RAJA AMPAT – Komitmen dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan mendukung rehabilitasi kawasan mangrove di Kabupaten Raja Ampat terus diperkuat melalui kolaborasi berbagai pihak. Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan, BPDAS Remu Ransiki menyerahkan bantuan 900 bibit mangrove kepada mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) yang sedang melaksanakan pengabdian di Kabupaten Raja Ampat.
Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala BPDAS Remu Ransiki, Zayinul Farhi, alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1997, didampingi Danang Jatmiko Wahyu Wijaya, alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 2002. Penyerahan bibit ini menjadi bentuk dukungan terhadap program pemberdayaan masyarakat yang diinisiasi mahasiswa KKN-PPM UGM sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, alumni, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan pesisir.
Sebanyak 900 bibit mangrove tersebut akan didistribusikan dan ditanam di tiga lokasi KKN-PPM UGM di Kabupaten Raja Ampat, yakni Kampung Samate, Distrik Salawati Utara; Kampung PAM, Distrik Waigeo Barat Kepulauan; serta Kampung Bonkawir, Distrik Waisai. Pelaksanaan penanaman dilakukan secara bertahap, dengan sebagian kegiatan dilaksanakan pada akhir Juli dan sisanya pada awal Agustus, menyesuaikan kesiapan masing-masing lokasi serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat melalui mekanisme swadaya (cost sharing). Skema ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap tanaman yang ditanam sehingga pemeliharaan dapat dilakukan secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat.

Kepala BPDAS Remu Ransiki, Zayinul Farhi, menyampaikan bahwa rehabilitasi mangrove merupakan salah satu langkah strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Menurutnya, mangrove memiliki peran yang sangat penting sebagai benteng alami pantai dari ancaman abrasi, intrusi air laut, dan dampak perubahan iklim, sekaligus menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan, kepiting, udang, dan biota laut lainnya yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir.
“Mangrove bukan sekadar pohon yang tumbuh di pesisir. Mangrove adalah benteng kehidupan. Ketika kita menanam mangrove hari ini, sesungguhnya kita sedang menyiapkan perlindungan bagi garis pantai, menjaga keanekaragaman hayati, sekaligus mewariskan lingkungan yang lebih baik kepada generasi mendatang. Kami berharap adik-adik KKN-PPM UGM bersama masyarakat dapat menjadikan kegiatan ini sebagai awal dari gerakan konservasi yang terus berlanjut,” ujar Zayinul Farhi.
Sementara itu, Danang Jatmiko Wahyu Wijaya menegaskan bahwa keterlibatan alumni UGM dalam mendukung kegiatan mahasiswa KKN merupakan bentuk nyata semangat pengabdian yang tidak pernah berhenti setelah menyelesaikan pendidikan di kampus. Menurutnya, kolaborasi lintas generasi alumni bersama mahasiswa akan memberikan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.
“Mahasiswa KKN hadir bukan hanya untuk menjalankan program kerja selama beberapa minggu, tetapi juga menumbuhkan semangat gotong royong dan kesadaran lingkungan di tengah masyarakat. Kami berharap bibit yang disalurkan hari ini dapat tumbuh dengan baik dan menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah, alumni, mahasiswa, dan masyarakat dalam menjaga Raja Ampat,” ungkap Danang.

Program penanaman mangrove ini tidak hanya berorientasi pada rehabilitasi kawasan pesisir, tetapi juga menjadi media edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem mangrove sebagai penyangga kehidupan. Dengan melibatkan masyarakat sejak tahap penanaman hingga pemeliharaan, diharapkan akan tercipta rasa tanggung jawab bersama sehingga manfaat dari program ini dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Bagi mahasiswa KKN-PPM UGM, kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan mampu menjadi katalisator lahirnya berbagai inisiatif pemberdayaan yang berkelanjutan, termasuk dalam bidang konservasi lingkungan.
Sinergi yang terjalin antara BPDAS Remu Ransiki, alumni Fakultas Kehutanan UGM, mahasiswa KKN-PPM UGM, pemerintah kampung, serta masyarakat Raja Ampat menjadi contoh nyata bahwa pelestarian lingkungan hanya dapat berhasil apabila dikerjakan secara bersama-sama. Semangat gotong royong dan kepedulian terhadap alam menjadi fondasi utama dalam menjaga kekayaan hayati Raja Ampat yang dikenal sebagai salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia.
Melalui penyerahan 900 bibit mangrove ini, diharapkan hamparan-hamparan mangrove baru mulai tumbuh di berbagai wilayah Raja Ampat melalui rangkaian penanaman yang berlangsung sejak akhir Juli hingga awal Agustus. Akar-akar mangrove yang kelak menguatkan pesisir akan menjadi saksi bahwa kolaborasi, kepedulian, dan pengabdian mampu menghadirkan perubahan nyata bagi kelestarian alam Indonesia.


Jadilah yang pertama untuk berkomentar