
Hadir Secara Emosional: KAGAMA Parenting Bedah Seni Membersamai Remaja di Era Digital
Menemani anak yang sedang beranjak remaja di tengah gempuran era digital tentu menjadi tantangan tersendiri bagi setiap orang tua. Menjawab kebutuhan tersebut, Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada kembali menggelar program KAGAMA Parenting – Ngobrol Asyik yang dilaksanakan secara daring melalui platform Google Meet pada Minggu, 24 Mei 2026. Dipandu oleh Bunda Yanti sebagai moderator, webinar kali ini mengangkat tema hangat, “Berteman Akrab dengan Remaja”, dengan fokus pembahasan pada pentingnya kehadiran emosional orang tua, khususnya sosok ayah, dalam membersamai tumbuh kembang anak. Acara ini disambut antusias oleh berbagai peserta yang terdiri dari Ayah, Bunda, hingga para pendidik yang hadir secara virtual untuk mengurai fenomena remaja saat ini, di mana fasilitas materi dan teknologi sering kali tercukupi namun menyisakan kekosongan kehadiran emosional di rumah.

Pada sesi materi, narasumber Unggul Anggito Adri mengajak peserta untuk menggeser paradigma lama mengenai pola asuh. Selama ini, berkembang stereotipe di masyarakat bahwa peran seorang ayah sudah selesai ketika kebutuhan nafkah atau materi keluarga telah terpenuhi. Padahal, bagi dunia remaja yang mulai rumit, kehadiran orang tua merupakan kompas hidup, tempat aman untuk bercerita, dan mitra diskusi yang setara. Menurut praktisi parenting yang dikenal kreatif dan out of the box ini, banyak remaja hari ini sebenarnya tidak kekurangan gadget atau fasilitas sekolah yang bagus, melainkan merindukan kehadiran utuh dari orang tua mereka. Mas Unggul menegaskan bahwa orang tua, terutama ayah, harus bisa menempatkan diri menjadi tempat pulang yang senantiasa dirindukan, bukan sosok menakutkan yang justru dihindari oleh anak.
Suasana webinar menjadi semakin hidup ketika Mas Unggul membagikan kisah nyata dari pola asuh keempat putra-putrinya yang memiliki keunikan karakter masing-masing. Melalui potret keseharian keluarganya, ia membuktikan bahwa tidak ada satu rumus tunggal dalam mendidik anak karena setiap anak lahir dengan bahasa jiwa yang berbeda. Putra sulungnya, Fadhil yang berusia 14 tahun, tumbuh sebagai anak yang cepat belajar dan penuh imajinasi sehingga membutuhkan ruang diskusi yang luas agar energi penasarannya tersalurkan menjadi jiwa kepemimpinan. Karakter ini sangat kontras dengan adiknya, Shafy yang berusia 12 tahun, seorang anak teliti dan perfeksionis yang diam-diam menjadi pelindung bagi adik-adiknya. Di balik kemandiriannya yang tampak kuat seperti Kak Ros versi dunia nyata, Shafy sebetulnya adalah anak yang rapuh dan butuh dimengerti perasaannya tanpa langsung dihakimi dengan rentetan nasihat.
Keberagaman karakter di rumah Mas Unggul semakin berwarna dengan kehadiran Tirta yang berusia 8 tahun dan si bungsu Rayya yang berusia 5 tahun. Tirta merupakan tipe anak yang ekspresif, hangat, sekaligus sangat sensitif sehingga hatinya yang lembut mudah terluka oleh nada bicara orang dewasa yang keras. Sementara itu, Rayya si bungsu hadir dengan energi besar dan keberanian yang tinggi, yang hobi mengajak kakak-kakaknya berkelahi namun di balik itu ia memiliki kebutuhan besar untuk diakui keberadaannya. Dari dinamika keempat anaknya tersebut, para peserta webinar belajar bahwa menjadi orang tua menuntut fleksibilitas pendekatan. Ada anak yang perlu diajak berdiskusi serius, ada yang cukup dipeluk dalam diam, ada yang butuh didengarkan cerita acaknya, dan ada pula yang lebih nyaman diajak bercanda fisik di lantai rumah.
Menariknya, perbedaan karakter yang begitu kontras ini berhasil disatukan oleh Unggul dan istri ke dalam sebuah sistem manajemen keluarga secara kasual. Ia membagikan tips praktis mengenai penerapan “Proposal Rumah Tangga” di rumahnya, sebuah kesepakatan bersama yang mengatur tugas, tanggung jawab diri, serta tujuan besar keluarga. Komunikasi di dalam rumah pun dikelola secara multi-metode, menggabungkan obrolan formal melalui briefing evaluasi menggunakan pendekatan logical framework yang terukur, dengan obrolan santai sebelum tidur atau pillow talk. Tidak hanya itu, mekanisme kontrol dan kerja sama antaranak juga berjalan organik dengan mendelegasikan tanggung jawab kepada anak-anak yang lebih tua untuk ikut menjaga adik-adiknya.
Di penghujung acara, webinar ini meninggalkan pesan reflektif yang mendalam bagi seluruh peserta mengenai pentingnya jejak rekam pengasuhan. Masa remaja adalah fase krusial di mana anak sedang mencari identitas diri, dan pada momen-momen inilah perlakuan serta suara orang tua di rumah akan merekam jejak paling lama di kepala mereka hingga dewasa nanti. Ketika orang tua hadir dengan cinta dan penerimaan yang utuh, anak akan belajar untuk percaya diri dan tahu cara menghargai dirinya sendiri. Melalui kegiatan Ngobrol Asyik ini, KAGAMA Parenting berharap dapat terus menjadi wadah saling menguatkan bagi para orang tua untuk terus belajar, lebih banyak mendengar, dan menyadari bahwa di masa depan, hal yang paling diingat oleh anak bukanlah seberapa sibuk orang tua mereka bekerja, melainkan seberapa dalam mereka merasa dicintai dan diterima di rumah.