Malam Tirakatan Kagama Depok Berlangsung Penuh Keceriaan Sekaligus Keharuan

Oleh: Haris Shantanu

Pada puncak kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan ke-76 Republik Indonesia, Kagama Depok bersama Komunitas Harmoni Warna Indonesia (HWI) menyelenggarakan kegiatan tirakatan pada Senin (16/8/2021) malam hari. Agenda utama malam tirakatan berupa berbagi pengalaman oleh 4 saksi sejarah, yaitu Eyang Endang Utari, Eyang Hartati, Eyang Endang Rahayu dan Eyang Endang Oesodowati, di mana keempatnya telah berusia lebih dari 80 tahun.

Turut hadir pula, Ketua PP Kagama, Ganjar Pranowo serta pembina Kagama Depok, Agus Marsudi, yang mana keduanya sangat terkesan dan mensuport penuh kegiatan yang dilakukan Kagama Depok. Acara tirakatan dipandu oleh MC Satrio Anindito dari Komunitas HWI.

Sebagai wujud kebersamaan dan solidaritas, ada doa bersama lintas agama yang diwakili oleh Musliq Bashori (Islam), Romo Anton OFM (Katholik), Pdt. Hendra MH Manalu M.Th (Kristen), Billy Gunawan (Budha), Wayan Nefo (Agama) dan Aldi Destian Satya (Kong Hu Cu).

Kisah 4 Eyang Inspiratif

Pengalaman masa penjajahan dari tahun 1935 s/d 1946-an yang dialami oleh 4 narasumber dipandu oleh Nurul Handjati, doktor lulusan Ilmu Politik UGM yang saat ini menjadi dosen di Universitas Indonesia.

Eyang Endang Utari (86 tahun) mengisahkan masa kecilnya saat penjajahan Jepang pada tahun 1942-an. Utari kecil pernah mengalami kejadian harus mengungsi dengan berjalan kaki lebih dari 7 jam di malam hari, bersama adik dan kakak serta orang tuanya.

“Adik saya juga harus berjalan, meski kadang juga digendong oleh kakak yang tertua. Perjalanan malam yang kami tidak tahu akan kemana,” kisah Eyang Utari.

Lain lagi kisah Eyang Hartati saat rumahnya didatangi pasukan Jepang, dan semua disuruh pergi. “Waktu itu saya tidak tahu apa yang dilakukan tantara Jepang. Namun setelah itu setiap kali tentara Jepang datang, kami disuruh bersembunyi, sampai harus menggali tanah lalu ditutupi dedaunan agar tidak terlihat.”

Meski dalam situasi terjajah, masa kanak-kanak Hartati masih bisa berlatih menari. “Kan tidak setiap hari perang, ada kalanya Jepang kan juga mencari simpati rakyat, jadi kami masih bisa berlatih menari.” ucapnya sambil mengenang masa lalu.

Situasi yang relatif sama diceritakan oleh Eyang Oesodowati dan Eyang Rahayu. Dan dari yang dikisahkan, mendapat tanggapan sangat banyak dari peserta tirakatan yang umumnya masih muda, dan para peserta lomba tari tradisional dari berbagai wilayah. Salah satu peserta, Yati Hariyati menuliskan, “Banyak pengalaman yang sangat berharga dari eyang-eyang narasumber. Sangat inspiratif. Matur nuwun.”

Kisah yang mirip situasinya dituliskan oleh Giantira A. Sudjebun, “Di salah satu desa di kecamatan yang saya tinggal di Maluku, ada seorang nenek, satu satunya yang selamat dari pembantaian penjajahan Jepang. Ia selamat karena karena bersembunyi di antara mayat-mayat. Eyang-eyang yang merasakan penjajahan sangat luar biasa, begitu hebat bisa bertahan di tengah penjajahan yang sangatlah kejam.”

Pengumuman Lomba Tari Tradisional Virtual

Acara puncak dari tirakatan adalah pengumuman pemenang Lomba Tari Tradisional Virtual. Hasil penilaian yang diberikan oleh tim juri dari Kagama Beksan, seperti disampaikan oleh Shinta meliputi 4 kriteria penilaian, yaitu wiraga (bentuk gerak tarian), wirasa (penghayatan dan ekspresi), wirama (kesatuan dalam gerak dan iringan) serta kostum (busana dan rias). Dari hasil penilaian tersebut, terpilih para pemenangnya yaitu:

  • Juara 1: Ni Wayan Arma Yonika Sari dengan nilai 1.405, berhak mendapat hadiah Rp 3.000.000 dan piagam
  • Juara 2: Samiadji dengan nilai 1.315, berhak mendapat hadiah Rp 2.000.000 dan piagam
  • Juara 3: Dwi Nusa Aji dengan nilai 1.305 berhak mendapat hadiah Rp 1.000.000 dan piagam
  • Juara Favorit: Teresa Ratu berhak mendapat hadiah Rp 1.600.000 dan piagam

Setelah pengumunan pemenang, tirakatan diisi penampilan istimewa grup musik Gilas Kentjrung dari Yogyakarta yang membawakan lagu-lagu bertama nasionalisme, yang disiarkan secara live dari di Pos Damkar UGM. Arif Nurcahyo, komandan PK4L UGM, mewakili Gilas Kentjroeng memberikan dukungan dan memuji acara malam tirakatan yang diadakan oleh Kagama Depok.

“Yang bikin perasaan saya nggregeli (tersentuh) adalah ide Lomba Tari Tradisional yang sepertinya piye, tapi begitu melihat animo dan kualitas para juara memang istimewa. Selamat dan sukses selalu nggih”. ucap Arif Nurcahyo.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*