
KAGAMA Sumut di Garis Depan: Air Bersih, Pendidikan, dan Pemulihan Pascabanjir
MEDAN — Sepekan terakhir, kerja-kerja kemanusiaan di Sumatera bergerak dari tanggap darurat menuju pemulihan awal. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban meninggal akibat bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 1.199 jiwa, dengan 154.973 warga masih mengungsi per 17 Januari 2026; distribusi logistik terus digenjot, termasuk 93,33 ton untuk wilayah Sumut pada periode terbaru. Dalam waktu yang relatif bersamaan, pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup menggugat enam korporasi yang diduga merusak lingkungan dan memicu banjir di tiga kabupaten di Sumut—sebuah penegasan bahwa pemulihan ekosistem di DAS Garoga dan Batang Toru tak dapat ditunda.
Skala bencana di Sumut tampak dari sebaran dampak di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, hingga kawasan pesisir dan hulu sungai; elevasi, kepadatan permukiman di sekitar alur sungai, serta paparan cuaca ekstrem mempertebal risiko. Dokumen risiko bencana Provinsi Sumatera Utara menempatkan banjir dan longsor sebagai ancaman berulang, sementara laporan lapangan memperlihatkan kerusakan jembatan, akses terputus, dan gangguan layanan dasar—kondisi yang menuntut respons lintas pihak, dari pemerintah, dunia usaha, hingga jejaring komunitas.
KAGAMA Sumatera Utara bergerak cepat dan terukur. Sejak awal jalur penyaluran bantuan melalui udara dibuka ke Tapanuli Tengah di akhir November, jaringan alumni UGM ini langsung menyalurkan paket sembako, susu dan makanan bayi, serta obat-obatan untuk disalurkan oleh Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah, dan tak lupa mengirimkan logistik secara khusus kepada para nakes di RS Pandan Tapanuli Tengah yang menjadi salah satu garda terdepan dalam kondisi bencana di sana.

Hari ke-2 banjir bandang menerjang Kabupaten Langkat dan Deli Serdang, KAGAMA SUMUT sigap menyalurkan makanan siap saji ke warga Langkat [Posko Tanjung Pura] menyasar kantong-kantong pengungsian yang kesulitan dapur umum, dan sembako ke masyarakat di Kecamatan Sunggal Kab. Deli Serdang.

KAGAMA SUMUT juga menyalurkan bantuan sembako untuk ±200KK ke Desa Onan Ganjang di Kabupaten Humbang Hasundutan. Desa Onan Ganjang adalah salah satu dari tiga desa yang diterjang banjir akibat jebolnya waduk yang diterjang banjir.

KAGAMA SUMUT juga melanjutkan pengirimkan bantuan senilai ± 100jt ke masyarakat Tukka di Tapanuli Tengah dan masyarakat Garoga di Tapanuli Selatan. Yang disalurkan langsung oleh anggota Kagama Tapanuli Tengah – Sibolga, dan KAGAMA Tapanuli Selatan. Bantuan yang dikirimkan mulai dari sembako, alat-alat kebersihan untuk masyarakat yang mulai kembali ke rumah, dan juga pakaian, peralatan mandi dan peralatan makan.

Di penghujung tahun 2025, Ketua dan Sekretaris KAGAMA SUMUT juga mengantarkan bantuan sembako dan alas tidur untuk masyarakat Desa Babo – Tamiang Hulu di Kabupaten Aceh Tamiang yang secara geografis cukup dekat untuk dijangkau dari Kota Medan. Dan berkesempatan untuk makan bersama menguatkan masyarakat yang terdampak di Desa tersebut.

Penyaluran dihimpun dari donasi alumni dan jejaring, sebuah gotong-royong yang lahir dari kesadaran warga bantu warga; data lapangan KAGAMA mencatat banjir merendam puluhan ribu rumah dan memengaruhi ratusan ribu jiwa di berbagai Kabupaten di Sumatera Utara.
Memasuki fase pemulihan, KAGAMA SUMUT mengarahkan dukungan ke intervensi yang spesifik kebutuhan.
Di Tapanuli Tengah (Kecamatan Pandan), program sumur bor dimulai di dua titik yang telah menyatakan kesiapan—warga berkomitmen menanggung token listrik untuk pompa serta merawat peralatan. Pengerjaan dilakukan bertahap (satu per satu) untuk memastikan kualitas tukang lokal; evaluasi hasil titik pertama akan menjadi dasar perluasan ke titik berikutnya. Pendekatan ini menautkan bantuan peralatan dengan tata kelola komunitas, agar layanan air bersih berumur panjang.
Di Tapanuli Bagian Selatan (Tapsel dan sekitarnya), fokus diarahkan ke kelangsungan belajar anak. KAGAMA SUMUT menunggu daftar final jumlah penerima bantuan alat sekolah dari tim setempat, seraya menyiapkan sekolah darurat—mulai dari kurikulum ringkas hingga tenaga pengajar dari mahasiswa lokal. Skema ini bersifat adaptif: bila Dinas Pendidikan membuka kembali proses belajar-mengajar reguler, dukungan akan dipivot menjadi distribusi school kit; kebutuhan ini sejalan dengan pergeseran fokus bantuan pascabencana yang kini tak hanya logistik dasar tetapi juga pemulihan layanan sosial, sebagaimana tren di lapangan.
Khusus warga relokasi Garoga (Tapsel), KAGAMA SUMUT merancang bantuan matras [alas tidur] apabila rumah sementara (huntara) yang disiapkan pemerintah telah tersedia—komplemen terhadap percepatan pembangunan huntara yang ditargetkan rampung sebelum Ramadhan oleh otoritas kebencanaan. Peralihan dari tenda ke hunian sementara, lalu ke hunian tetap, menuntut detail dukungan yang praktis namun berdampak—mulai alas tidur, air bersih, hingga peralatan sekolah—agar keluarga bisa kembali pada rutinitas dasar secara bermartabat.
Tentu, pemulihan pascabencana tak berhenti pada penyaluran bantuan. Gugatan pemerintah atas dugaan perusakan lingkungan oleh korporasi menegaskan bahwa pemulihan ekologis dan penegakan tanggung jawab harus berjalan paralel dengan rehabilitasi sosial-ekonomi warga. Narasi kebijakan—mulai dari audit perizinan, penataan ruang, hingga pengelolaan DAS—menjadi pagar agar tragedi serupa tak berulang; desakan masyarakat sipil agar korporasi menanggung biaya eksternalitas memperkuat argumen bahwa beban pemulihan tidak semestinya ditumpu publik semata.
Ke depan, kerja KAGAMA SUMUT akan bertumpu pada tiga poros: (1) menyelesaikan sumur bor titik pertama di Tapteng lalu memperluas ke titik kedua, dan titik-titik selanjutnya sejalan dengan komitmen warga dalam pemeliharan peralatan (2) menyalurkan alat sekolah dan mengaktifkan sekolah darurat jika diperlukan, serta (3) menyiapkan matras untuk warga relokasi Garoga begitu huntara tersedia. Seluruh langkah menunggu review lapangan dan koordinasi dengan pemerintah daerah, sekaligus memanfaatkan jendela waktu yang dikejar otoritas bencana untuk pemulihan awal.
Dalam lanskap risiko yang tak sederhana, pilihan KAGAMA SUMUT untuk mengikat bantuan dengan komitmen warga, kualitas kerja, dan keberlanjutan layanan memberi pelajaran penting: di tengah bencana besar, ketepatan intervensi kerap lebih menentukan daripada sekadar besarnya bantuan.