwangi

Sinergi Kampus dan Daerah, Mahasiswa UGM Dorong Solusi Lingkungan hingga Pendidikan di Banyuwangi

Banyuwangi, Kagama.id — Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali menjadi laboratorium sosial bagi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM). Kehadiran mahasiswa tidak sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga diharapkan menjadi katalis solusi bagi persoalan pembangunan daerah, mulai dari lingkungan, pendidikan, hingga penguatan ekonomi masyarakat.

Sebanyak 105 mahasiswa UGM diterjunkan di sejumlah kecamatan di Banyuwangi untuk menjalankan program pengabdian yang berlangsung sekitar 50 hari. Mereka berasal dari berbagai disiplin ilmu dan ditempatkan di wilayah strategis seperti Wongsorejo, Siliragung, Pesanggaran, dan Kalibaru.

Pemerintah daerah menyambut kegiatan tersebut sebagai bentuk kolaborasi nyata antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam mempercepat pembangunan berbasis pengetahuan. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Banyuwangi, Dwiyanto, menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa sangat penting untuk memperkaya perspektif kebijakan publik di daerah.

“Kami berharap mahasiswa dapat membantu mengidentifikasi persoalan sosial secara lebih tajam dan menawarkan solusi berbasis riset yang bisa menjadi masukan bagi kebijakan ke depan,” ujarnya.

Fokus pada Persoalan Riil Masyarakat

Dalam pelaksanaannya, program KKN UGM di Banyuwangi diarahkan untuk menyasar berbagai isu prioritas daerah. Di antaranya pengentasan kemiskinan, penanganan stunting, pengembangan sektor pariwisata, hingga digitalisasi layanan publik melalui program Smart Kampung.

Berbagai program tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan agenda pembangunan daerah serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), seperti pendidikan berkualitas, kesehatan masyarakat, dan pengurangan kesenjangan.

Koordinator dosen pembimbing lapangan UGM, Prof. Harno Dwi Pranowo, menyebut bahwa KKN menjadi wahana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa untuk memahami kompleksitas persoalan di lapangan.

“Mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga turun langsung ke masyarakat untuk menganalisis persoalan dan merumuskan solusi sesuai kapasitas keilmuannya,” kata Harno.

Dari Edukasi Kesehatan hingga Inovasi Ekonomi

Implementasi program KKN terlihat dari ragam kegiatan di masyarakat. Di Desa Tamansari, misalnya, mahasiswa menginisiasi edukasi deteksi dini penyakit menular dan tidak menular melalui kegiatan posyandu dan diskusi interaktif dengan warga. Program ini mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan penyakit sejak dini.

Di wilayah lain, mahasiswa turut menyusun program berbasis ekonomi kreatif dan peningkatan nilai tambah produk lokal. Salah satunya adalah pelatihan pengolahan pangan berbahan ikan lele menjadi produk dimsum bernilai jual tinggi, lengkap dengan strategi pemasaran digital. Program ini tidak hanya meningkatkan keterampilan warga, tetapi juga membuka peluang usaha baru.

Sementara itu, di Desa Tampo, mahasiswa bersama komunitas lokal mengembangkan program pelatihan membatik bagi anak-anak difabel. Inisiatif ini memperluas akses keterampilan sekaligus mendorong inklusivitas dalam pembangunan ekonomi berbasis budaya lokal.

Kolaborasi dan Dampak Jangka Panjang

Bagi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, program KKN tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas tahunan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor.

Keterlibatan mahasiswa dari berbagai bidang ilmu memberi peluang lahirnya inovasi yang bersifat lintas disiplin, mulai dari teknologi, kesehatan masyarakat, hingga pemberdayaan ekonomi. Pemerintah daerah juga berharap hasil kajian dan laporan mahasiswa di akhir program dapat menjadi basis penyusunan kebijakan yang lebih presisi.

Di sisi lain, mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung menghadapi realitas sosial yang kompleks. Interaksi dengan masyarakat desa, pelaku UMKM, hingga aparatur pemerintah menjadi ruang belajar yang tidak tergantikan oleh proses akademik di kampus.

Menjembatani Ilmu dan Pengabdian

Program KKN-PPM UGM di Banyuwangi mencerminkan pentingnya menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat. Dalam konteks pembangunan daerah, kehadiran mahasiswa menjadi sumber ide segar sekaligus agen perubahan yang mampu mengakselerasi inovasi di tingkat lokal.

Dengan pendekatan kolaboratif antara kampus dan pemerintah daerah, Banyuwangi menjadi contoh bagaimana sinergi tersebut dapat menghasilkan dampak nyata—tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi penguatan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.

Dukungan KAGAMA Banyuwangi

Selain pemerintah daerah, pelaksanaan KKN juga didukung oleh Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Banyuwangi. Alumni terlibat dalam memfasilitasi kegiatan di lapangan, termasuk membantu koordinasi dengan pemerintah desa serta masyarakat setempat.

KAGAMA Banyuwangi juga berperan dalam memperkuat keberlanjutan program melalui jejaring alumni, salah satunya dengan mendukung pembentukan posko koordinasi dan pendampingan kegiatan mahasiswa di desa lokasi KKN. Kehadiran alumni menjadi penghubung antara mahasiswa, masyarakat, dan pemangku kepentingan lokal agar program berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Pemkab Banyuwangi berharap hasil kegiatan dan rekomendasi mahasiswa pada akhir program dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pembangunan daerah ke depan