Di Sekumur, Huntara Menjadi Rumah bagi Harapan yang Tersisa
ACEH TAMIANG, KAGAMA — Ketika banjir bandang menerjang Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, pada akhir November 2025, yang hanyut bukan hanya rumah-rumah warga. Bersama derasnya arus air, lenyap pula rasa aman, sumber penghidupan, dan kepastian tentang hari esok. Berbulan-bulan setelah bencana berlalu, sejumlah keluarga masih bertahan di tenda pengungsian dengan segala keterbatasannya. Dalam situasi itulah, 26 unit hunian sementara (huntara) yang dibangun Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) hadir membawa makna yang jauh melampaui fungsi fisiknya sebagai tempat berteduh.

Pada Ahad (5/7/2026), UGM dan Kagama secara simbolis menyerahkan 26 unit huntara kepada warga terdampak bencana di Kampung Sekumur. Namun bagi para penyintas, rumah-rumah itu bukanlah bangunan yang baru diresmikan. Sebagian besar telah mereka tempati lebih dahulu karena kebutuhan mendesak untuk meninggalkan tenda darurat yang selama berbulan-bulan menjadi tempat mereka bertahan hidup. Seremoni penyerahan lebih merupakan penanda bahwa gotong royong yang dibangun berbagai pihak akhirnya berwujud nyata dalam kehidupan masyarakat.
Di salah satu huntara yang berdiri sederhana itu, Sariyah (60) merasakan perubahan yang mungkin terdengar sepele bagi kebanyakan orang, tetapi sangat berarti bagi penyintas bencana: bisa tidur nyenyak.
Sebelum memperoleh huntara, ia tinggal di tenda pengungsian setelah rumahnya rusak diterjang banjir. Panas siang dan hujan malam menjadi bagian dari keseharian yang harus diterima. Kondisi tersebut membuat kesehatannya menurun. Tubuhnya menjadi lebih rentan terserang penyakit.
“Kami bersyukur sekali. Dulu kami masih di tenda. Sekarang sudah dapat rumah ini, rasanya bisa tidur nyenyak, tidak kepanasan dan tidak kena hujan lagi,” tutur Sariyah.

Kalimat itu sederhana, tetapi menyiratkan kebutuhan paling mendasar manusia setelah bencana: rasa aman. Ketika segala sesuatu hilang dalam sekejap, kemampuan untuk tidur tanpa khawatir diterpa hujan atau terbangun karena panas yang menyengat menjadi kemewahan yang tak ternilai.
Perjuangan Sariyah tidak berhenti pada kehilangan tempat tinggal. Untuk membersihkan rumahnya yang tertimbun lumpur dan material banjir, ia bahkan harus menjual seluruh aset transportasi milik keluarga. Dana sekitar Rp 11 juta habis untuk mengeruk timbunan tanah yang menutupi rumah mereka. Bencana tidak hanya merobohkan bangunan, tetapi juga menguras sumber daya yang selama bertahun-tahun dikumpulkan keluarga.
Pengalaman serupa dirasakan Mardiah (40). Jika Sariyah kehilangan kenyamanan hidup, Mardiah kehilangan sumber penghidupan. Perkebunan sawit yang menjadi tumpuan ekonomi keluarganya rusak diterjang banjir bandang. Di kawasan pedalaman seperti Sekumur, kebun sawit bukan sekadar lahan usaha, tetapi juga sumber biaya pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, sekaligus tabungan keluarga. Ketika kebun rusak, masa depan keluarga ikut terancam.
Karena itu, bagi Mardiah, huntara menghadirkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar bangunan.
“Senang sekali. Rasanya sudah terbantu karena sekarang ada tempat tinggal. Dulu kami menunggu di tenda, sekarang sudah ada rumah. Rasanya bersyukur sekali atas bantuan yang diberikan,” ujarnya.

Bagi para penyintas, huntara menjadi titik awal untuk kembali menata kehidupan. Sulit berbicara tentang pemulihan ekonomi, pendidikan anak, atau kesehatan keluarga ketika tempat tinggal yang layak saja belum tersedia. Karena itu, huntara menjadi fondasi pertama dalam proses rehabilitasi yang lebih panjang.
Kampung Sekumur dipilih sebagai lokasi prioritas setelah UGM dan Kagama Aceh melakukan pemetaan terhadap wilayah terdampak. Kawasan ini dinilai sebagai salah satu daerah dengan kerusakan paling parah sekaligus paling sulit dijangkau. Bahkan hingga kini, berbagai infrastruktur dasar masih membutuhkan perbaikan untuk mendukung proses pemulihan masyarakat.
Sebanyak 26 huntara dibangun dengan memanfaatkan sebagian kayu yang hanyut saat banjir. Kayu-kayu yang sebelumnya menjadi saksi kehancuran itu kemudian diolah kembali menjadi rumah-rumah sederhana yang kini menaungi kehidupan baru para penyintas. Di tengah keterbatasan akses dan material, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dari kemampuan memanfaatkan apa yang masih tersisa untuk membangun harapan baru.
Lebih dari itu, kehadiran huntara di Sekumur memperlihatkan makna kemanusiaan yang lebih luas. Kampung ini berada di pedalaman Aceh Tamiang, jauh dari pusat-pusat kota. Namun keterpencilan tersebut tidak membuat warganya terlupakan. Sivitas akademika dan alumni UGM dari berbagai daerah bergotong royong mengumpulkan dukungan untuk membantu masyarakat yang bahkan sebagian besar tidak pernah mereka kenal sebelumnya.

Di sinilah nilai UGM sebagai universitas kerakyatan menemukan bentuk nyatanya. Sejak didirikan pada masa awal republik, UGM memegang mandat untuk mengabdi kepada masyarakat melalui ilmu pengetahuan. Dalam konteks Sekumur, semangat itu hadir bukan dalam bentuk konsep akademik atau penelitian semata, melainkan dalam aksi nyata membantu warga bangkit dari bencana. Kagama kemudian memperluas daya jangkau pengabdian tersebut melalui jaringan alumninya yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Sekretaris Jenderal PP Kagama Nezar Patria menyebut pembangunan huntara merupakan hasil gotong royong alumni UGM dari berbagai daerah. Selain membangun hunian sementara, Kagama juga membantu perbaikan sekolah, penyediaan perlengkapan pendidikan, dan berbagai kebutuhan masyarakat terdampak di Aceh Tamiang maupun Aceh Timur.
Yang bekerja di balik pembangunan huntara itu sesungguhnya bukan hanya tenaga dan material, melainkan nilai persaudaraan kebangsaan. Ketika warga di pedalaman Aceh memperoleh dukungan dari jaringan masyarakat sipil, akademisi, dan alumni yang datang dari berbagai penjuru tanah air, yang tampak adalah wajah Indonesia yang saling menjaga satu sama lain. Dalam konteks tersebut, UGM dan Kagama menjalankan peran penting sebagai perekat keindonesiaan—menghubungkan kepedulian, ilmu pengetahuan, dan semangat gotong royong dalam satu tindakan kemanusiaan yang konkret.

Meski demikian, pekerjaan rumah pemulihan masih panjang. Banyak warga kehilangan kebun sawit, tanaman kelapa, serta sumber mata pencaharian lainnya. Setelah kebutuhan dasar tempat tinggal mulai terpenuhi, tantangan berikutnya adalah membangun kembali fondasi ekonomi masyarakat agar mereka dapat kembali mandiri. Warga berharap bantuan pemulihan berlanjut melalui penyediaan bibit tanaman, rehabilitasi lahan pertanian, dan perbaikan infrastruktur yang masih rusak.
Di Sekumur, huntara mungkin hanya bangunan sederhana berdinding papan. Namun bagi Sariyah, Mardiah, dan puluhan keluarga penyintas lainnya, bangunan itu menyimpan makna yang jauh lebih besar daripada ruang untuk berteduh. Ia menjadi simbol bahwa di tengah kehilangan, masih ada kepedulian yang menjangkau. Di tengah keterpencilan, masih ada solidaritas yang datang. Dan dari sebuah kampung kecil di pedalaman Aceh Tamiang, gotong royong kembali menunjukkan dirinya sebagai wajah paling nyata dari Indonesia