Ketika Batik Mencari Penerus: Regenerasi pembatik, pewarisan pengetahuan, dan pelestarian budaya menjadi tantangan utama keberlanjutan batik Indonesia

YOGYAKARTA – Pengakuan dunia terhadap batik Indonesia terus menguat. Kain yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda dunia itu hadir dalam berbagai forum internasional, ruang diplomasi, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun di balik pengakuan tersebut, tersimpan tantangan yang semakin nyata: siapa yang akan meneruskan pengetahuan dan keterampilan membatik pada masa depan?

Pertanyaan itulah yang mengemuka dalam Seminar Nasional Hari Batik Nasional 2026 bertajuk Merawat Warisan, Menumbuhkan Masa Depan: Batik sebagai Identitas Budaya dan Ruang Inovasi di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Para pembicara menilai keberlanjutan batik tidak cukup dijaga melalui pelestarian karya semata, tetapi juga melalui pewarisan pengetahuan, regenerasi pembatik, dan penguatan pemahaman masyarakat terhadap nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Batik Bukan Sekadar Kain

Ketua Kagama Batik dan Wastra Nusantara, Nurhayati Nirmalasari, mengingatkan bahwa batik bukan hanya produk tekstil yang dikenakan dalam berbagai kesempatan. Di balik setiap motif tersimpan filosofi, sejarah, kreativitas, dan gambaran kehidupan masyarakat yang melahirkannya.

“Kami percaya kalau batik dan wastra nusantara bukan hanya selembar kain yang bermotif cantik, tetapi juga sesuatu yang mengandung filosofi, nilai sejarah, kreativitas, dan gambaran kehidupan masyarakat Indonesia. Batik adalah gambaran budaya bangsa Indonesia.”

Pandangan serupa disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Nur Saktiningrum. Ia menyebut batik sebagai teks budaya yang merekam cara pandang, nilai, dan pengalaman hidup masyarakat dari masa ke masa.

“Di dalam selembar kain tersimpan doa, nasihat, dan cara pandang leluhur kita. Ketika kita mengenakan batik, kita tidak hanya berpakaian. Kita sedang membawa nilai, sejarah, dan jati diri bangsa.”

Karena itu, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui arsip dan dokumentasi. Kebudayaan perlu dialami secara langsung agar maknanya tetap hidup.

“Budaya harus dialami dengan tubuh, dirasakan dengan tangan, dan didengar dengan hati.”

Pandangan tersebut sejalan dengan yang disampaikan Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Wening Udasmoro. Ia mengingatkan bahwa batik kerap dipahami hanya sebagai produk budaya, padahal kebudayaan memiliki dimensi yang lebih luas.

“Sering kali kita melihat batik hanya sebagai produk. Padahal dalam kebudayaan ada tiga aspek, yaitu produk, gagasan, dan perilaku.”

Dalam konteks itu, batik tidak hanya hadir dalam bentuk kain, tetapi juga hidup sebagai praktik sosial dan cara masyarakat mengekspresikan identitasnya. Bahkan, batik telah menjadi salah satu wajah Indonesia di berbagai forum internasional.

“Perilaku budaya batik menjadi salah satu bagian dari diplomasi budaya.”

Menjaga Pengetahuan di Balik Motif

Jika para akademisi menyoroti batik sebagai bagian dari kebudayaan yang hidup, perhatian lain tertuju pada upaya menjaga pengetahuan yang menopang tradisi tersebut.

Mewakili PP KAGAMA, Sulastama Raharja menyoroti pentingnya dokumentasi, penelitian, dan pewarisan pengetahuan agar berbagai kisah dan pengalaman yang tersimpan di balik batik tidak hilang.

“Ada sejarah keluarga, ada perjalanan antar generasi, ada perjumpaan antar budaya, ada filosofi, dan ada ketekunan tangan-tangan pembatik.”

Menurut Sulastama, pengetahuan yang melekat pada sehelai batik tidak boleh berhenti sebagai koleksi pribadi atau memori keluarga.

“Warisan dan pengetahuan seperti ini tidak boleh berhenti di lemari kolektor atau tersimpan sebagai kenangan keluarga semata. Ia harus diteliti, didokumentasikan, didiskusikan, dan diperkenalkan kembali kepada generasi muda.”

Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, dokumentasi menjadi salah satu cara untuk memastikan pengetahuan tersebut tetap dapat diakses dan diwariskan.

Ketika Batik “Bukan Batik” Membanjiri Pasar

Persoalan pelestarian menjadi semakin kompleks ketika batik berhadapan dengan perubahan pasar dan industri.

Pakar pelestarian budaya sekaligus UNESCO Chair in Heritage Studies, Conservation and Management, Dr. Eng. Ir. Laretna Trisnantari Adishakti, mengingatkan bahwa batik telah lama memainkan peran penting dalam diplomasi budaya Indonesia.

“Batik itu punya peran yang luar biasa.”

Namun, di tengah semakin luasnya pengakuan terhadap batik, muncul tantangan baru berupa membanjirnya produk bermotif batik yang tidak dibuat melalui proses membatik.

“Kita digempur oleh yang tidak asli. Batik yang bukan batik.”

Karena itu, Laretna menegaskan pentingnya memahami batik bukan hanya dari penampilannya, tetapi juga dari proses yang melahirkannya.

“Batik asli itu adalah sebuah proses. Proses kerajinan tangan.”

Krisis Regenerasi di Sentra Batik

Tantangan tersebut tidak hanya terlihat pada pasar dan persepsi publik. Di sejumlah sentra batik, persoalan yang lebih mendasar justru berkaitan dengan regenerasi.

Semakin sedikit generasi muda yang memilih menjadi pembatik, sementara banyak perajin senior yang menjadi penyimpan utama pengetahuan tradisional kini memasuki usia lanjut. Situasi itu memunculkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan tradisi membatik di masa depan.

Menghidupkan Kembali Warisan Nyah Kiok

Kegelisahan tersebut disampaikan pewaris Batik Nyah Kiok Lasem, Dr. Sulistiono, yang beberapa tahun terakhir kembali menekuni warisan batik keluarganya.

“Saya adalah anaknya Nyah Kiok.”

Menurut Sulistiono, jumlah pembatik peranakan Lasem yang masih aktif saat ini semakin sedikit.

“Pembatik peranakan di Lasem saat ini tinggal empat sampai enam.”

Ia memilih kembali ke Lasem setelah puluhan tahun berkarier di bidang kesehatan untuk menghidupkan kembali pola-pola dan pengetahuan yang diwariskan keluarganya.

“Saya bukan reproduksi. Saya membatik kembali bukan dari kain, tapi dari gambar-gambar pola dasar yang dikembangkan.”

Baginya, pelestarian bukan berarti mengulang masa lalu secara persis, melainkan meneruskan semangat dan pengetahuan yang melahirkan karya-karya tersebut.

Tradisi dan Inovasi Bisa Berjalan Bersama

Berbeda dengan Sulistiono yang tumbuh dalam lingkungan pembatik, Aji Setyowijoyo memasuki dunia batik melalui proses belajar dan eksplorasi pribadi.

“Saya harus menemukan warna saya sendiri.”

Pengalaman tersebut membawanya pada pemahaman bahwa tradisi tidak hanya terletak pada motif yang terlihat.

“Pakem itu bukan motif. Pakem itu adalah urutan kerja.”

Bagi Aji, inovasi tidak perlu dipertentangkan dengan pelestarian. Justru pemahaman mendalam terhadap tradisi dapat menjadi fondasi bagi lahirnya pembaruan.

“Dari kita untuk kita.”

Menjaga Pengetahuan, Menjaga Masa Depan

Berbagai pandangan yang mengemuka sepanjang seminar pada akhirnya bertemu pada satu titik yang sama: keberlanjutan. Batik tidak hanya membutuhkan pelestarian karya, tetapi juga regenerasi pembatik, dokumentasi pengetahuan, penelitian, dan pewarisan tradisi.

Menutup diskusi, Sulistiono mengajak masyarakat untuk melihat lebih jauh dari sekadar motif dan warna yang tampak pada permukaan kain.

“Cintailah batik asli Indonesia dan ketahuilah bagaimana rumitnya membuat batik. Kalau bukan kita yang menghargai, siapa lagi?”

Di tengah perubahan zaman, masa depan batik tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya bertahan sebagai produk budaya. Yang lebih penting adalah memastikan pengetahuan yang melahirkannya tetap hidup, terus diwariskan, dan menemukan generasi penerus yang bersedia menjaganya.