Bimtek sebagai Langkah Awal Desa Rogo Menuju Desa Inklusi dan Bangkit dari Keterpurukan

Desa Rogo terletak di Kec. Dolo Selatan, Kab. Sigi, Prov. Sulawesi Tengah. Letaknya berada di lembah, dengan latar belakang perbukitan yang subur dan terlihat indah. Sebagian besar warga desa adalah petani/pekebun dengan tanaman andalan padi, jagung dan coklat. Produksi yang melimpah dan kualitas yang sangat baik, memberikan harapan hidup yang cukup bagi warga desa.

Namun di balik view bukit yang terlihat cantik, ternyata ketika ada peristiwa gempa bumi yang beberapa kali terjadi di Sulteng menjadikan batuan perbukitan menjadi hancur. Saat hujan lebat tiba, mengakibatkan banjir bandang yang meluluhlantakkan desa. Berbagai sektor masyarakat menjadi lumpuh khususnya perekonomian.

Desa Rogo adalah salah satu dari 14 desa yang menjadi pilot project Desa Inklusif Kagama dan Kemendes PDTT. Selama 2 hari yaitu 30 November s/d 1 Desember 2020 bertempat di Gedung PAUD “Al-Khairat” Desa Rogo dilakukan Bimbingan Teknis (Bimtek), hasil kerjasama antara Kemendes PDTT, UGM, KAGAMA, serta Pemerintah Daerah setempat. Bimtek diikuti oleh 30 peserta, yang terdiri dari warga desa, kepala dusun, anggopa BPD dan juga pemuda desa. Ada 2 tujuan yang ingin dicapai dengan kegiatan Bimtek tersebut, yaitu sebagai langkah awal untuk menuju desa inklusif dan sebagai upaya Desa Rogo bangkit dari keterpurukan.

Pada acara pembukaan Sekretaris Desa Rogo, Ajmain Ramadhan, menyampaikan bahwa saat ini masyarakat Rogo mengalami kesulitan ekonomi. Sektor pertanian dan perkebunan yang menjadi andalan perekonomian warga hancur akibat banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu. Ia berharap melalui bimtek Desa Rogo bisa merumuskan kembali persoalan warga desa seluruhnya. Baik yang miskin, penyandang difabel, masyarakat adat, lansia, perempuan juga anak-anak tanpa kecuali agar kebutuhan mereka masuk dalam proses musyawarah di desa.

Sementara itu perwakilan dari Kemendes PDTT, Dwi Bangun Yulianto menyatakan Desa Rogo merupakan salah satu dari desa pilot untuk pengembangan desa inklusi. Desa untuk semua warga desa, tanpa kecuali. Dengan menerapkan prinsip inklusi, Kementerian Desa PDTT yakin bahwa desa akan maju, jika di dalamnya ada kesetaraan, keterbukaan serta partisipasi dalam mengelola seluruh potensi desa.

Di akhir acara Bimtek, seluruh peserta terlibat dalam menyusun Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) kegiatan selama setahun ke depan. Kegiatan yang disusun berasal dari persoalan yang dihadapi desa, baik dari kelompok perempuan dan anak, masyarakat miskin, kelompok difabel, masyarakat adat dan juga lanjut usia.

Dari masalah yang dihadapi warga desa, dipadukan dengan potensi yang ada di desa, peserta Bimtek merumuskan jenis kegiatannya. Namun demikian, banyaknya potensi desa yang terkubur oleh limpahan pasir akibat banjir bandang menjadikan warga desa harus mengubah cara berpikirnya.

Limpahan pasir sisa banjir bandang yang melimpah, pada akhirnya harus dijadikan potensi alam yang harus diubah agar menjadi nilai ekonomi. Iwan, salah satu peserta Bimtek mengatakan warga harus menjadikan pasir dan batu yang saat ini berserakan agar bisa menjadi nilai ekonomi bagi desa. Mereka akan mencontoh desa lain yang telah memanfaatkan pasir menjadi bahan batako dan juga paving. Harapannya, hal ini bisa membantu mengatasi persoalan kemiskinan yang ada di desa, terutama saat lahan-lahan masih belum bisa digunakan karena musibah banjir bandang.

Hal hampir senada disampaikan oleh Syaiful Taslim dari Lembaga KARSA yang menjadi salah satu narasumber Bimtek. Ia menyampaikan bahwa pembangunan Desa Rogo selain harus bersandar pada potensi desa, juga harus melakukan penguatan kelembagaan serta penguatan kerjasama lintas sektor.

Idris Y. Min’un yang mewakili Kagama Sulteng menyampaikan, bahwa Kagama Sulteng akan terus terlibat mengawal proses pengembangan desa inklusif di Sulteng, terutama di Desa Rogo. Kagama Sulteng aakan berkoordinasi dengan banyak pihak untuk terlibat dalam pengembangan desa inklusi, juga mendorong pengoptimalan potensi desa agar mampu memberikan manfaat besar bagi desa. Seperti lahan yang saat ini terancam oleh kemungkinan banjir bandang, mereka akan berkoordinasi dengan tim yang memiliki kemampuan melakukan analisis geologis desa Rogo. Berikutnya mereka bisa berkontribusi menyampaikan jenis program yang harus dilakukan sesuai dengan karakter desa.

Dukungan bagi pengembangan desa inklusif juga diberikan oleh Ketua DPRD Provinsi Sulteng yang sekaligus merupakan Ketua DPW Kagama Sulteng, Nilam Sari Lawira. Ia menyatakan dalam waktu dekat akan melakukan assessment dan segera membangun menara komunikasi untuk membantu masyarakat agar bisa mengakses internet secara mudah dan murah. Pengembangan layanan komunikasi online harus disegerakan, demikian janji Nilam.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*