LOMBOK TIMUR – Peringatan Hari Mangrove Sedunia pada 26 Juli 2026 menjadi momentum istimewa lahirnya gerakan kolaboratif untuk menjaga ekosistem pesisir di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Makam Suci, Dusun Lendang Batu, Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Di kawasan yang menjadi benteng alami pesisir tersebut, semangat gotong royong menyatu dalam aksi penanaman mangrove yang difasilitasi oleh Andang Makhdir, alumni Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada angkatan 2000 yang menjabat sebagai Kepala KPH Wilayah II NTB sekaligus anggota KAGAMAHUT NTB, bersama mahasiswa KKN-PPM UGM Unit Melukis Sambelia.
Mengusung semangat menjaga bumi dari garis pantai, kegiatan ini tidak hanya menjadi aksi rehabilitasi lingkungan, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat. Sebanyak 200 peserta turut ambil bagian, menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kelestarian mangrove telah berkembang menjadi gerakan bersama lintas generasi dan lintas sektor.
Kegiatan ini dihadiri oleh para alumni Fakultas Kehutanan UGM yang tergabung dalam KAGAMAHUT, di antaranya Astetika Ardi, alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 2002 selaku Ketua KAGAMAHUT NTB; Sigit Haryadi, alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1996 selaku Kepala BPDAS Dodokan Moyosari; Ansori, alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 2010 dari Balai Taman Nasional Gunung Rinjani; serta Andang Makhdir, alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 2000 dari KPH Wilayah II NTB. Kegiatan ini juga melibatkan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Asosiasi Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), PLN, mahasiswa KKN-PPM UGM Unit Melukis Sambelia, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Mataram (UNRAM), tokoh agama, tokoh pemuda, masyarakat setempat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan pesisir.

Kehadiran mahasiswa KKN-PPM UGM Unit Melukis Sambelia memberikan energi tersendiri dalam kegiatan tersebut. Bersama masyarakat, mereka tidak hanya menanam bibit mangrove, tetapi juga membangun kesadaran bahwa setiap pohon yang ditanam hari ini akan menjadi benteng kehidupan di masa depan. Melalui pengabdian yang berpadu dengan aksi nyata, mahasiswa menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan, pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian lingkungan.
Dalam sambutannya, Andang Makhdir, alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 2000, menegaskan bahwa mangrove memiliki fungsi yang sangat strategis sebagai pelindung alami kawasan pesisir. Selain mampu menahan abrasi dan meredam gelombang, hutan mangrove juga menjadi habitat berbagai biota laut, menyerap karbon dalam jumlah besar, serta menopang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir.
“Hari Mangrove Sedunia harus menjadi pengingat bahwa menjaga pesisir tidak cukup dengan wacana. Dibutuhkan aksi nyata dan kolaborasi yang berkelanjutan. Saya mengapresiasi semangat adik-adik KKN-PPM UGM Unit Melukis Sambelia yang bersama seluruh mitra turun langsung menanam harapan bagi masa depan lingkungan. Setiap bibit yang ditanam hari ini adalah investasi bagi generasi yang akan datang,” ujar Andang.

Suasana penuh semangat mewarnai seluruh rangkaian kegiatan. Para peserta bergotong royong menanam mangrove di kawasan pesisir TWA Makam Suci dengan antusias. Tidak ada sekat antara mahasiswa, pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, maupun masyarakat. Seluruh elemen bergerak dalam satu tujuan yang sama, yakni memulihkan ekosistem pesisir sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Melalui kegiatan ini, para alumni Fakultas Kehutanan UGM yang tergabung dalam KAGAMAHUT NTB bersama mahasiswa KKN-PPM UGM Unit Melukis Sambelia kembali menegaskan bahwa keberhasilan rehabilitasi mangrove hanya dapat diwujudkan melalui sinergi yang kuat dan berkelanjutan. Dari pesisir Sambelia, lahir pesan optimistis bahwa kolaborasi antargenerasi, yang dipelopori oleh para alumni dan mahasiswa UGM bersama seluruh pemangku kepentingan, menjadi kunci menjaga masa depan lingkungan. Bibit-bibit mangrove yang ditanam pada Hari Mangrove Sedunia ini bukan sekadar tanaman, melainkan warisan hijau yang kelak akan menjadi pelindung pesisir, penyimpan karbon, rumah bagi keanekaragaman hayati, serta simbol komitmen bersama dalam mewujudkan Indonesia yang semakin hijau, tangguh, dan lestari.






