Di Batas Negeri, Mahasiswa UGM, Undana, dan DIT Merajut Kerja Sama Indonesia–Timor Leste
Program KKN kolaborasi internasional di Kabupaten Belu dan wilayah perbatasan Timor Leste menjadi ruang baru diplomasi antar negara warga . Dari desa-desa perbatasan, mahasiswa lintas negara belajar tentang pembangunan, budaya, kesehatan, pangan, lingkungan, dan perdamaian.
ATAMBUA, RABU — Perbatasan Indonesia dan Timor Leste tak lagi semata dipandang sebagai garis pemisah antarnegara. Di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, batas itu kini menjadi ruang temu pengetahuan, kebudayaan, dan pengabdian masyarakat. Melalui Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat atau KKN-PPM, Universitas Gadjah Mada bersama Universitas Nusa Cendana dan Dili Institute of Technology mulai merintis model kolaborasi internasional yang mempertemukan mahasiswa Indonesia dan Timor Leste di beranda depan kedua negara.

Gagasan KKN kolaborasi internasional ini merupakan kelanjutan dari rangkaian komunikasi akademik dan diplomasi pendidikan antara UGM dan Timor Leste. Dalam dokumen KKN-PPM UGM Kabupaten Belu 2026 disebutkan, inisiatif tersebut berawal dari pertemuan Rektor UGM Prof dr Ova Emilia dengan alumni UGM di Timor Leste pada 20 Maret 2025. Pertemuan itu dipandang sebagai momentum strategis untuk menggali kerja sama internasional, termasuk rencana pelaksanaan KKN-PPM di wilayah tertinggal Timor Leste. Gagasan tersebut juga terhubung dengan kunjungan Rektor UGM ke Timor Leste pada 2025 serta kuliah tamu Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta di UGM pada tahun yang sama.
Tahun ini, inisiatif itu mulai mengambil bentuk lebih konkret. Sebanyak 30 mahasiswa KKN-PPM UGM ditempatkan di Kabupaten Belu dan berkolaborasi dengan 33 mahasiswa KKN Universitas Nusa Cendana. Mereka tersebar di tiga desa perbatasan, yakni Desa Sadi dan Desa Tulakadi di Kecamatan Tasifeto Timur serta Desa Dualaus di Kecamatan Kakuluk Mesak. Setiap desa menjadi lokasi pengabdian bersama 10 mahasiswa UGM dan 11 mahasiswa Undana.
Di sisi lain perbatasan, Dili Institute of Technology atau DIT melaksanakan International Community Service Programme di Desa Sanirin, Timor Leste, sekitar 10 kilometer dari Pos Lintas Batas Negara Mota’ain. Tim DIT terdiri atas 35 mahasiswa dari lima fakultas dan 12 program studi, termasuk mahasiswa dari bidang pariwisata, manajemen, akuntansi, teknik sipil, teknik mesin, ilmu komputer, petroleum studies, serta dua mahasiswa MBA bidang manajemen keuangan. Mereka didampingi 25 dosen.
Pertemuan koordinasi pada Rabu, 8 Juli 2026, menjadi salah satu simpul penting kerja sama itu. Pertemuan tersebut mempertemukan mahasiswa KKN UGM, tim penelitian dan pengabdian kepada masyarakat Cross Border Partnership Sekolah Pascasarjana UGM, DIT Timor Leste, Bapperida Belu, Satgas KKN Kagama Belu, dan Satgas KKN Kagama Timor Leste. Agenda utamanya ialah menyelaraskan rencana forum diskusi terpumpun atau FGD, penelitian, serta pengabdian masyarakat di wilayah Belu dan Timor Leste.
Kolaborasi ini juga terhubung dengan program Cross Border Partnership RI–RDTL yang diinisiasi Sekolah Pascasarjana UGM sejak 2024. Program tersebut dirancang sebagai kerja jangka panjang di kawasan perbatasan. Peta jalan Cross Border Partnership 2024-2030 memuat tahapan penguatan profil desa, penyusunan masterplan, rencana kerja pemerintah desa, implementasi program prioritas, hingga pengembangan sistem informasi pembangunan desa. Pada 2025, program pengabdian masyarakat CBP SPs UGM telah berkolaborasi dengan KKN UGM-Undana dalam pendampingan penyusunan profil desa di wilayah perbatasan RI-RDTL.
Pada 2026, ruang kolaborasi diperluas. Program CBP SPs UGM tidak hanya berupa pengabdian, tetapi juga penelitian dengan tema lingkungan, pangan, kesehatan, budaya, ketahanan nasional, konservasi budaya, pengembangan ekonomi, serta penguatan potensi lokal berbasis teknologi terapan dan keberlanjutan lingkungan. Dokumen program mencatat adanya sinergi KKN-PPM UGM, penelitian SPs UGM, hibah Equity PkM, dan kegiatan pendampingan masterplan desa.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini bukan sekadar menjalankan program kerja. Mereka memasuki ruang belajar yang kompleks: desa perbatasan dengan persoalan infrastruktur, kesehatan, sanitasi, lingkungan, pangan, ekonomi lokal, pariwisata, identitas budaya, dan mobilitas lintas negara. Tema besar KKN-PPM UGM 2026 di Belu ialah “Pemberdayaan Masyarakat Wilayah Perbatasan melalui Penguatan Ketahanan Lingkungan, Kesehatan Komunitas, dan Pengembangan Potensi Lokal Berkelanjutan” di Desa Dualaus, Sadi, dan Tulakadi.

Rencana program kerja pun disusun lintas-klaster. Mahasiswa UGM berasal dari empat klaster keilmuan, yakni sains-teknologi, sosial-humaniora, agro, dan medika. Dokumen program mencatat 30 mahasiswa UGM dengan lebih dari 150 rencana program kerja. Program unggulan meliputi pengembangan wisata alam dan budaya lokal berkelanjutan, peningkatan pola hidup sehat melalui gizi seimbang dan edukasi pencegahan penyakit, peningkatan kualitas lingkungan untuk ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal, digitalisasi terpadu untuk pembangunan wilayah, serta Festival Perbatasan.
Di sektor wisata dan budaya, program diarahkan pada penguatan potensi lokal, antara lain pengembangan kawasan wisata religi Patung Bunda Maria di Teluk Gurita, penanaman mangrove, pemetaan lokasi pariwisata, pelatihan pemandu wisata komunitas, konservasi temuan arkeologi di Tasifeto Timur, dan digital storytelling untuk promosi wisata. Dalam bidang kesehatan, program mencakup edukasi keamanan pangan, gizi anak, pencegahan penyakit, kesehatan remaja, skrining sanitasi, edukasi HIV, praktik sikat gigi bersama, serta optimalisasi status gizi balita.
Sementara itu, isu lingkungan dan ketahanan pangan dijawab melalui program seperti pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan, pengelolaan pertanian lahan kering berbasis mulsa organik, instalasi pemanen air hujan Gama Rainfilter, pemetaan lahan pertanian pangan berkelanjutan, penanaman pohon, serta edukasi perilaku hidup bersih dan sehat. Dalam ekonomi lokal dan digitalisasi, mahasiswa menyiapkan pendampingan branding produk lokal, sistem manajemen UMKM, pemetaan pasar, pemanfaatan QRIS, pemetaan kualitas sinyal internet, storymaps desa, serta integrasi informasi fasilitas kesehatan.
Agenda terdekat akan berlangsung pada 13, 14, dan 15 Juli 2026. Mahasiswa KKN UGM bersama Bapperida Belu dijadwalkan mengadakan FGD Perencanaan Desa di Desa Dualaus, Tulakadi, dan Sadi. Pemerintah daerah akan mengundang organisasi perangkat daerah terkait. Mahasiswa KKN DIT dari Timor Leste juga diajak hadir untuk belajar bersama mengenai perencanaan desa di wilayah perbatasan.
Rangkaian itu akan dilanjutkan dengan kunjungan Tim CBP SPs UGM dan mahasiswa KKN UGM ke Timor Leste pada 16 Juli 2026. Sehari kemudian, 17 Juli 2026, akan digelar Seminar Kolaborasi Internasional UGM dan DIT di Dili Institute of Technology. Kehadiran mahasiswa dan akademisi lintas negara diharapkan memperluas wawasan global peserta sekaligus mempererat jejaring akademik dan sosial di wilayah perbatasan.
Tidak berhenti pada seminar, kolaborasi akan memasuki tahap implementasi lapangan pada 22–24 Juli 2026. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Cross Border Partnership Sekolah Pascasarjana UGM bersama mahasiswa KKN Kolaborasi UGM–Undana–DIT dan Fakultas Vokasi Logistik Militer (FVLM) Universitas Pertahanan akan melaksanakan kegiatan pencarian sumber air bersih serta konservasi mangrove di wilayah perbatasan. Program tersebut menjadi bagian dari upaya menjawab persoalan nyata masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan kawasan pesisir dan daerah rawan kekeringan.
Dimensi internasional kegiatan ini menjadi semakin relevan setelah Timor Leste resmi diterima sebagai anggota ke-11 ASEAN pada 26 Oktober 2025 dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-47. ASEAN menyebut penerimaan Timor Leste sebagai puncak dari proses panjang setelah negara itu mengajukan keanggotaan pada 2011, memperoleh status pengamat pada 2022, dan mengikuti peta jalan menuju keanggotaan penuh pada 2023.
Dalam konteks itu, KKN kolaborasi UGM-Undana-DIT bukan hanya kegiatan pengabdian mahasiswa, melainkan juga bentuk diplomasi sosial di tingkat akar rumput. Hubungan Indonesia dan Timor Leste dibangun tidak hanya melalui meja perundingan, tetapi juga melalui perjumpaan mahasiswa, dosen, pemerintah daerah, alumni, dan masyarakat desa. Di perbatasan, diplomasi tidak selalu hadir dalam bahasa protokoler; ia tumbuh lewat kerja bersama menanam pohon, memetakan desa, mendampingi UMKM, merawat budaya, dan membahas masa depan kampung.
Peran alumni UGM yang tergabung dalam Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada atau Kagama juga menjadi penopang penting. Satgas KKN Kagama NTT, Kagama Belu, dan Kagama Timor Leste aktif membantu koordinasi dan fasilitasi kegiatan. Dalam dokumen program, Kagama Timor Leste disebut sebagai salah satu mitra eksternal yang mendukung jejaring kerja lintas negara bersama perguruan tinggi di Timor Leste.
Pada akhirnya, inisiatif ini menempatkan Belu dan wilayah perbatasan Timor Leste sebagai ruang bersama. Bukan halaman belakang, melainkan serambi depan kedua negara. Dari Sadi, Tulakadi, Dualaus, hingga Sanirin, mahasiswa belajar bahwa pembangunan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Ia membutuhkan kepercayaan, kesetaraan, dan kemauan untuk mendengar.
Di batas negeri, KKN menjadi lebih dari sekadar kewajiban akademik. Ia menjadi latihan kewargaan global, jembatan persahabatan, dan ikhtiar kecil menjaga perdamaian antarbangsa. Jika terus dirawat, kolaborasi ini dapat menjadi model pengabdian masyarakat lintas negara yang tidak hanya menghasilkan dokumen, publikasi, dan teknologi tepat guna, tetapi juga memperkuat rasa saling percaya antara masyarakat Indonesia dan Timor Leste.