Guyub di Perantauan, Menjaga Nyala Indonesia: KAGAMA Singapura Pererat Ikatan Alumni di Parc Esta

Guyub di Perantauan, Menjaga Nyala Indonesia: KAGAMA Singapura Pererat Ikatan Alumni di Parc Esta

Sore itu, Minggu, 17 Mei 2026, Parc Esta di Singapura terasa hangat oleh suasana kekeluargaan yang kental. Lebih dari 60 alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) lintas fakultas dan angkatan berkumpul dalam sebuah temu yang sederhana namun sarat makna: menjaga tali persaudaraan di tanah rantau. Dalam balutan semangat guyub, rukun, dan migunani, Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Singapura kembali menghadirkan ruang bagi para anggotanya untuk saling menyapa, berbagi cerita, sekaligus merawat rasa kebangsaan.

Acara diawali dengan ramah tamah dan registrasi peserta. Percakapan ringan mengalir di antara para alumni yang datang dari beragam latar profesi—mulai pekerja profesional, akademisi, hingga pelaku usaha. Di sela suasana santai itu, panitia juga membagikan nomor undian, menambah nuansa hangat sekaligus membangun antusiasme untuk kegiatan selanjutnya.

Tepat pukul 14.00 waktu setempat, Hymne Gadjah Mada berkumandang, membuka rangkaian kegiatan secara resmi. Lagu itu seolah menjadi pengikat emosional yang mengingatkan pada satu muara yang sama: kampus kerakyatan di Yogyakarta. Sambutan pembuka disampaikan oleh Rahman, panitia bidang sarana dan prasarana. Ia mengingatkan bahwa jarak geografis tidak boleh memudarkan kedekatan batin dengan Indonesia.

“Di mana pun kita berada, kita tetap bagian dari Indonesia. Persatuan dan kecintaan pada tanah air harus terus kita jaga,” ujarnya, disambut anggukan para peserta.

Rangkaian acara kemudian berlanjut dengan pemaparan dari pengurus KAGAMA Singapura, Rere dan Aninda, yang dimoderatori Prima dan Sugiyanto. Dalam presentasi tersebut, tergambar perkembangan komunitas alumni yang kian solid. Sejak dibentuk pada 5 November 2019, grup ini telah menghimpun 233 anggota, didominasi alumni angkatan 2000–2009, dengan latar belakang fakultas yang beragam.

Lebih dari sekadar angka, komunitas ini menunjukkan dinamika kegiatan yang hidup. Dokumentasi yang ditampilkan memperlihatkan beragam aktivitas yang telah dilaksanakan selama beberapa tahun terakhir—dari temu kangen, nonton bersama, dan yoga, hingga kegiatan edukatif di Sekolah Indonesia Singapura. Tak hanya itu, kepedulian sosial juga menjadi bagian penting, seperti bakti sosial ke panti asuhan di Batam yang akan kembali digelar dalam edisi kedua pada November 2026.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan urban Singapura, kegiatan-kegiatan tersebut menjadi oase yang menghadirkan kembali suasana akrab ala kampus. Mereka bukan sekadar bernostalgia, tetapi juga membangun jejaring, berbagi peluang, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Suasana semakin semarak saat sesi permainan dan kuis dimulai. Pertanyaan seputar UGM dan wawasan kebangsaan memancing gelak tawa sekaligus memantik ingatan kolektif. Di sinilah terlihat bahwa kebersamaan tidak hanya dibangun melalui percakapan serius, tetapi juga melalui tawa dan interaksi ringan yang mempererat ikatan.

Momen kebersamaan mencapai puncaknya saat seluruh peserta menikmati hidangan bersama. Menu khas Indonesia dan jajanan tradisional tersaji, membawa para alumni “pulang sejenak” ke tanah air melalui rasa. Di sudut acara, Mas Untung, sang barista andalan, meracik kopi khas Nusantara—aroma robusta dan arabika yang familiar menambah kehangatan suasana.

Bagi banyak peserta, momen-momen sederhana seperti ini justru menjadi esensi dari pertemuan. Di tengah rutinitas dan tantangan hidup di luar negeri, keberadaan komunitas yang solid menjadi penopang emosional sekaligus sumber energi baru.

Lebih jauh, gathering ini juga menjadi ruang refleksi bagi keberlanjutan organisasi. Menjelang berakhirnya masa kepengurusan KAGAMA Singapura periode 2021–2026, diskusi mengenai arah dan regenerasi kepengurusan menjadi penting. Para alumni tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang ingin terus tumbuh dan memberi manfaat.

Pada akhirnya, kegiatan ini menegaskan bahwa KAGAMA bukan sekadar wadah alumni, melainkan ruang hidup yang menghubungkan nilai-nilai kampus dengan realitas global. Dari Parc Esta, semangat itu kembali diteguhkan: bahwa sejauh apa pun melangkah, akar kebangsaan tetap terjaga melalui kebersamaan.

Di perantauan, mereka tidak sekadar bertahan—mereka saling menguatkan. Dan dari kebersamaan itu, Indonesia terus menyala, jauh dari tanahnya, tetapi dekat di hati.

Provide your feedback on BizChatPerantauan: KAGAMA Singapura Gelar Gathering Alumni di Parc Esta