Kunjungan ke Lokasi KKN: Klari, Karawang

Kunjungan ke Lokasi KKN: Klari, Karawang

oleh Titiek S. Yuliani

Suatu hari, saya berkesempatan mengunjungi lokasi KKN mahasiswa di Desa Klari, Krawang. Desa ini dipilih karena beberapa persoalan yang cukup mendesak untuk digarap bersama warga: pengelolaan sampah rumah tangga, kualitas gizi balita, dan tata kelola lingkungan yang masih jauh dari ideal.

Program utama yang dijalankan cukup konkret. Mahasiswa mengajak warga memilah sampah organik dan anorganik, lalu memperkenalkan proses dekomposer menggunakan alat bantuan dari Pupuk Kujang — sebuah upaya kecil namun nyata untuk mengubah sampah dapur menjadi kompos yang bermanfaat. Di sisi lain, mereka juga membuat biopori di beberapa titik desa, sebagai solutif sederhana untuk menyerap air hujan dan mengurangi genangan. Tak kalah penting, ada pula program edukasi gizi untuk balita, mengingat stunting masih menjadi tantangan serius di banyak wilayah pedesaan.

Namun dari semua yang terjadi selama kunjungan, ada dua momen yang cukup unik dan membekas.

Yang pertama, seorang Ibu RT setempat meminta dibuatkan spanduk berisi visi-misi — rupanya beliau berniat maju sebagai aparat desa. Permintaan ini akhirnya kami sarankan untuk dihindari, mengingat KKN semestinya netral dan tidak masuk ke ranah politik praktis. Apalagi di Krawang, suasana pemilihan Kepala Desa dikenal cukup keras — menang atau kalah, tak jarang ada pihak yang kecewa dan berujung pada aksi-aksi yang merugikan. Bagi mahasiswa yang tinggal di tengah masyarakat selama masa KKN, menjaga jarak dari isu semacam ini adalah pilihan yang bijaksana.

Yang kedua, cukup menyentuh: beberapa warga lanjut usia datang dan meminta tolong dicarikan pekerjaan. Tampaknya harapan mereka sederhana — bisa bekerja di perusahaan-perusahaan yang berdiri di sekitar desa. Sebuah pengingat bahwa di balik program-program teknis seperti pemilahan sampah dan biopori, ada kebutuhan hidup yang jauh lebih mendasar: kesempatan untuk tetap produktif dan mandiri di usia senja.

Dari kunjungan singkat ini, tergambar jelas bahwa KKN bukan sekadar menjalankan program di atas kertas, tapi juga belajar membaca dinamika sosial, politik kecil di desa, hingga harapan-harapan personal warga yang kadang tak tertulis dalam proposal kegiatan.