
Menjelajah Jejak Waktu Samarinda: Upaya KAGAMA Kaltim Menghidupkan Memori Kota Lama
SAMARINDA — Di tengah laju modernisasi yang kian cepat, ingatan sebuah kota kerap tergerus oleh waktu. Bangunan berubah, fungsi ruang bergeser, dan generasi berganti. Namun pada Senin (16/6/2026), bertepatan dengan 1 Muharam 1448 Hijriah, sekelompok alumni Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam KAGAMA Kalimantan Timur memilih berhenti sejenak—menoleh ke belakang, menyusuri jejak sejarah Samarinda melalui kegiatan bertajuk “Jelajah Kota Lama Samarinda”.
Sekitar 25 peserta, yang didominasi pengurus KAGAMA Kaltim, mengikuti kegiatan ini dengan satu tujuan yang lebih dalam dari sekadar wisata sejarah: membangkitkan kembali kesadaran kolektif akan pentingnya memelihara narasi masa lalu sebagai fondasi identitas dan inspirasi masa depan.

Wakil Ketua KAGAMA Kaltim, Fauzan Ramon, menegaskan bahwa sejarah bukan sekadar kisah lampau yang tersimpan dalam arsip. Ia adalah energi yang hidup, yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap dirinya sendiri.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak melintasi dimensi waktu, membuka kembali lembaran sejarah Samarinda sebagai salah satu simpul peradaban Nusantara. Menuturkan sejarah adalah cara kita menjaga jati diri bangsa,” ujarnya.
Perjalanan menyusuri kota dipandu oleh Fajar Alam, seorang geolog sekaligus pegiat sejarah yang juga alumni UGM. Dengan narasi yang mengalir, Fajar menghubungkan titik-titik ruang kota menjadi satu kesatuan cerita panjang tentang Samarinda—dari kota tepian sungai hingga menjadi pusat urban modern.
Dari Kayu Ulin hingga Kota Modern
Penelusuran dimulai dari kawasan Citra Niaga, yang kerap disebut sebagai simbol keberhasilan perencanaan kota Indonesia di akhir abad ke-20. Dibangun pada 1987 di tengah geliat ekonomi kayu, kawasan ini menjadi ruang publik yang inklusif—menyatukan pedagang kecil, pelaku usaha, dan masyarakat dalam satu ekosistem sosial. Pencapaiannya bahkan diakui dunia melalui Aga Khan Award for Architecture pada 1989.

Tak jauh dari sana, kawasan yang kini berdiri Hotel Mercure menyimpan cerita lebih tua. Pada akhir abad ke-19, wilayah ini merupakan nadi ekonomi kota. Sungai Mahakam kala itu berfungsi sebagai “jalan raya” utama, dengan aktivitas perdagangan yang membentuk wajah Samarinda awal.
Jejak interaksi lintas budaya terasa kental di Warung Kopi Hai Nan, sebuah kopitiam sederhana yang menjadi titik temu berbagai etnis. Di tempat ini, perbedaan larut dalam percakapan hangat, mencerminkan harmoni sosial yang telah lama menjadi ciri Samarinda.
Ruang Publik dan Memori Kolektif
Kesan nostalgia menguat ketika rombongan tiba di Bioskop Mahakama. Pada era 1970-an hingga 1990-an, tempat ini menjadi pusat hiburan sekaligus ruang sosial yang mempertemukan warga kota. Kini, bangunan itu menjadi pengingat akan masa ketika layar lebar adalah jendela utama menuju dunia luar.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Villa Annie, salah satu bangunan tertua yang masih berdiri. Dibangun pada 1897, rumah kayu ulin ini memadukan arsitektur kolonial, Tionghoa, dan lokal. Lebih dari sekadar bangunan, villa ini menyimpan kisah keluarga Lo Beng Long, yang kelak berkontribusi pada lahirnya Universitas Mulawarman.
Nilai sejarah juga terasa kuat di Kelenteng Thien Ie Kong, rumah ibadah yang telah berdiri lebih dari satu abad. Selain menjadi pusat spiritual, kelenteng ini juga menjadi simbol kontribusi komunitas Tionghoa dalam membangun kehidupan sosial dan ekonomi kota Samarinda.
Pendidikan, Ekonomi, dan Transformasi Kota
Jejak Samarinda sebagai pusat pendidikan terlihat di SMP Negeri 21, yang dulunya merupakan sekolah teknik pada masa kolonial. Keberadaannya menunjukkan bahwa kota ini sejak lama telah menjadi pusat pengembangan keterampilan yang menunjang aktivitas ekonomi regional.
Sementara itu, Jalan Mulawarman menghadirkan gambaran perubahan ruang ekonomi. Di kawasan ini, Fresh Depot menjadi contoh bagaimana ruko-ruko lama bertransformasi menjadi ruang kuliner modern tanpa kehilangan karakter historisnya.

Perubahan paling nyata terlihat di Samarinda Central Plaza (SCP), yang berdiri di atas kawasan bersejarah Pasar Pagi dan pelabuhan lama. Dibuka pada 2001, mal ini menandai pergeseran orientasi kota—dari sungai sebagai pusat aktivitas menuju budaya konsumsi modern.
Perjalanan ditutup di kompleks Balai Bahasa Universitas Mulawarman, lokasi kampus pertama universitas tersebut. Di tempat ini, kisah kedermawanan Dorinawatie Samalo (Ny. Lo Beng Long) kembali diingat—sebuah kontribusi yang menjadi fondasi pendidikan tinggi di Kalimantan Timur sejak 1962.
Menjaga Warisan, Menyusun Masa Depan
Bagi KAGAMA Kaltim, kegiatan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin untuk memahami kembali akar peradaban. Setiap sudut kota lama menyimpan pelajaran tentang keberagaman, adaptasi, dan semangat kolektif yang pernah membawa Samarinda tumbuh dan dikenal luas.

Di tengah arus globalisasi yang kerap mengaburkan identitas lokal, inisiatif semacam ini menjadi penting. Bukan hanya untuk mengenang, tetapi juga untuk merawat kesadaran bahwa masa depan kota tidak dapat dipisahkan dari pemahaman atas masa lalunya.
“Harapannya, generasi muda tidak hanya menjadi penikmat sejarah, tetapi juga penjaga dan penerusnya,” ujar Fajar.
Dari lorong-lorong kota lama Samarinda, pesan itu terasa jelas: bahwa peradaban tidak hanya hidup dalam buku sejarah, tetapi juga dalam ingatan kolektif yang terus dirawat. Dan di sanalah, sebuah kota menemukan jati dirinya. (Dr. apt. Eka Siswanto Syamsul, M.Sc. dan Ir. Fajar Alam, M.Ling)