
Pelantikan kepengurusan Kabiogama 2026-2031 bukan sekadar pergantian pengurus. Bersamaan dengan perjumpaan sekitar 120 alumni lintas angkatan dan program studi, momentum ini menegaskan upaya merawat persaudaraan sekaligus menjadikan jejaring alumni sebagai kekuatan yang bermanfaat bagi almamater, masyarakat, dan bangsa.

YOGYAKARTA – Kembali ke kampus setelah bertahun-tahun meninggalkannya selalu menghadirkan perasaan yang berbeda. Gedung boleh berubah, pepohonan tumbuh semakin rindang, dan wajah-wajah baru memenuhi sudut kampus. Namun, kenangan tentang masa muda sering kali tetap tinggal.
Perasaan itulah yang menyertai para alumni Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada ketika kembali berkumpul di kampus mereka. Balairung, Bundaran UGM, hingga sejumlah sudut kampus yang dahulu menjadi bagian dari keseharian mahasiswa kembali didatangi. Kali ini, mereka tidak lagi datang sebagai mahasiswa, tetapi sebagai alumni yang dipertemukan oleh satu ikatan: Biologi UGM.
Sekitar 120 alumni dari berbagai angkatan dan program studi berkumpul dalam Temu Alumni Keluarga Alumni Fakultas Biologi UGM (Kabiogama) 2026 di Auditorium Tropika Fakultas Biologi UGM, Yogyakarta, Senin (21/9/2026). Mengusung tema“Lintas Angkatan, Lintas Program Studi, Satu Keluarga Alumni Biologi”, pertemuan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-71 Fakultas Biologi UGM.
Pertemuan itu terasa lebih bermakna karena berlangsung berdekatan dengan dimulainya kepengurusan baru Kabiogama. Sehari sebelumnya, 20 September 2026, Pengurus Pusat Kabiogama masa bakti 2026-2031 dilantik di Auditorium Biologi Tropika, Fakultas Biologi UGM.
Dua peristiwa itu bertemu dalam satu pesan: organisasi alumni tidak cukup hanya merawat kenangan. Ia juga membutuhkan regenerasi dan kemampuan menerjemahkan jejaring lintas generasi menjadi kontribusi.
Dari regenerasi menuju kontribusi
Prosesi pelantikan dipimpin Ketua Umum PP KAGAMA, Dr. (H.C.) Ir. Mochamad Basuki Hadimuljono, M.Sc., Ph.D.. Setelah keputusan PP KAGAMA mengenai komposisi dan personalia pengurus dibacakan Dr. Megandaru Widhi Kawuryan, S.IP., M.Sc., Basuki membacakan naskah pelantikan dan memimpin pengucapan janji pengurus. Prosesi dilanjutkan dengan penyematan pin KAGAMA, penyerahan pataka, serta penandatanganan berita acara.

Kepengurusan periode 2026-2031 dipimpin Drs. Ali Dikri, M.M. Pelantikan juga dihadiri Dekan Fakultas Biologi UGM Prof. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. beserta jajaran, pengurus PP KAGAMA, dan perwakilan organisasi di lingkungan Fakultas Biologi UGM.
Bertemunya unsur alumni dan almamater dalam satu ruang menunjukkan hubungan yang ingin terus dipertahankan: bahwa keterikatan alumni dengan kampus tidak selesai ketika mereka meninggalkan bangku kuliah.

Di sinilah pergantian kepengurusan memperoleh makna lebih luas. Tantangan organisasi alumni bukan sekadar membuat struktur kepengurusan atau menyelenggarakan reuni, melainkan bagaimana keragaman pengalaman, profesi, pengetahuan, dan jejaring para alumni dapat dipertemukan untuk menghasilkan manfaat yang lebih besar.
Semangat itu terangkum dalam tiga kata yang menjadi napas kebersamaan Kabiogama: guyub, rukun, dan migunani. Melalui temu alumni yang diselenggarakan secara rutin, Kabiogama berharap dapat memperkuat hubungan alumni dengan almamater sekaligus mendorong kontribusi mereka bagi masyarakat dan bangsa.
Ketika angklung memecah batas angkatan
Suasana Auditorium Tropika berubah sehari setelah pelantikan. Jika sebelumnya ruangan itu menjadi tempat berlangsungnya prosesi organisasi, pada Senin suasananya lebih cair. Alumni dari berbagai generasi kembali bertemu dan bercakap tentang masa-masa ketika mereka masih menjadi mahasiswa.
Temu alumni diawali Senam Gemregah. Suasana kemudian mencair melalui permainan, foto bersama, pembagian bingkisan, hingga bermain angklung. Para alumni memainkan lagu-lagu yang akrab bagi berbagai generasi, antara lain Can’t Help Falling in Love, Sepanjang Jalan Kenangan, dan Jogja Istimewa.

Di tengah orang-orang yang berasal dari angkatan dan perjalanan kehidupan yang berbeda, permainan angklung seperti menghadirkan metafora sederhana tentang komunitas alumni. Setiap angklung menghasilkan nada berbeda, tetapi sebuah lagu hanya tercipta ketika berbagai nada itu dimainkan bersama.
Begitu pula sebuah organisasi alumni. Perbedaan generasi, profesi, dan pengalaman justru menjadi kekuatan ketika dapat dipertemukan menuju tujuan yang sama.
Kebersamaan tidak berhenti di auditorium. Selepas acara dan ramah tamah, para alumni melanjutkan perjalanan nostalgia mengelilingi lingkungan UGM menggunakan KOPATA. Mereka mengunjungi antara lain Balairung dan Bundaran UGM, dua tempat yang menyimpan banyak kenangan kehidupan mahasiswa lintas generasi. [
Foto-foto pun diabadikan. Namun, di balik gambar kebersamaan itu terdapat sesuatu yang lebih dalam: jarak waktu seolah memendek ketika seseorang kembali ke tempat di mana sebagian perjalanan hidupnya pernah dimulai.
Lebih dari nostalgia
Dalam rangkaian temu alumni, Ali Dikri dan Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., Ph.D. menyampaikan pentingnya menjaga hubungan antara alumni dan almamater sekaligus memperkuat kekeluargaan alumni Fakultas Biologi UGM lintas angkatan dan program studi.
Pesan tersebut relevan bagi banyak organisasi alumni. Salah satu tantangan terbesar komunitas berbasis almamater adalah membuat ikatan emosional yang lahir dari kenangan bersama berkembang menjadi kolaborasi nyata.
Temu alumni menyediakan ruang untuk itu. Mereka yang dipisahkan tahun kelulusan, program studi, pekerjaan, bahkan tempat tinggal dipertemukan kembali oleh identitas yang sama sebagai bagian keluarga besar Biologi UGM.
Modal sosial semacam inilah yang dapat menjadi fondasi hubungan alumni dan perguruan tinggi yang lebih berkelanjutan. Pertemuan alumni bukan hanya kesempatan melihat kembali perjalanan masa lalu, melainkan juga kemungkinan membangun jejaring untuk masa depan.

Dalam konteks tersebut, pelantikan kepengurusan baru dan temu alumni dapat dibaca sebagai dua sisi dari pesan yang sama. Pelantikan memastikan organisasi tetap berjalan melalui regenerasi kepemimpinan. Temu alumni memastikan organisasi tersebut memiliki akar berupa hubungan antarmanusia yang tetap hidup.
Tanpa regenerasi, organisasi dapat kehilangan daya geraknya. Sebaliknya, tanpa keterlibatan dan rasa memiliki dari para alumni, struktur kepengurusan berisiko menjadi sekadar deretan nama.
Guyub, rukun, dan migunani
Karena itu, tiga kata guyub, rukun, dan migunani menjadi relevan untuk memaknai perjalanan Kabiogama ke depan. Temu alumni diharapkan bukan hanya mempererat silaturahmi dan menghidupkan kembali kenangan bersama almamater, melainkan juga memperkuat kontribusi alumni kepada kampus, masyarakat, dan bangsa.
Di antara ketiga semangat itu, migunani barangkali menjadi tantangan terbesar bagi kepengurusan Kabiogama 2026-2031.
Sebab, keberhasilan sebuah jaringan alumni pada akhirnya tidak hanya dapat diukur dari seberapa banyak orang datang dalam sebuah reuni atau seberapa sering mereka berkumpul. Nilainya juga terletak pada sejauh mana pengetahuan, pengalaman, jejaring, dan keberagaman generasi yang dimiliki dapat menghasilkan manfaat di luar komunitasnya sendiri.

Dengan cara pandang tersebut, pelantikan pengurus dan temu alumni di Yogyakarta tidak harus berakhir sebagai dua agenda dalam rangkaian Dies Natalis Fakultas Biologi UGM. Momentum itu dapat menjadi titik berangkat untuk menjadikan jejaring alumni sebagai jembatan antargenerasi sekaligus penghubung antara pengetahuan yang tumbuh di universitas dan persoalan nyata di masyarakat.
Perjalanan dengan KOPATA menuju Balairung dan Bundaran UGM membawa para alumni kembali ke tempat mereka pernah memulai perjalanan.
Namun, pulang ke kampus sesungguhnya tidak selalu berarti kembali ke masa lalu.
Boleh jadi, kepulangan itu justru menjadi kesempatan untuk menatap ke depan dan mengajukan sebuah pertanyaan sederhana: setelah dipertemukan kembali oleh almamater, manfaat apa yang bisa dikerjakan bersama?
