KAGAMA Aceh Tebar Bibit Lele, Menghidupkan Kembali Harapan Warga Sekumur

KAGAMA Aceh Tebar Bibit Lele, Menghidupkan Kembali Harapan Warga Sekumur

ACEH TAMIANG, KAGAMA — Di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, proses pemulihan pascabanjir bandang tidak hanya diukur dari berdirinya hunian sementara. Di tengah upaya membangun kembali rumah dan fasilitas yang hancur, warga juga menghadapi tantangan yang tidak kalah berat: menghidupkan kembali sumber penghasilan yang lenyap diterjang bencana. Di titik inilah Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Aceh mengambil langkah yang berbeda, yakni mendorong pemulihan ekonomi melalui bantuan bibit lele bagi masyarakat terdampak.

Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada akhir 2025 tidak hanya merusak permukiman warga, tetapi juga menghancurkan lahan pertanian dan perkebunan yang menjadi penopang ekonomi masyarakat. Kampung Sekumur menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling berat. Ratusan keluarga kehilangan rumah, kebun sawit, tanaman produktif, serta sumber penghasilan yang selama ini menopang kehidupan mereka.

Ketika UGM dan KAGAMA menyerahkan 26 unit hunian sementara kepada warga pada awal Juli 2026, perhatian publik banyak tertuju pada kebutuhan tempat tinggal para penyintas. Namun, bagi warga Sekumur, pemulihan tidak berhenti pada tersedianya atap untuk berteduh. Kehidupan hanya dapat benar-benar pulih jika roda ekonomi kembali bergerak. Karena itu, KAGAMA Aceh melengkapi bantuan huntara dengan program pemberdayaan ekonomi, salah satunya melalui penyaluran bibit lele kepada masyarakat.

Langkah tersebut mencerminkan pendekatan pemulihan yang lebih berkelanjutan. Jika huntara menjawab kebutuhan jangka pendek, budidaya lele diharapkan menjadi pintu masuk bagi pemulihan penghidupan warga. Di tengah keterbatasan akibat rusaknya kebun dan lahan pertanian, usaha perikanan air tawar dinilai relatif cepat dikembangkan serta dapat menjadi sumber pendapatan alternatif bagi keluarga penyintas.
Program ini juga sejalan dengan semangat gotong royong yang selama ini menjadi ciri gerakan KAGAMA dalam berbagai penanganan bencana. Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat KAGAMA, Nezar Patria, menegaskan bahwa keterlibatan alumni UGM tidak hanya berhenti pada bantuan darurat, tetapi juga mencakup berbagai upaya untuk membantu masyarakat bangkit dan kembali produktif.

Bagi masyarakat Sekumur, bantuan bibit lele memiliki arti yang jauh lebih besar dibandingkan nilai ekonominya semata. Setelah berbulan-bulan bergantung pada bantuan kemanusiaan, warga membutuhkan modal untuk kembali berdiri di atas kaki sendiri. Budidaya lele memberi peluang bagi keluarga-keluarga penyintas untuk memperoleh penghasilan secara lebih cepat dibanding menunggu kebun sawit atau tanaman tahunan lainnya kembali berproduksi.

Pendekatan pemulihan berbasis ekonomi ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Aceh. Sekretaris Daerah Aceh yang juga Ketua KAGAMA Aceh, M. Nasir, menegaskan bahwa fase rehabilitasi dan rekonstruksi harus diikuti dengan percepatan pemulihan kehidupan masyarakat. Menurut dia, tantangan terbesar pascabencana bukan hanya membangun kembali infrastruktur, melainkan memastikan masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas ekonomi secara normal.
Di Sekumur, harapan itu mulai tumbuh. Setelah berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian, warga kini memiliki tempat tinggal yang lebih layak melalui huntara serta peluang untuk memulai usaha produktif melalui bantuan bibit lele. Bagi masyarakat yang kehilangan hampir seluruh asetnya akibat banjir bandang, langkah kecil tersebut menjadi penanda bahwa masa depan masih mungkin dibangun kembali.

Pemulihan Aceh Tamiang memang masih panjang. Jalan menuju kawasan pedalaman masih memerlukan perbaikan, fasilitas publik masih membutuhkan rehabilitasi, dan banyak keluarga masih berjuang mengembalikan kondisi ekonomi mereka. Namun, pengalaman di Kampung Sekumur menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup dilakukan melalui pembangunan fisik semata. Yang dibutuhkan adalah kombinasi antara penyediaan hunian, penguatan pendidikan, akses konektivitas, dan penciptaan sumber-sumber penghidupan baru bagi masyarakat.

Karena itu, bantuan bibit lele yang disalurkan KAGAMA Aceh sesungguhnya bukan sekadar program perikanan. Ia adalah simbol dari upaya mengembalikan rasa percaya diri warga untuk memulai lagi. Di tengah puing-puing bencana dan luka yang belum sepenuhnya sembuh, bibit-bibit itu membawa pesan sederhana tetapi penting: harapan tidak hanya dibangun dengan rumah, melainkan juga dengan kesempatan untuk kembali bekerja, berusaha, dan menatap masa depan.