Jambore Gambar: Cinta Lingkungan Hidup bersama Bukit Asam

Minggu (1/11/2020) Kagama Care bersama Tlatah Bocah menggandeng PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membuat acara webinar lewat Zoom dengan judul “Jambore Gambar: Cinta Lingkungan Hidup bersama Bukit Asam”. Ada 3 narasumber yang tampil yaitu Anisa Cahya Ningrum (psikolog parenting), Joseph Wiyono (dosen seni rupa ISI Yogyakarta), dan Susilo Adinegoro (pendiri Sanggar Anak Akar Jakarta). Dari pihak Bukit Asam hadir 2 orang perwakilan yaitu Riza Pranata dan Adi Arti.

Sebenarnya webinar yang turut didukung oleh Rumah Alumni UGM dan Alpad 88 (Alumni SMAN 3 Padmanaba Yogyakarta angkatan 1988) tersebut masih merupakan satu rangkaian dengan kegiatan kontes lukis nasional anak usia SD yang diselenggarakan oleh Tlatah Bocah pada periode 20 Juli s/d 15 September 2020 yang lalu. Pemenang sudah diumumkan pada tanggal 30 Oktober 2020 dan webinar kali ini adalah semacam pameran secara online ratusan karya lukis yang diikutkan lomba. Puncak acaranya adalah pameran karya-karya yang menjadi pemenang secara fisik, dengan tujuan untuk diapresiasi oleh publik. Lokasi pameran rencananya di Yogyakarta, sedangkan mengenai waktu akan ditentukan kemudian.

Riza Pranata dan Adi Arti

Karena audiensnya anak-anak, perwakilan dari PTBA memberikan paparannya secara story telling atau mendongeng. Riza Pranata dan Adi Arti tampil secara berbarengan bercerita kepada anak-anak perihal Bukit Asam dalam kaitannya dengan ikut menjaga kelestarian lingkungan hidup. Salah satu langkah yang ditempuh PTBA adalah melakukan reklamasi dan revegetasi. Jadi lahan bekas tambang diurug lebih dahulu baru kemudian dilakukan revegetasi, yaitu penanaman kembali tanaman pada lahan bekas tambang. Tujuannya agar tidak menjadi genangan yang terbengkalai dan ekosistem hutan tetap terjaga.

Di lokasi bekas tambang yang sudah ditanami, PTBA membuat apa yang dinamakan Eco Edu Zoo Park sebagai tempat untuk belajar merawat tanaman, pembuatan kompos, belajar flora fauna, sekaligus sekalian rekreasi keluarga berupa kegiatan camping dan outbond. Lalu bisa juga untuk media pembelajaran terkait lingkungan.

PTBA ingin menunjukkan anggapan selama ini jikalau pertambangan merusak lingkungan adalah salah. Tambang bisa menjadi ramah lingkungan, tergantung cara kita mengelolanya. Hal itu dibuktikan dengan berhasilnya PTBA mengembangkan kota wisata Tanjung Enim, di mana lokasi PTBA berada. Di Tanjung Enim dibangun museum tambang atau miniatur tambang sebagai tempat pembelajaran mengelola tambang sampai ke kegiatan pengelolaan lingkungannya.

PTBA juga memberikan pembinaan dan pelatihan kepada penduduk sekitar tambang agar lebih mandiri dan meningkatkan taraf perekonomian. Pelatihan yang sudah dilakukan adalah cara membuat teh rosella, membuat batik kujur khas Tanjung Enim, dan pengolahan ikan.

PTBA tetap konsisten tumbuh berkembang bersama lingkungan, serta kinerjanya berkelanjutan dengan memadukan antara faktor manusia dengan alam. Apa yang dilakukan PTBA semuanya adalah bertujuan untuk merawat alam dan lingkungan agar lebih baik lagi. Dalam rangka mengelola energi ramah lingkungan, PTBA mengembangkan energi terbarukan berupa listrik tenaga matahari. Bukan hanya buat kepentingan internal perusahaan namun peruntukannya juga buat masyarakat.

Susilo Adinegoro

Narasumber pertama, Susilo Adinegoro membicarakan seni sebagai media pendidikan karakter anak dan menumbuhkan daya kreatifitas anak. Sejatinya seni sudah harus ditumbuhkembangkan sejak dari rumah dan di sekolah tinggal memupuknya. Bicara seni, Susilo jadi teringat Ki Hajar Dewantoro dengan Taman Siswanya yang menekankan seni keindahan itu bagian dari integral dari proses pendidikan karakter anak. Ki Hajar menyebut tempat belajar sebagai taman yang mengajak anak-anak ikut merawatnya dengan pendekatan keindahan. Keindahan tidak hanya tertuang dalam seni rupa, namun melibatkan juga seni suara, seni pertunjukan, dsb.

Seni juga berfungsi sebagai penyeimbang antara otak kiri dan kanan, sehingga hidupnya menjadi seimbang. Susilo menyebut Y.B. Mangunwijaya atau Romo Mangun memakai konsep tersebut dan menjadikan sekolah Mangunannya sebagai laboratorium.

Tumbuh kembangnya anak akan ditentukan dari dasar dan seyogyanya mendapatkan lingkungan yang terbaik. Ki Hajar mengatakan kampus utama anak-anak adalah di rumah dan mahaguru utama buat anak adalah keluarga, orang tua beserta lingkungan sekitarnya.

Sedangkan Romo Mangun mengatakan anak-anak adalah pemilik masa depan, sehingga pendidikan haruslah memandang anak sebagai subyek, bukan obyek. Susilo menyatakan bahwa masih jamak saat ini memperlakukan anak sebagai obyek pendidikan. Untuk itu ia mengajak semua melakukan refleksi sejauh mana orang tua memfasilitasi tumbuh kembang anak dan mau menerima apa yang dimaui oleh anak.

Pendidikan yang memerdekakan berangkat dari rumah yang memantik anak untuk bereksplorasi menemukan jati dirinya. Semuanya harus dilakukan dengan penuh kegembiraan. Jika dirasa ada beban dan membuat anak justru tidak bahagia, maka artinya pasti ada yang keliru. Karena pendidikan dasar itu harus membawa anak pada kegembiraan dan kebahagiaan serta memantik segala bentuk kreatifitas.

Anisa Cahya Ningrum

Anisa Cahya Ningrum, selaku narasumber kedua membahas bagaimana mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Lewat seni dan lingkungan akan kita lihat bagaimana anak-anak tumbuh optimal bukan hanya membesar saja secara fisik, tapi juga harus memperhatikan aspek kognitif, emosi, sosial, moral dan psiko seksual.

Manfaat seni dan lingkungan hidup bagi tumbuh kembang anak dari aspek fisik dan kognitif meliputi menstimulasi motorik halus dan kasar, mengasah kecerdasan, mengasah kemampuan spasial, melatih konsentrasi, mengasah daya ingat, mengasah kreativitas, mengasah kepekaan indrawi, dan melatih problem solving.

Lalu dari aspek sikap dan perilaku manfaat seni dan lingkungan meliputi melatih ketekunan, melatih kesabaran, melatih tanggung jawab, melatih disiplin, melatih kerja sama, meningkatkan kepercayaan diri, menanamkan moralitas, mengasah sportivitas, melatih kepekaan & empati, dan mengajakar toleransi budaya.

Yang terakhir dan juga penting adalah bagaimana anak bisa mengekspresikan diri seperti melatih ekspresi emosi, menjadi media bermain, mengasah fantasi, mengajarkan keindahan, mengasah kelembutan, menciptakan kegembiraan, melatih keberanian.

Lalu sebagai orang tua apa yang harus kita lakukan? Pertama, kita harus mampu menjadi contoh atau role model. Kita tidak bisa asal menyuruh saja sementara kita sendiri tidak melakukannya. Lalu jangan lupa kegembiraan anak terkait dengan emosi yang mereka miliki yang juga terpancar dari emosi kita. Penting harus mengontrol emosi agar anak tidak merasa tertekan. Kegembiraan kita akan menjadi vibrasi bagi kegembiraan anak.

Berikutnya, biarkan anak-anak bergerak. Karena di usia dini perkembangan pertama otaknya adalah perkembangan emosi dan gerak. Jangan lupa selalu memberikan support kepada anak atau fasilitas kepada mereka untuk beraktifitas.

Kemudian berikutnya berikan pengertian kepada anak bahwa kita bisa saja salah, gagal atau kalah. Mengalami ketiga hal tersebut justru bisa membuat mendewasakan dan menguatkan mereka. Dari kesemuanya itu buatlah aturan yang fleksibel tidak usah terlalu baku, karena saat ini bukan jamannya lagi kita mengungkung anak.

Joseph Wiyono

Narasumber terakhir, Joseph Wiyono seni lukis bagi anak dalam berbagai aspek bisa saling mengisi, saling mengerti, dan saling support dengan orang tua. Buat orang tua barangkali bisa dijadikan instrospeksi apabila selalu memaksakan anak harus menang dalam lomba lukis. Orang tua tidak perlu menunjukkan kekecewaannya apabila si anak tidak juara. Biarkan lewat seni (lukis) anak-anak bermain, dan menunjukkan kegembiraan, kejujuran, dan kepolosan. Intervensi yang sifatnya kurang baik sebaiknya dihindari.

*) Materi webinar bisa dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=mvS8__IKAsI

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*