UGM Merawat Harapan dari Pedalaman Aceh Tamiang

UGM Merawat Harapan dari Pedalaman Aceh Tamiang

Dipimpin Rektor Ova Emilia dan didukung berbagai unit strategis universitas, UGM menghadirkan hunian sementara, dukungan pendidikan, dan pendampingan masyarakat sebagai bagian dari pemulihan pascabencana di Kampung Sekumur.

ACEH TAMIANG, KAGAMA— Perjalanan menuju Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, tidak sekadar membawa rombongan Universitas Gadjah Mada (UGM) ke lokasi terdampak banjir bandang. Perjalanan itu sekaligus menegaskan kembali jati diri UGM sebagai universitas nasional kerakyatan yang menempatkan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian tak terpisahkan dari misi pendidikannya. Di wilayah pedalaman yang mengalami kerusakan paling parah akibat banjir bandang pada November 2025 itu, kampus hadir bukan hanya membawa bantuan, melainkan juga harapan untuk bangkit kembali.

Pada 5 Juli 2026, UGM bersama Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) menyerahkan secara simbolis 26 unit hunian sementara (huntara) kepada warga terdampak bencana di Kampung Sekumur. Namun, bagi para penyintas, rumah-rumah tersebut bukan bangunan yang baru diresmikan. Sebagian besar telah lebih dahulu ditempati setelah warga berbulan-bulan tinggal di tenda pengungsian akibat rumah mereka hancur diterjang banjir. Peresmian itu menjadi penanda bahwa proses gotong royong yang dibangun sejak masa tanggap darurat telah menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kehadiran UGM di Aceh Tamiang dipimpin langsung oleh Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D. Turut mendampingi dalam rombongan tersebut Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., Sekretaris Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Dr. Djarot Heru Santosa, M.Hum., Kepala Kantor Alumni UGM drh. Retno Murwanti, M.P., Ph.D., serta Kepala Biro Manajemen Strategis UGM Wirastuti Widyatmanti, S.Si., Ph.D. Keterlibatan para pimpinan dari berbagai unit tersebut menunjukkan bahwa respons kemanusiaan yang dilakukan UGM bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan kerja institusional yang mengintegrasikan pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, jejaring alumni, dan perencanaan strategis universitas dalam mendukung pemulihan pascabencana.

Bagi Ova Emilia, pemilihan Kampung Sekumur tidak dilakukan secara kebetulan. Sebelum memutuskan lokasi bantuan, UGM bersama Kagama Aceh melakukan pemetaan dan analisis lapangan untuk mengidentifikasi wilayah yang mengalami kerusakan paling berat dan membutuhkan prioritas penanganan. Hasilnya, Sekumur menjadi salah satu kawasan yang dinilai paling terdampak sekaligus sulit dijangkau, sehingga membutuhkan perhatian khusus.

“Daerah ini yang terdampak paling parah sehingga memerlukan bantuan dan sulit dijangkau. Karena itu kami memfokuskan bantuan di sini,” kata Ova Emilia saat penyerahan huntara.

Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan yang selama ini menjadi ciri UGM dalam menjalankan pengabdian masyarakat, yakni berangkat dari kebutuhan riil masyarakat yang didukung kajian lapangan. Dalam konteks kebencanaan, kampus tidak hanya hadir ketika perhatian publik sedang tinggi, tetapi juga berupaya menjawab persoalan yang muncul pada fase pemulihan, ketika masyarakat membutuhkan pendampingan jangka panjang untuk membangun kembali kehidupannya.

Sebanyak 26 huntara yang dibangun di Sekumur menjadi simbol paling nyata dari upaya tersebut. Menariknya, sebagian material bangunan berasal dari kayu-kayu yang hanyut saat banjir dan kemudian dimanfaatkan kembali. Dari sisa-sisa kehancuran, lahir ruang hidup baru yang kini menjadi tempat bernaung puluhan keluarga penyintas. Bagi masyarakat, huntara bukan sekadar bangunan sementara, melainkan fondasi awal untuk memulai kembali kehidupan yang sempat porak-poranda akibat bencana.

Namun bagi UGM, pembangunan huntara hanyalah satu bagian dari proses pemulihan yang lebih besar. Kampus melihat bahwa bencana tidak hanya menghancurkan rumah-rumah penduduk, tetapi juga mengganggu pendidikan anak-anak, memutus sumber mata pencaharian, dan melemahkan daya tahan sosial masyarakat. Karena itu, berbagai program pendukung dijalankan secara paralel, termasuk perbaikan sekolah dan penyediaan perlengkapan pendidikan bagi siswa terdampak bencana di Aceh Tamiang dan Aceh Timur.

Peran berbagai unit di lingkungan UGM menjadi penting dalam upaya tersebut. Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni membuka ruang bagi keterlibatan mahasiswa dan alumni dalam proses pendampingan masyarakat. Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat memastikan program yang dijalankan memiliki kesinambungan dan dampak jangka panjang. Kantor Alumni memperkuat jejaring lulusan UGM untuk menghimpun dukungan dan sumber daya. Sementara Biro Manajemen Strategis memastikan berbagai program berjalan selaras dengan misi besar universitas dalam memberikan manfaat bagi masyarakat.

Komitmen UGM juga tidak berhenti pada pembangunan fisik dan bantuan pendidikan. Dalam kunjungannya ke Aceh Tamiang, Ova Emilia menegaskan bahwa universitas berencana mengirim mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik untuk membantu masyarakat menghadapi fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Kehadiran mahasiswa diharapkan dapat mendukung masyarakat merancang solusi jangka panjang sekaligus memperkuat ketangguhan warga menghadapi potensi bencana di masa mendatang.

Pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana UGM menjalankan tridarma perguruan tinggi secara utuh. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan dipertemukan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Kampus tidak hanya menjadi tempat lahirnya pengetahuan dan inovasi, tetapi juga ruang yang menghasilkan solusi bagi kehidupan publik.

Apa yang dilakukan UGM di Aceh Tamiang sesungguhnya merupakan refleksi dari sejarah panjang universitas tersebut sejak berdiri pada masa awal Republik Indonesia. Sebagai kampus yang lahir dari semangat kebangsaan, UGM dibangun dengan keyakinan bahwa ilmu pengetahuan harus memberi manfaat bagi rakyat. Nilai itu terus hidup hingga kini dan menemukan bentuk konkretnya dalam berbagai kerja kemanusiaan, termasuk di Kampung Sekumur.

Di balik 26 huntara yang kini berdiri di pedalaman Aceh Tamiang, tersimpan cerita yang lebih besar daripada pembangunan rumah sementara. Ada kolaborasi antara universitas, alumni, pemerintah daerah, dan masyarakat. Ada keterlibatan Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D.; Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si.; Dr. Djarot Heru Santosa, M.Hum.; drh. Retno Murwanti, M.P., Ph.D.; serta Wirastuti Widyatmanti, S.Si., Ph.D., bersama para dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan jaringan alumni UGM yang bergotong royong menghadirkan solusi bagi masyarakat terdampak bencana.

Di Kampung Sekumur, anak-anak kembali memiliki ruang yang lebih aman untuk belajar. Orang tua perlahan mulai menata kembali kehidupan dan penghidupan mereka. Harapan yang sempat tergerus banjir mulai tumbuh kembali. Dari pedalaman Aceh Tamiang, UGM menunjukkan bahwa esensi sebuah universitas bukan hanya mencetak lulusan dan menghasilkan ilmu pengetahuan, tetapi juga merawat kemanusiaan melalui tindakan nyata.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat pascabencana, kehadiran UGM menjadi pengingat bahwa kampus tidak hanya berdiri di ruang akademik. Ia juga harus hadir di tengah masyarakat, terutama ketika mereka menghadapi masa-masa paling sulit. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah perguruan tinggi bukan hanya terletak pada capaian akademiknya, melainkan pada sejauh mana ilmu pengetahuan, kepedulian, dan pengabdian dapat dihadirkan untuk kepentingan kemanusiaan.