GOBAR KGN: MERAJUT SINERGI, MENGAYUH KOLABORASI

SURAKARTA, KAGAMA — Di tengah berkembangnya berbagai komunitas olahraga di perkotaan, Kagama Gowes Nusantara (KGN) menunjukkan bahwa bersepeda tidak semata menjadi sarana menjaga kebugaran. Di atas sadel sepeda, para alumni Universitas Gadjah Mada menemukan ruang untuk mempererat persaudaraan, memperluas jejaring, dan membangun kolaborasi lintas daerah.

Semangat itu terasa dalam kegiatan gowes bareng (gobar) KGN Yogyakarta dan KGN Solo pada Ahad (26/7/2026). Sebanyak 15 anggota KGN Yogyakarta berkunjung ke Kota Solo untuk bersilaturahmi dengan alumni yang tergabung dalam KGN Solo. Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban itu menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan antarkomunitas alumni UGM di dua kota yang memiliki ikatan historis dan budaya yang kuat.

Rombongan KGN Yogyakarta disambut anggota KGN Solo di kawasan Stasiun Purwosari. Sejak awal perjumpaan, suasana cair dan akrab langsung terasa. Tidak ada sekat usia, profesi, maupun angkatan. Yang hadir adalah semangat kekeluargaan yang selama ini menjadi salah satu ciri khas komunitas alumni Universitas Gadjah Mada.

Dari Purwosari, para pegowes menyusuri sejumlah ikon Kota Surakarta. Salah satu tujuan pertama adalah Tugu Lilin, monumen yang dibangun pada 1933 untuk memperingati 25 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Di lokasi tersebut, rombongan berhenti sejenak untuk berfoto bersama sambil menikmati salah satu penanda sejarah penting di Kota Bengawan.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menyusuri Jalan Slamet Riyadi yang setiap akhir pekan menjadi kawasan ramah pesepeda dan pejalan kaki. Ruang publik yang terbuka dan nyaman itu menghadirkan pengalaman berbeda bagi para peserta. Mereka dapat menikmati denyut kehidupan kota tanpa hiruk-pikuk kendaraan bermotor, sekaligus merasakan wajah Solo sebagai kota yang semakin memberi ruang bagi aktivitas masyarakat yang sehat dan berkelanjutan.

Rombongan selanjutnya mengunjungi Kampung Wisata Batik Kauman, salah satu sentra batik tertua dan paling bersejarah di Surakarta. Kawasan tersebut menjadi saksi perkembangan industri batik yang tumbuh dari lingkungan Keraton Surakarta dan hingga kini tetap menjadi bagian penting identitas budaya kota. Di sela kegiatan gowes, peserta menikmati suasana kampung heritage yang masih terawat dengan baik.

Dari Kauman, para pegowes melanjutkan perjalanan menuju Kamandungan Keraton Surakarta Hadiningrat. Kompleks keraton yang menjadi simbol sejarah dan kebudayaan Jawa itu menjadi lokasi berikutnya untuk berswafoto dan mengabadikan kebersamaan. Bagi para alumni, kunjungan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan olahraga, tetapi juga kesempatan untuk semakin mengenal kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.

Puncak kegiatan berlangsung di Sasono Mulyo, kediaman Ketua KAGAMA Surakarta, KGPHA Dipokusumo. Dalam suasana santai dan penuh kekeluargaan, para peserta berdiskusi mengenai penguatan jejaring alumni serta peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan pada masa mendatang.

Menurut KGPHA Dipokusumo, yang akrab disapa Gusti Dipo, hubungan baik yang telah terjalin antara KGN Solo dan KGN Yogyakarta merupakan modal penting yang harus terus dipelihara.

“Sinergi baik antara KGN Solo dan KGN Yogyakarta merupakan hal baik yang harus terus dijalin,” ujarnya.

Ia menilai komunitas alumni memiliki peran strategis sebagai ruang perjumpaan lintas profesi, lintas generasi, dan lintas daerah. Karena itu, kegiatan yang mempertemukan anggota secara langsung seperti gobar menjadi sarana efektif untuk membangun komunikasi dan memperkuat rasa kebersamaan.

Sebagai bentuk tindak lanjut dari pertemuan tersebut, KGN Solo berencana melakukan kunjungan balasan ke Yogyakarta dalam kegiatan gowes bersama berikutnya. Kunjungan itu diharapkan semakin mempererat hubungan yang selama ini telah terbangun dengan baik.

Wakil Ketua KGN, Budi Hening Santoso, menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan gobar bukanlah semata-mata olahraga, melainkan memperkuat ikatan sesama alumni UGM.

“Tujuan utamanya adalah merekatkan hubungan alumni UGM, dan yang terpenting sehat bersama,” kata alumnus Teknik Arsitektur UGM tersebut.

Menurut Budi, kegiatan mengunjungi berbagai komunitas dan pengurus KAGAMA di berbagai daerah merupakan bagian dari program kerja KGN untuk membangun sinergi dan kolaborasi yang lebih luas. Melalui aktivitas yang sederhana dan menyenangkan seperti bersepeda, komunikasi antardaerah menjadi lebih cair, hubungan personal semakin dekat, dan berbagai peluang kerja sama dapat tumbuh secara alami.

Di era ketika interaksi sosial sering kali dibatasi oleh kesibukan dan komunikasi digital, kegiatan seperti gobar menghadirkan kembali makna penting sebuah perjumpaan. Bersepeda menjadi medium yang mampu mempertemukan orang-orang dari beragam latar belakang dalam suasana yang egaliter dan penuh kegembiraan.

Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa organisasi alumni tidak lagi sekadar menjadi wadah nostalgia atas masa-masa kuliah. Organisasi alumni kini berkembang menjadi jaringan sosial yang produktif, yang mampu menghadirkan manfaat bagi anggotanya maupun masyarakat luas melalui berbagai kegiatan kolaboratif.

KGN berencana melanjutkan agenda gowes bersama pada akhir Agustus mendatang. Harapannya, kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat hubungan antarkomunitas KAGAMA, tetapi juga memperluas semangat kebersamaan yang selama ini menjadi fondasi organisasi alumni Universitas Gadjah Mada.

Di Kota Solo, sepeda menjadi lebih dari sekadar alat transportasi atau sarana olahraga. Kayuhan bersama itu menjelma ruang perjumpaan, mempererat persaudaraan sesama alumni UGM, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas. Di tengah kehidupan yang semakin individual dan serba digital, kebersamaan yang terbangun di atas sadel sepeda menjadi pengingat bahwa jejaring alumni pada akhirnya bertumpu pada satu hal yang sederhana: kemauan untuk terus terhubung dan tumbuh bersama.