Kagama Aroid Talk: Pengendalian Hama & Penyakit Pada Tanaman Hias

Minggu (31/10/2021), PP KAGAMA bersama Kagama Aroid menyelenggarakan webinar melalui Zoom Meetings bertema Kagama Aroid Talk mengangkat topik berjudul “Pengendalian Hama & Penyakit Pada Tanaman Hias”. Webinar menghadirkan dua narasumber yaitu Prof. Dr. Ir. Triwidodo Arwiyanto, M.Sc. (Guru Besar Ilmu Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM) dan Dr. Suputa, S.P., M.Sc. (Dosen Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM). Kata sambutan disampaikan oleh Anak Agung Gede Putra (Ketua Bidang 6 PP KAGAMA), dan jalannya acara dipandu oleh Wahyu Tri Widayanti, S.Hut., M.P dan Eka Kurniatanti.

Prof. Dr. Ir. Triwidodo Arwiyanto, M.Sc.

Narasumber pertama, Prof. Triwidodo Arwiyanto menampilkan materinya dengan judul “Penyakit pada Tanaman Hias Daun dan Pengelolaannya”. Tanaman hias merupakan tumbuhan yang mencakup semua jenis baik berbentuk terna, merambat, semak, perdu, ataupun pohon yang sengaja ditanam sebagai komponen taman, kebun rumah, penghias ruangan, upacara, komponen riasan / busana, atau sebagai komponen karangan bunga.

“Tanaman hias tidak dapat terhindarkan dari penyakit tumbuhan. Penyakit tumbuhan muncul karena interaksi antara pathogen tumbuhan, tanaman, dan lingkungan. Gejala yang muncul bisa berupa kelainan morfologi atau fisiologi karena serangan patogen. Penyebabnya dapat berupa jamur, bakteri, virus dan nematoda.” ungkap Prof. Triwidodo.

Menurutnya ada beberapa jenis penyakit tumbuhan, di antaranya penyakit busuk akar / busuk batang, penyakit bercak daun, penyakit embun tepung yang dapat disebabkan oleh organisme jamur dan bakteri. Penyakit tumbuhan juga dapat disebabkan oleh virus. Pengelolaan menjadi kunci utama agar tanaman hias terhindar dari serangan penyakit.

“Pengelolaan tersebut dapat berupa penyediaan drainase yang baik, mengurangi kelembaban di sekitar tanaman hias, rutin menyiram di pagi hari dan membuang dedaunan yang berjatuhan di sekitarnya, dan memberikan sirkulasi udara yang baik sekitar tanaman. Namun pengelolaan penyakit tanaman yang disebabkan virus cukup sulit karena tanaman yang terkena virus tidak dapat sembuh sehingga satu-satunya pilihan adalah membuang tanaman tersebut dan mengganti dengan yang baru”, pungkas Prof. Triwidodo.

Dr. Suputa, S.P., M.Sc.

Narasumber kedua, Suputa, memaparkan materi yang berjudul “Pengenalan dan Pengendalian Hama Tanaman Hias Ramah Lingkungan”. Pengelolaan hama secara berkelanjutan dengan memadukan berbagai cara pengendalian (mekanik, kultur Teknik, fisik, biologi, dan kimia) yang relevan dan sesuai dengan kondisi lingkungan serta sosial budaya setempat dalam rangka memperkecil risiko ekonomi, kesehatan dan lingkungan. Beberapa macam hama utama tanaman hias di antaranya siput, keong, kutu putih, kutu daun, thrips, ulat, kutu perisai dan uret. Kehadiran insektisida botani menjadi solusi yang berdampak rendah terhadap lingkungan.

Suputa menambahkan, insektisida nabati misalnya menggunakan bahan kimia alami (racun serangga) yang diekstraksi dari tumbuhan. Hama siput misalnya bisa dibasmi dengan mengaplikasikan campuran 2 umbi bawang putih dan minyak sayur 0,4 liter yang didiamkan selama satu hingga dua hari. Kemudian, saring bawang putih dan tambahkan 3 ml cairan pencuci piring. Sebanyak 15 ml cairan tersebut ditambahkan 1 liter air, selanjutnya disemprotkan pada siput atau area yang terdapat siput.

“Kutu daun dapat dibasmi dengan campuran 2,5 kg bubuk akar tuba, 400 ml air dan 5 ml cairan sabun cuci yang kemudian disemprotkan pada kutu daun tersebut. Kutu putih dapat dibasmi dengan daun tanaman quassia sebanyak 50 g dicampur ke dalam 1 liter air dan dipanaskan hingga mendidih selama 1 jam. Kemudian, ditambahkan segenggam tembakau dan didiamkan selama 12 jam. Aplikasinya perlu ditambahkan lagi 5 liter air dan 3 ml sabun cair. Selanjutnya disemprotkan dengan tekanan pada kutu putih. Ulat dibasmi dengan daun mimba yang dikeringkan karena sinar UV matahari dapat memecah kandungan azadirachtin. Daun yang sudah kering ditumbuh sampai halus kemudian ditambkan 10 liter air pada setiap satu genggam bubuk daun lalu diamkan selama 12 hingga 24 jam. Terakhir disaring dan diaplikasikan formulasi ini segera pada sore hari”, pungkas Suputa. [arma]

*) Materi selengkapnya bisa disaksikan di Youtube Kagama Channel:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*