Tiga Tokoh Berbeda Ilmu Bicara Kesiapan Ketenagakerjaan Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Sabtu (12 /6/2021) pukul 14:00 – 16:30 WIB, PP Kagama bekerja sama dengan Kementrian Ketenagakerjaan RI menyelenggarakan seminar nasional daring yang mengangkat topik “Kesiapan Ketenagakerjaan Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0”, sekaligus launching portal Kagamakarir.id melalui melalui aplikasi Zoom Meetings. Webinar menghadirkan 3 narasumber yaitu Anwar Sanusi (Sekjen Kemenaker RI), Ratri Sryantoro Wakeling (Wakil Direktur Utama PT Hotel Sahid Jaya Tbk), dan Analisa Widyaningrum (Psikolog dan CEO APDC Indonesia). Sebagai keynote speaker adalah Ganjar Pranowo (Ketua Umum PP Kagama) dan Ida Fauziyah (Menteri Ketenagakerjaan RI). serta Budi Karya Sumadi (Menteri Perhubungan RI) dan Panut Mulyono (Rektor UGM) berkenan memberikan kata sambutan. Jalannya acara dipandu oleh Brigita Manohara (Presenter TV One) sebagai moderator.

Dunia global sedang dalam masa Revolusi Industri 4.0. Revolusi yang membawa pada era disrupsi teknologi dalam berbagai bidang termasuk di dalamnya bidang ketenagakerjaan. Massifnya penggunaan teknologi untuk meraih efisiensi dalam pekerjaan membuat sejumlah pekerjaan lama dikerjakan manusia berganti rupa dengan pekerjaan menggunakan teknologi mutakhir seperti artificial Intelligent atau kecerdasan buatan, cloud computing, big data analytics dan internet of things.

Seiring dengan hal tersebut, Indonesia sedang mengalami bonus demografi, di mana 70 % penduduk Indonesia berada pada usia produktif kerja dan mencapai puncaknya pada tahun 2025 – 2030. Bonus demografi ini merupakan keuntungan yang harus dimaksimalkan oleh bangsa Indonesia. Namun, banyak angkatan kerja masih lulusan tingkat pendidikan sekolah dasar (SD). Hal ini menjadi tantangan sekaligus ancaman bagi masa depan Indonesia.

Ganjar Pranowo

Dalam kapasitasnya sebagai keynote speaker, Ganjar Pranowo menyampaikan apreasiasi launching dan kegiatan seminar nasional kesiapan ketenagakerjaan ini. Kesiapan tenaga kerja harus dimaksimalkan dengan berbekal kemampuan dan potensi pada tiap individu agar siap menghadapi revolusi industri 4.0. Seiring juga hadirnya bonus demografi yang sedang dialami oleh Indonesia. Sehingga, dua hal tersebut harus dimanfaatkan untuk masa depan Indonesia.

“Kemampuan individu dalam memadukan kreativitas dan inovasi sehingga melahirkan produk yang menarik. Senada dengan bonus demografi yang terjadi Indonesia hingga tahun 2045 bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, saya yakin dan optimis, Indonesia akan memenangkan pertempuran dalam menghadapi era revolusi industri 4.0.” pungkas pria lulusan Fakultas Hukum UGM tersebut.

Ida Fauziyah, Menteri Tenaga Kerja

Senada dengan Ganjar, keynote speaker kedua, Ida Fauziyah mengatakan Revolusi Industri 4.0 merupakan era teknologi yang membutuhkan penciptaan skill baru dan mengembangkan pola pikir baru. Kementrian Ketenagakerjaan mencatat ada 12 substansi baru yang dihadirkan oleh revolusi industri 4.0. diantaranya, sharing economy, automation, augmented reality, multigenerational workforce, 3D printing, customised product, internet of things, big data, wealth distribution, digitalization, artificial intelligence, dan competition for talents.

“Kesemua substansi baru tersebut mengubah tatanan dunia kerja di masa depan dengan menitik beratkan pekerjaan pada waktu dan ruang yang fleksibel. Tuntutan peningkatan mobilitas dalam bekerja yang didalamnya diperlukan literasi digital, penambahan soft skills, peningkatan kompetensi dan produktivitas.” ungkap Ida Fauziyah.

Kemenaker mencatat profil ketenagakerjaan umum Indonesia per Februari 2021, Jumlah angkatan kerja 139,8 Juta jiwa dengan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) 68,08 % dengan rincian 131 Juta penduduk bekerja dan 8,7 juta penggangguran terbuka. Dilihat dari tingkat pendidikan para pekerja masih didominasi oleh lulusan sekolah dasar (SD) diangkat 37,41 %. Sehingga mempengaruhi posisi Indonesia dalam Human Capital Index 2020 berada pada peringkat 96 di dunia jauh dibawah Singapura (peringkat 1), Vietnam (peringkat 38), Malaysia (peringkat 62), Thailand (peringkat 63).

“Hal tersebut membuat pemerintah RI mengeluarkan visi pembangunan SDM sebagai kunci dalam memajukan Indonesia. Kemenaker mengeluarkan strategi menghadapi revolusi industri 4.0 dengan mendorong percepatan penggunaan teknologi digital dan online. Kemenaker telah menyiapkan strategi untuk dapat berperan dalam proses link & match pasar kerja melalui pelatihan vokasi yang dijalankan, melakukan transformasi pada BLK, dan memperbaiki ekosistem tenaga kerja melalui perbaikan pada regulasi dan mengakomodir isu-isu baru terkait ketenagakerjaan.” demikian pungkas Ida Fauziyah.

Anwar Sanusi, Sekjen Kemenaker RI

Narasumber pertama, Sekjen Kemenaker RI, Anwar Sanusi memaparkan angkatan kerja Indonesia banyak bekerja di sektor informal dengan persentase 59,62 % dan sektor formal 40,38%. Keterampilan SDM Indonesia menduduki peringkat 4 di Asia Tenggara. Indonesia membutuhkan langkah tepat untuk menggenjot SDM yang unggul, diantaranya melalui pendekatan digitalisasi.

“Walaupun secara global, daya saing digital Indonesia masih berada pada peringkat 56 dari 63 negara, Indonesia memiliki tantangan besar dalam memperbaiki kelemahan dalam pilar knowledge terutama pada training and education.” ucap Anwar.

Ratri Sryantoro Wakeling

Dari dunia industri, narasumber kedua Ratri Sryantoro Wakeling menjelaskan pandemi Covid-19 membuat sebagian perusahaan mempercepat adopsi digitalisasi proses bisnis. Adopsi digitalisasi dan otomasi memicu lahirnya penciptaan lapangan kerja baru dan menghilangkan lapangan kerja lama. Jenis pekerjaan yang tercipta akan membutuhkan skill service yang bersifat analitik, kognitif dan non-rutin. Perusahaan mengambil pendekatan pragmatis dengan mengkombinasikan cara melakukan reskilling dan upskilling.

“Di beberapa industri, transisi cross-sector dapat menjadi reskilling workforce. Peran perusahaan sangat penting dalam proses reskilling menuju pembentukan learning agility. Hal tersebut coba dikolaborasikan oleh APINDO bersama Kemenaker dengan memaksimalkan pemanfaatan BLK (Balai Latihan Kerja) untuk meningkatkan kapasitas persaingan perusahaan dan link and match dengan dunia industri.” demikian Ratri mengakhiri paparannya.

Analisa Widyaningrum

Pandangan agak berbeda dari sudut psikologi diberikan oleh narasumber terakhir, Analisa Widyaningrum yang menjelaskan hadirnya revolusi industri 4.0 juga melahirkan pemahaman baru pada psikologis pekerja dalam menghadapi tantangan pekerjaan. What we’ll learn is understanding of what happening and what we need to prepare, begitulah ungkapan dalam menghadapi era disrupsi sekarang ini. Kolaborasi menjadi kunci penting dalam menghadapi tantangan tersebut.

“Pertanyaan yang muncul di mana posisi Indonesia dalam era disrupsi juga masih dipertanyakan. Problematika persebaran tenaga kerja yang tidak merata, kurangnya tenaga kerja yang mumpuni dan keterampilan yang terbatas menjadi persoalan yang harus segera diselesaikan.” imbuh perempuan lulusan Fakultas Psikologi UGM tersebut.

“Dengan persentase 67 % pekerja milenial, Indonesia memiliki potensi sebagai negara dengan generasi digital native yang mumpuni. Persiapan yang maksimal harus ditata sebaik mungkin. Kolaborasi tim yang mampu mendukung digital transformasi. Menguatkan mental tenaga kerja dan membentuk mindset teknologi tidak menggantikan manusia melainkan membantu manusia.” pungkas Analisa. [arma]

*) Materi selengkapnya bisa disaksikan di Youtube Kagama TV:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*