KAGAMA Kendari, Mengubah Jejaring Alumni Menjadi Kekuatan bagi Daerah

Kepengurusan KAGAMA Kota Kendari 2025-2030 membawa gagasan ”rumah besar” yang inklusif. Di tengah tantangan ketenagakerjaan, kemiskinan, lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam, jejaring alumni didorong tidak berhenti pada silaturahmi, tetapi hadir dengan kerja nyata bagi daerah.

KENDARI – Bagi sebuah organisasi alumni, pelantikan pengurus mudah berakhir sebagai seremoni: pembacaan keputusan, pengucapan janji, foto bersama, lalu ramah tamah. Tantangan sebenarnya baru dimulai setelah acara usai, ketika jejaring alumni harus membuktikan manfaatnya bagi masyarakat.

Tantangan itulah yang dihadapi Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Kota Kendari setelah kepengurusan masa bakti 2025-2030 dilantik dalam rangkaian Pelantikan dan Rapat Kerja di Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (19/9/2026).

Mengusung tema”Rumah Besar KAGAMA yang Inklusif; Bersinergi dan Berdampak buat Kemajuan Daerah”, kepengurusan baru ingin membawa organisasi alumni keluar dari sekadar ruang silaturahmi. Jejaring lintas profesi para alumninya hendak diarahkan untuk membantu menjawab persoalan nyata Kota Kendari dan Sulawesi Tenggara.

Gagasan mengenai ”rumah besar” itu sebenarnya telah diperkenalkan sejak Musyawarah Cabang KAGAMA Kota Kendari pada 21 Desember 2025. Dalam musyawarah yang diikuti sekitar 60 alumni, peserta secara mufakat menetapkan Prof. Dr. M. Najib Husain, M.Si. sebagai ketua formatur. Ketika itu, Najib mengemukakan gagasan menjadikan KAGAMA sebagai rumah bersama yang terbuka bagi alumni tanpa sekat profesi, usia, ataupun bidang keahlian.

Selepas pelantikan, gagasan tersebut memasuki tahap yang lebih konkret.

”Kami ingin menunjukkan bahwa alumni-alumni KAGAMA memiliki kontribusi nyata kepada Pemerintah Kota Kendari, utamanya dalam membangun dan mewujudkan Kota Kendari yang maju dan hebat,” kata Najib.

Membangun dari Basis Data

Salah satu pekerjaan pertama kepengurusan baru justru terlihat sederhana: mendata alumni UGM yang tinggal dan bekerja di Kendari.

Menurut Najib, basis data alumni yang akurat diperlukan sebelum KAGAMA dapat membangun program kolaborasi yang lebih luas. Dengan mengenali latar belakang pendidikan, profesi, kompetensi, dan persebaran alumninya, organisasi diharapkan mengetahui sumber daya yang sungguh-sungguh dapat digerakkan.

Pendekatan ini sejalan dengan visi yang dikemukakan Najib ketika terpilih pada Desember 2025. Kekuatan alumni, menurut dia saat itu, perlu disatukan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan dunia usaha sehingga dapat ikut mendorong pembangunan pada bidang pendidikan, ekonomi, sosial, serta penguatan sumber daya manusia.

Pendataan dengan demikian bukan semata urusan administrasi. Basis data dapat menjadi peta kompetensi yang mempertemukan persoalan daerah dengan orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk ikut mencari jalan keluarnya.

Setelah konsolidasi internal tersebut, KAGAMA Kendari menargetkan kolaborasi lintas sektor. Persoalan ekonomi, lingkungan, hingga kemiskinan menjadi sejumlah isu yang dinilai membutuhkan kerja bersama organisasi alumni, perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.

Arah tersebut sekaligus melanjutkan tradisi kegiatan kepengurusan sebelumnya. Dalam Muscab 2025 dilaporkan bahwa KAGAMA Kendari pada periode sebelumnya menjalankan antara lain diskusi intelektual, kegiatan pengabdian masyarakat, serta dukungan bagi pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata UGM hingga daerah pelosok Sulawesi Tenggara.

Pekerjaan atau Menciptakan Pekerjaan

Persoalan yang mendapatkan perhatian khusus dalam pelantikan kali ini adalah ketenagakerjaan.

Wakil Ketua IV Pengurus Pusat KAGAMA, Prof. Anwar Sanusi, mengingatkan bahwa dunia pendidikan pada akhirnya berhadapan dengan dua kemungkinan bagi lulusannya: memasuki dunia kerja atau menjadi tenaga kerja mandiri.

Pilihan kedua menuntut lebih dari sekadar keberanian berusaha.

”Jika menjadi tenaga kerja mandiri, mereka harus disiapkan dengan berbagai keterampilan yang dibutuhkan, seperti diagnosis pasar, pengelolaan aset dan sumber daya, hingga strategi pemasaran,” kata Anwar.

Bagi KAGAMA Kendari, persoalan tersebut membuka ruang pengabdian yang cukup luas. Jejaring alumni lintas disiplin dapat berperan mempertemukan dunia pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja sekaligus membantu mempersiapkan calon wirausaha yang tidak hanya memiliki pengetahuan akademis.

Pengabdian kepada masyarakat sejatinya bukan gagasan baru bagi KAGAMA di Sulawesi Tenggara. Ketika melantik pengurus KAGAMA Sulawesi Tenggara, Kendari, dan Buton pada Agustus 2023, Anwar juga meminta pengurus membawa nilai pengabdian yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UGM. Ketika itu ia menekankan prinsip guyub, rukun, dan migunani, atau kebersamaan, kerukunan, dan kebermanfaatan.

Kini, prinsip migunani itu memperoleh tantangan yang lebih konkret: seberapa jauh organisasi alumni dapat membantu masyarakat menghadapi perubahan dunia kerja.

Kampus dan Persoalan Daerah

Peluang lain datang dari kuatnya unsur akademisi dalam kepengurusan KAGAMA Kendari.

Banyak pengurus berprofesi sebagai akademisi dan dosen. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi modal untuk memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi di daerah, termasuk Universitas Halu Oleo (UHO).

Hubungan KAGAMA dengan UHO juga telah dibangun sebelumnya. Pada pelantikan kepengurusan KAGAMA Sulawesi Tenggara, Kendari, dan Buton pada 2023, KAGAMA dan UHO menandatangani kerja sama. Rangkaian kegiatan saat itu juga mencakup seminar mengenai hilirisasi industri untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Kolaborasi semacam itu, menurut Anwar, dapat digunakan untuk membangun kesadaran mahasiswa tentang tanggung jawab sosial masyarakat terdidik. Perguruan tinggi tidak semestinya menjadi menara yang terpisah dari persoalan di sekelilingnya.

Peran kaum terdidik menjadi semakin relevan ketika berhadapan dengan potensi sekaligus persoalan pembangunan di Sulawesi Tenggara. Kekayaan sumber daya alam, menurut Anwar, perlu memberikan manfaat yang lebih luas bagi pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas pelayanan publik.

”Saya yakin jika semangat ini terus didorong, KAGAMA dapat menggerakkan kesadaran bersama yang memberikan dampak langsung bagi kemajuan masyarakat di Sulawesi Tenggara,” ujarnya.

Dari Pertemuan Alumni ke Ruang Kolaborasi

Kepengurusan yang dipimpin Najib merupakan estafet kepemimpinan setelah periode sebelumnya yang dipimpin Dr. Darmin Tuwu. Catatan Muscab pada Desember 2025 menunjukkan forum kepemimpinan lima tahunan tersebut tidak sekadar memilih ketua baru, tetapi juga mengevaluasi kepengurusan sebelumnya dan merumuskan arah organisasi untuk lima tahun berikutnya.

Najib menempatkan inklusivitas sebagai salah satu fondasi periode kepengurusannya. Ketika terpilih sebagai ketua formatur, konsep ”Rumah Besar KAGAMA” dimaksudkan sebagai ruang bersama bagi seluruh alumni UGM tanpa membedakan profesi, usia, ataupun bidang keahlian. Sinergi alumni, pemerintah, dan dunia usaha kemudian ditempatkan sebagai jalan untuk membawa potensi tersebut menjadi kontribusi pembangunan.

Pilihan tersebut penting. Sebab, kekuatan organisasi alumni tidak terutama terletak pada struktur kepengurusannya, melainkan pada keragaman pengetahuan, profesi, pengalaman, dan jejaring orang-orang di dalamnya.

Akademisi dapat membawa hasil riset. Pelaku usaha mengenali dinamika pasar. Aparatur memahami ruang kebijakan. Profesional mempunyai keahlian teknis. Ketika potensi itu bertemu dengan persoalan konkret masyarakat, organisasi alumni memperoleh kesempatan untuk menjadi lebih dari perkumpulan orang-orang yang pernah belajar di kampus yang sama.

Di situlah ukuran keberhasilan KAGAMA Kendari periode 2025-2030 kelak akan terlihat.

Pelantikan boleh menjadi penanda dimulainya kepengurusan. Namun, lima tahun mendatang tidak akan terutama dinilai dari ramainya pertemuan alumni ataupun panjangnya daftar program kerja.

Ukuran yang jauh lebih penting adalah apakah ”rumah besar” yang dibangun itu benar-benar membuka pintunya kepada masyarakat di luar rumah tersebut.

Sebab, pada akhirnya, makna guyub, rukun, migunani terletak pada kata terakhir: bermanfaat.