KEBUMEN, KAGAMA — Di tengah perubahan ekonomi yang semakin cepat akibat digitalisasi dan perkembangan teknologi, pesantren tidak lagi hanya dipandang sebagai pusat pendidikan keagamaan. Pesantren juga mulai mengambil peran sebagai ruang lahirnya generasi muda yang mandiri, kreatif, dan produktif secara ekonomi.
Gagasan itu mengemuka dalam Seminar Kewirausahaan bertajuk“Menabur Benih Santri Entrepreneur Sejak Dini” yang diselenggarakan Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (PP KAGAMA) bekerja sama dengan Pondok Pesantren Mahasiswa Insan Kamil Kebumen, Rabu (22/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di lingkungan pondok pesantren tersebut diikuti ratusan peserta yang berasal dari kalangan santri, mahasiswa, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta masyarakat umum.
Bagi Kabupaten Kebumen yang memiliki potensi besar pada sektor pertanian, perikanan, peternakan, kuliner, hingga ekonomi kreatif, menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan generasi muda menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Bonus demografi yang tengah dinikmati Indonesia akan menjadi modal pembangunan apabila mampu melahirkan sumber daya manusia yang inovatif dan berdaya saing. Sebaliknya, tanpa kesiapan yang memadai, peluang tersebut dapat berubah menjadi tantangan.

Mewakili Wakil Bupati Kebumen Zaeni Miftah yang berhalangan hadir karena agenda kedinasan lain, Kepala Bidang Koperasi dan UKM Disperindag KUKM Kabupaten Kebumen Setyawan Adhi N. membuka seminar tersebut. Ia menyampaikan apresiasi kepada PP KAGAMA dan Pondok Pesantren Mahasiswa Insan Kamil atas inisiatif menghadirkan pendidikan kewirausahaan bagi santri dan mahasiswa.
Menurut Setyawan, penguatan semangat kewirausahaan penting dilakukan agar generasi muda tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, melainkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru.
“Harapannya, setelah mendapatkan pembekalan entrepreneurship, para mahasiswa dan santri tidak lagi hanya bercita-cita menjadi tenaga kerja, tetapi mampu menjadi pencipta lapangan kerja. Dengan demikian, mereka dapat ikut menggerakkan perekonomian daerah sekaligus menyerap tenaga kerja di Kabupaten Kebumen,” ujarnya.
Di barisan tamu undangan hadir pula Mas Yanto Herliyanto yang mewakili PP KAGAMA Bidang Pengabdian Masyarakat dan Pelestarian Lingkungan. Kehadiran organisasi alumni Universitas Gadjah Mada tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan tradisi pendidikan pesantren dengan penguatan kapasitas ekonomi masyarakat melalui kewirausahaan dan pemberdayaan UMKM.

Dalam sambutannya, Mas Yanto Herliyanto menekankan bahwa kewirausahaan tidak semata-mata diukur dari kemampuan memperoleh keuntungan. Lebih dari itu, kewirausahaan merupakan ikhtiar menciptakan nilai tambah, menghadirkan solusi, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pandangan tersebut sejalan dengan semangat pengabdian yang selama ini diusung KAGAMA. Melalui berbagai bidang, termasuk Bidang Pengabdian Masyarakat dan Pelestarian Lingkungan, Bidang Kerja Sama dan Hubungan Antar Lembaga, serta Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan UMKM, organisasi alumni UGM berupaya memperluas kontribusi nyata bagi masyarakat melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan kapasitas generasi muda.
Bagi KAGAMA, pesantren merupakan mitra strategis dalam membangun kemandirian masyarakat. Selain menjalankan fungsi pendidikan agama, pesantren memiliki kekuatan sosial yang besar dalam membentuk karakter, membangun solidaritas, dan mengembangkan ekonomi umat. Karena itu, kolaborasi dengan Pondok Pesantren Mahasiswa Insan Kamil dipandang sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem kewirausahaan santri yang berkelanjutan.
Ketua panitia Afifurrohman mengatakan seminar tersebut dirancang untuk menumbuhkan semangat berwirausaha sejak dini di kalangan santri. Pemahaman tentang bisnis, menurut dia, perlu diperkenalkan sejak awal agar generasi muda memiliki keberanian memulai usaha dan mampu melihat peluang di lingkungan sekitarnya.

Untuk mencapai tujuan itu, seminar menghadirkan pemateri dari PP KAGAMA yang memiliki pengalaman langsung di bidang pemberdayaan masyarakat dan pengembangan UMKM. Among Kurnia Ebo membawakan materi mengenai pemberdayaan masyarakat dan UMKM, sedangkan Edy SR menyampaikan materi tentang branding dan pembangunan personal brand bagi pelaku usaha.
Pemilihan tema tersebut mencerminkan tantangan dunia usaha masa kini. Dalam era ekonomi digital, kemampuan memproduksi barang atau jasa saja tidak cukup. Pelaku usaha juga dituntut mampu membangun identitas merek, memanfaatkan media sosial, memahami pasar digital, serta menciptakan hubungan yang kuat dengan konsumen.
Namun di tengah berbagai perubahan teknologi tersebut, para pemateri mengingatkan bahwa karakter tetap menjadi fondasi utama seorang entrepreneur. Kejujuran, integritas, kedisiplinan, keberanian mengambil risiko, dan kemauan belajar merupakan modal yang tidak tergantikan. Nilai-nilai itu justru telah lama menjadi bagian dari tradisi pendidikan pesantren.

Karena itu, santri dinilai memiliki modal sosial dan moral yang kuat untuk berkembang menjadi pelaku usaha. Mereka tidak hanya diharapkan sukses secara ekonomi, tetapi juga mampu menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.
Pesan tersebut mendapat sambutan positif dari peserta seminar. Salah seorang peserta, Eka, mahasiswa Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama (UMNU), mengaku memperoleh banyak wawasan baru karena materi yang disampaikan para narasumber berangkat dari pengalaman nyata dalam dunia usaha.
Ia mengaku pernah menjalankan usaha celana boxer dan jas hujan, namun sempat mengalami kegagalan. Pengalaman para narasumber mengenai pengembangan UMKM, strategi pemasaran, dan cara menghadapi kegagalan menurutnya memberikan perspektif baru dalam membangun usaha.
“Daya tarik seminar ini adalah materi yang disampaikan berdasarkan pengalaman nyata. Saya mendapat pemahaman yang lebih baik mengenai pengembangan UMKM serta langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi kegagalan,” katanya.
Antusiasme para peserta menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap pendidikan kewirausahaan di lingkungan pesantren terus meningkat. Di tengah keterbatasan lapangan kerja formal, semakin banyak generasi muda yang mulai melihat kewirausahaan sebagai pilihan masa depan yang menjanjikan.

Dari sebuah ruang pertemuan sederhana di Pondok Pesantren Mahasiswa Insan Kamil, upaya menanamkan semangat itu mulai dilakukan. Benih-benih kewirausahaan mungkin belum langsung terlihat hasilnya hari ini. Namun sebagaimana proses pendidikan di pesantren yang menekankan ketekunan dan kesabaran, benih yang ditanam dengan baik akan tumbuh menjadi kekuatan besar di masa depan.
Jika upaya seperti ini terus dilakukan secara konsisten melalui kolaborasi antara pesantren, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan organisasi masyarakat, bukan tidak mungkin dari Kebumen akan lahir generasi santri entrepreneur yang mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM, sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan Indonesia.
