Meneropong Kesehatan Mental dalam Organisasi

Oleh: Muhamad Ali**

Sakit membuat setiap diri kita makin sadar dan merasakan pentingnya kesehatan fisik. Pandemi Covid-19 membuat kombinasi pentingnya menjaga, tidak hanya fisik, tetapi juga psikis. Lalu, bagaimana organisasi —bisnis maupun birokrasi— mendeteksi status kesehatan yang tidak kasat mata ini?

Status kesehatan fisik dapat dilihat dan dirasakan oleh setiap orang. Apakah terdapat gangguan fisik atau tidak, orang itu sendirilah yang dapat merasakannya. Sementara, gangguan psikis, seringkali justru tidak dirasakan dan dipikirkan oleh orang yang mengalaminya. Orang-orang di sekelilingnyalah yang merasakan pertama kali efeknya.

Pandemi Covid-19 telah membuat batas ketahanan fisik kita ikut bobol dan memengaruhi cara berpikir dan mentalitas kita. Kita punya pandangan atau pengetahuan bersama bahwa Covid-19 adalah flu yang disebabkan oleh virus, dan fakta menunjukkan bahwa sakit yang diakibatkannya dapat disembuhkan. Namun, kenyataan bahwa virus ini telah menjadi pandemi global yang berkepanjangan telah membuat mentalitas setiap orang menjadi sangat letih.

Dan kalau kita lihat fenomenanya, gelombang kedua penularan virus ternyata telah membuat kita semua kian letih, lantaran harus menghadapi kematian yang semakin dekat. Lebih-lebih lagi, tidak ada satu negara pun yang dapat mengklaim bahwa metode ini paling berhasil, atau negara ini paling sukses menangani. Semuanya bersifat “trial and trial and trial”, dan kita berada pada kondisi yang relatif sama. Trial selalu berisiko pada kemungkinan error.

Semakin dekat orang-orang yang terpapar berasal dari lingkungan terdekat dengan diri kita masing-masing. Mulai dari lingkaran di dalam keluarga, lingkaran di dalam tempat kerja, sampai dengan lingkaran di sekeliling tempat tinggal kita. Artinya, kita makin menghadapi risiko semakin tinggi untuk dapat terpapar sewaktu-waktu, tanpa tahu lagi dari mana sumber virus berasal. Kondisi seperti itu tentu membawa tekanan mental yang semakin besar. Belum lagi ketika orang-orang di dalam lingkaran terdekat itu tidak dapat terselamatkan dan akhirnya berpulang akibat terpapar Covid-19.

Kesehatan Mental

Kondisi fisik itu terbatas, tetapi mentalitas tidak. Fisik bisa saja lemah, tetapi psikislah yang menjadi sumber penentu apakah fisik kita menjadi kuat atau melemah. Maka, mentalitas, posisinya justru lebih penting dalam situasi tekanan seperti pandemi saat ini.

Tantangannya adalah bagaimana kita membangun mentalitas yang kuat di dalam organisasi, manakala anggota di dalamnya —staf, supervisor, manager, sampai dengan pimpinan— ternyata menderita keletihan yang serempak akibat tekanan eksternal pandemi Covid-19. Mungkinkah kita bisa membangun atau menciptakan suatu mekanisme dan sistem kerja yang mampu mengurangi tekanan mental yang berlebihan?

Saya mengambil pendekatan yang paling sederhana dalam mengukur kesehatan: alat ukur atau indikator. Apabila kesehatan fisik dapat diukur dengan metode atau indikator tertentu, maka kesehatan mental pun sebenarnya dapat diukur dengan metode atau indikator tertentu yang banyak dikembangkan dalam disiplin ilmu psikologi.

Indikator-indikator itulah yang semestinya makin banyak diaplikasikan atau diterapkan sehingga setiap organisasi memiliki gambaran yang utuh atas fenomena kesehatan mental para pegawai/pekerjanya. Dalam situasi di mana pandemi telah membatasi aktivitas fisik kita, maka tes-tes online akan banyak membantu memotret kondisi kesehatan mental organisasi tersebut.

Oleh karena itu, para manajer HRD/HCM semakin dituntut untu bekerja lebih keras, justru ketika organisasi sedang berada pada kondisi abnormal akibat pandemi. Mereka harus mampu membangun seperangkat instrumen yang dengan cepat mampu memotret kondisi mentalitas orang di dalam organisasi, sekaligus memberikan rekomendasi bagaimana cara mengatasi setiap kondisi, mulai dari kondisi yang paling ringan sampai yang paling berat, dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling kompleks.

Saya melihat bahwa kesehatan mental organisasi -dan para pegawai/pekerjanya tentu saja—sering terlupakan dalam pengelolaan organisasi, justru karena kita sedang fokus karena kita menempatkan seolah-olah pandemi Covid-19 adalah urusan yang sifatnya kesehatan fisik belaka. Padahal, kita sudah melihat dan mengalaminya sendiri, efek pandemi ini telah menjalar sangat dalam sampai pada cara berpikir dan mentalitas kita.

Catatan:

*) Tulisan pernah dimuat pada portal https://langit7.id/ tanggal 4 Agustus 2021. Atas permintaan penulis untuk dimuat kembali di laman kagama.id untuk Kagama Human Capital

**) Penulis adalah alumnus Fakultas Hukum UGM, praktisi human capital, dan Komisaris Pertamina EP